Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

064. أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيُخْرِجَكَ مِنْ سِجْنِ وُجُودِكَ إِلَى فَضَاءِ شُهُودِكَ.

Allah memberikan kepadamu (warid kurnianya) supaya engkau keluar/terlepas dari kurungan bentuk kejadian dan sifat-sifatmu, ke alam luar yang berupa ma’rifat mengenal kebesaran kekuasaan dan kurnia Tuhanmu. Dalam tiga pelajaran berkenaan dengan warid (kurnia Tuhan) yang pertama diberikan kepadamu, supaya kau ringan melakukan taat ibadat dan mendekat ke hadirat Allah, tetapi kemungkinan masih kurang ikhlas, maka diturunkan warid yang kedua untuk melepaskan dari tujuan kepada sesuatu selain Allah, sedang warid yang ketiga untuk melepaskan dirimu dari sifat-sifat wujud yang sempit kepada alam melihat kebesaran Tuhan yang tidak terbatas, sehingga lupa kepada diri dan hanya ingat kepada Allah semata-mata.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

039. اهْتَدَى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ، وَالْوَاصِلُونَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ، فَالْأَوَّلُونَ لِلْأَنْوَارِ وَهٰؤُلاَءِ الْأَنْوَارُ لَهُمْ، لِأَنَّهُ لِلَّهِ لاَ لِشَيْءٍ دُونَهُ، قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.

Orang-orang shalih (yang menuju kepada Allah) telah men- dapatkan hidayat dengan nur (pelita) ibadat yang merupakan amalan untuk tagarrub (mendekat) kepada Allah, sedang orang-orang yang telah sampai, mereka tertarik oleh nur yang langsung dari Tuhan bukan sebagai hasil ibadat, tetapi semata-mata kurnia rahmat Allah. Maka orang-orang shalih menuju ke alam nur, sedangkan yang telah sampai berkecimpungan di dalam nur, sebab orang yang telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain Allah. Sebagai firman Allah :

قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ (الأنعام: ٩١)

Katakanlah : Allah, kemudian biarkan yang lain-lain di dalam kesibukan mereka berkecimpung (bermain-main). Hakikat tauhid itu bila telah tidak melihat pengaruh-pengaruh sesuatu selain Allah, dan inilah yang bernama haqqul-yagin, dan melihat, merasa adanya pengaruh dari suatu selain Allah itu hanya permainan belaka, dan itu bersifat penipuan atau munafik. Katakanlah : Allah, yakni jangan menganggap/melihat ada sesuatu selain Allah yang dapat kau harap, kau takuti atau berkuasa sebab semua harapan kepada sesuatu selain Allah berarti syirik, terang atau samar, besar atau kecil dalam pengertian syirik hampir tiada berbeda.

Hikam Ibnu 'Atoillah

097. الطَّيُّ الْحَقِيقِيُّ أَنْ تُطْوَى مَسَافَةُ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ.

Singkatnya jalan yang sesungguhnya, ialah jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. Ath-thayyu : Terlipatnya bumi, sehingga jarak yang sejauh- jauhnya dapat ditempuh dengan satu langkah sudah sampai. Ath-thayyu, juga berarti menghabiskan masa siang malam dengan sembahyang dan puasa semata-mata. Dalam lain keterangan Ibn Atha Allah berkata : Andaikan nur keyakinan itu telah terbit terang dalam hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi ke sana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi oleh suramnya kerusakan/kehancuran yang bakal menimpa kepadanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

073. مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللهِ بِمُلاَطَفَاتِ الْإِحْسَانِ قِيدَ إِلَيْهِ بِسَلاَسِلِ الاِمْتِحَانِ.

Siapa yang tidak suka menghadap (mendekat) kepada Allah dengan halusnya pemberian kurnia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (bala'). Siapa yang tidak suka sadar dzikir kepada Allah ketika sehat afiat dan murah rizqi, maka akan dipaksa supaya dzikir ingat kepada Allah dengan tibanya bala' bencana. maka dalam kedua hal itu Allah berkenan akan menuangkan nikmat kurnia yang sebesar-besarnya kepada hambaNya.

Disalin