Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

005. اِجْتِهَادُكَ فِيمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيرُكَ فِيمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيرَةِ مِنْكَ.

Kerajinanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, disamping keteledoranmu terhadap kewajiban- kewajiban yang telah diamanatkan (ditugaskan) kepadamu, membukti- kan butanya mata hatimu.

Firman Allah :

وَكَأَيِّن مِّن دَابَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (العنكبوت: ٦٠)

*Beberapa banyak binatang yang melata yang tidak sanggup membawa rizginya (makanan kebutuhannya), Allah yang menjamin rizqinya, juga terhadap kamu”. (S. Al-Ankabuut 60)

Firman Allah :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ (طه : ١٣٢)

Perintahkan kepada keluargamu supaya sembahyang, dan sabarlah dalam melaksanakannya, Kami (Allah) tidak menuntut kamu supaya mencari rizki, Kami (Allah) yang menjamin rizkimu, dan akibat (kemenangan yang terakhir) bagi orang yang bertakwa”.

(S. Thaha 132).

Kerjakan apa yang menjadi kewajibanmu terhadap Kami, dan Kami melengkapi bagimu bagian Kami. Disini ada dua : satu, yang dijamin oleh Allah, maka jangan menuduh (su’udhan) terhadap Allah Kedua, yang dituntut oleh Allah, maka jangan kau abaikan .

عَبْدِي أَطِعْنِي فِيمَا أَمَرْتُكَ وَلَا تُعَلِّمْنِي مَا يُصْلِحُكَ

Hambaku taatilah semua perintah-Ku, dan jangan memberitahu kepada-Ku apa yang baik bagimu, (atau jangan mengajari kepada- Ku apa yangmenjadi hajat kebutuhanmu). Mengapakah orang-orang mengagungkan orang yang kaya, pemboros dan menghina ahli-ahli ibadat, dan mengikuti tuntunan Qur’an hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, sedang yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya ditinggalkan (diabaikan), padahal yang demikian itu berarti mempercayai sebagian kitab Allah, dan mengabaikan (kafir) terhadap sebagian isi kitab Allah. Mereka berusaha untuk mencapai apa-apa yang dapat dicapai tanpa usaha yaitu bagian yang pasti tiba dan ajal yang tertentu, dan rizki yang menjadi bagiannya, tetapi tidak berusaha untuk mencapai apa yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha, yaitu pahala- pahala yang besar dan amal-amal ibadat dan dagangan yang tidak akan rusak”.

Ibrahim Alkhawwash berkata :

لَا تَتَكَلَّفْ مَا كُفِيتَ وَلَا تُضَيِّعْ مَا اسْتُكْفِيتَ

Jangan memaksa diri untuk mencapai apa yang telah dijamin (dicukupi), dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang di amanatkan (ditugaskan) kepadamu. Oleh sebab itu, maka siapa yang berusaha untuk mencapai apa yang sudah dijamin, dan mengabaikan apa yang ditugaskan kepadanya, maka berarti buta mata hatinya, karena sangat bodohnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

111. مَتَى أَوْحَشَكَ مِنْ خَلْقِهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْأُنْسِ بِهِ.

Apabila Allah telah menjemukan engkau dari makhluk, maka ketahuilah bahwa Allah akan membukakan untukmu perasaan jinak, dan senang kepada Allah. Apabila engkau telah merasa jemu kepada makhluk, karena merasa bahwa mereka tidak bermanfaat bagimu, bahkan ada kalanya membawa madharrat/bahaya bagimu, maka di saat yang demikian engkau merasa jinak senang kepada Allah. Riwayat Abu Yazid Al-Busthamy ketika ia diperlihatkan oleh Allah alam malakut, kemudian ditanya : Adakah sesuatu yang menyenangkan engkau ? Jawabnya : Tidak. Maka dikatakan kepadanya : Engkau hamba Allah yang sesungguhnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

064. أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِيُخْرِجَكَ مِنْ سِجْنِ وُجُودِكَ إِلَى فَضَاءِ شُهُودِكَ.

Allah memberikan kepadamu (warid kurnianya) supaya engkau keluar/terlepas dari kurungan bentuk kejadian dan sifat-sifatmu, ke alam luar yang berupa ma'rifat mengenal kebesaran kekuasaan dan kurnia Tuhanmu. Dalam tiga pelajaran berkenaan dengan warid (kurnia Tuhan) yang pertama diberikan kepadamu, supaya kau ringan melakukan taat ibadat dan mendekat ke hadirat Allah, tetapi kemungkinan masih kurang ikhlas, maka diturunkan warid yang kedua untuk melepaskan dari tujuan kepada sesuatu selain Allah, sedang warid yang ketiga untuk melepaskan dirimu dari sifat-sifat wujud yang sempit kepada alam melihat kebesaran Tuhan yang tidak terbatas, sehingga lupa kepada diri dan hanya ingat kepada Allah semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

163. نُورٌ مُسْتَوْدَعٌ فِي الْقُلُوبِ مَدَدُهُ مِنَ النُّورِ الْوَارِدِ مِنْ خَزَائِنِ الْغُيُوبِ.

Nur cahaya yang tersimpan dalam hati itu datangnya dari nur yang datang langsung dari perbendaharaan ghaib. Nur keyakinan yang ada dalam hati orang-orang aarif itu salurannya langsung daripada nur yang berasal dari perbendaharaan ghaib. Allah telah menerangi alam benda yang lahir ini dengan nur cahaya benda buatanNya, dan Allah menerangi hati batin itu dengan nur cahaya sifat-sifat-Nya.

Disalin