Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

148. مَا حَجَبَكَ عَنِ اللهِ وُجُودُ مَوْجُودٍ مَعَهُ، وَلٰكِنْ حَجَبَكَ عَنْهُ تَوَهُّمُ مَوْجُودٍ مَعَهُ.

Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang menghijab engkau persangkaanmu adanya sesuatu di samping Allah : Sebab segala sesuatu selain dari Allah itu pada hakikatnya tidak maujud (tidak ada) sebab yang wajib ada hanya Allah, sedang yang lainnya terserah pada belas kasih Allah, untuk diadakan atau ditiadakan. Seorang Aarif berkata : Adanya makhluk semua ini bagaikan adanya bayangan pohon di dalam air, maka ia tidak akan menghalangi jalannya kapal (perahu) maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun yang ada maujud di samping Allah untuk menghijab engkau dari Allah hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai sesuatu yang maujud. Lain contoh : Seorang yang bermalam di suatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia akan buang air terdengar suara angin yang menderu masuk ke lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar, tiba-tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas-bekas harimau maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke lobang, maka ia tiada tertahan karena harimau, hanya karena perkiraan adanya harimau.

Hikam Ibnu 'Atoillah

149. لَوْلاَ ظُهُورُهُ فِي الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُودُ أَبْصَارٍ، وَلَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ لاَضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ.

Andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan padaNya, dan andaikan Allah mendhahirkan sifatNya pasti lenyaplah alam bendaNya.

Firman Allah :

فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا (الأعراف: ١٤٣)

Ketika Allah bertajalli kepada bukit, hancurlah (lenyaplah) bukit itu, sedang Nabi Musa jatuh pingsan.

Rasulullah saw. bersabda : Hijab Allah itu berupa cahaya, andaikan dibuka pasti akan terbakar segala sesuatu yang menghadapinya. n Abdi pada Khalanya)

Hikam Ibnu 'Atoillah

107. نِعْمَتَانِ مَا خَرَجَ مَوْجُودٌ عَنْهُمَا وَلاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكَوَّنٍ مِنْهُمَا: نِعْمَةُ الْإِيجَادِ وَنِعْمَةُ الْإِمْدَادِ.

Dua nikmat yang tıdak uatu makhluk yang terlepas dari keduanya yaitu nikmat ciptaan dan n ulan. Karena tiap makhluk asalnya tidak ada, maka nikmat yang pertama diterimanya ialah nikmat ciptaan Allah yang menjadikannya (mewujudkannya), kemudian dilanjutkan dengan nikmat kelanjutan hidup itu, yakni melengkapi kebutuhan hidup, sebab bila tidak dilengkapi kebutuhan, tidak akan dapat bertahan hidup.

Hikam Ibnu 'Atoillah

181. جَلَّ حُكْمُ الْأَزَلِ أَنْ يُضَافَ إِلَى الْعِلَلِ.

Maha suci hukum (putusan) Allah yang telah pasti dalam azal, jika disandarkan (digantungkan) kepada sebab musabab. Segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini, hanya semata-mata dari qudrat iradat (kekuasaan dan kehendak) Allah secara mutlak, sehingga tidak boleh dikatakan karena ini atau itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

097. الطَّيُّ الْحَقِيقِيُّ أَنْ تُطْوَى مَسَافَةُ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ.

Singkatnya jalan yang sesungguhnya, ialah jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. Ath-thayyu : Terlipatnya bumi, sehingga jarak yang sejauh- jauhnya dapat ditempuh dengan satu langkah sudah sampai. Ath-thayyu, juga berarti menghabiskan masa siang malam dengan sembahyang dan puasa semata-mata. Dalam lain keterangan Ibn Atha Allah berkata : Andaikan nur keyakinan itu telah terbit terang dalam hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi ke sana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi oleh suramnya kerusakan/kehancuran yang bakal menimpa kepadanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

248. إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَغْفُلُ عَنْكَ فَلاَ تَغْفُلْ أَنْتَ عَمَّنْ نَاصِيَتُكَ بِيَدِهِ.

Jika engkau telah mengetahui bahwa syaithan itu tidak pernah lupa kepadamu, maka engkau jangan lupa terhadap Tuhan yang nasibmu ada di tanganNya.

Firman Allah :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا (فاطر: ٦)

Sesungguhnya syaithan itu musuhmu, maka nyatakanlah ia sebagai musuh. (Fathir 6). Yakni waspadalah daripadanya, karena ia sebagai musuh yang tidak ada masa damainya.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Dalam memahami ayat ini ada suatu kaum yang berfaham bahwa mereka diperintah untuk memusuhi syaithan maka mereka mengerahkan segala tenaga untuk memusuhi, tetapi lain golongan mengartikan : Sesungguhnya, syaithan musuhmu, dan Aku (Allah) kekasihmu, maka orang-orang ini sibuk kepada yang dicintai dan lupa pada musuhnya, akhirnya Allah sendiri yang melindungi kekasihnya dari gangguan syaithan sebagai musuh itu.

Abu Hasim berkata : Siapakah syaithan itu sehingga harus ditakuti, demi Allah ia sudah pernah diikuti tetapi sama sekali tidak berguna menurut kepadanya, begitu pula ketika dilanggar maka juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Abu Sulaiman Addarany berkata : Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari syaithan, dan andaikan Allah tidak menyuruh kami berlindung kepada Allah daripadanya, niscaya saya tidak merasa gentar sama sekali daripada syaithan. Dzinnun Almisry berkata : Jika syaithan itu dapat melihat engkau dari arah yang tidak dapat anda melihatnya, maka Allah melihat padanya dari arah yang dia tidak melihat kepada Allah, karena itu berlindunglah kepada Allah dari gangguan syaithan. Malik bin Dinar berkata : Suatu musuh yang dapat melihat padamu sedang kau tidak dapat melihatnya, sungguh sukar perlawanannya, kecuali jika dilindungi oleh Allah.

Abu Saied Alkhudry berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Iblis berkata kepada Tuhan : Demi kemuliaan dan kebesaranMu, saya tetap akan menyesatkan anak Adam selama ada

ruh dikandung badannya, maka dijawab oleh Allah : Demi kemuliaan dan kebesaranKu : Saya tetap akan mengampunkan anak Adam selama mereka minta ampun (membaca istighfar) kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

014. الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الحَقِّ فِيهِ، فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ، فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُودُ الْأَنْوَارِ، وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ.

Alam itu kesemuanya berupa kegelapan, sedang yang meneranginya, hanya karena tampaknya haq (Allah) padanya, maka siapa yang melihat alam kemudian tidak melihat Allah di dalamnya, atau padanya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka benar-benar ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup baginya surya (nur) ma'rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam ini. Alam semesta yang mulanya tidak ada (Adam) memang gelap, sedang yang mendhahirkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu siapa yang melihat sesuatu benda alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang kuat, lalu ia mengira tidak ada bola yang menimbulkan cahaya itu. Maka semua seisi alam ini bagaikan sinar sedang yang hakiki (sebenarnya) terlihat itu semata-mata kekuasaan zat Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

220. حُقُوقٌ فِي الْأَوْقَاتِ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، وَحُقُوقُ الْأَوْقَاتِ لاَ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، إِذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إِلاَّ وَلِلَّهِ عَلَيْكَ فِيهِ حَقٌّ جَدِيدٌ وَأَمْرٌ أَكِيدٌ، فَكَيْفَ تَقْضِي فِيهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَأَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللهِ فِيهِ.

Kewajiban-kewajiban di dalam waktu dapat di godho'inya, tetapi hak-hak yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan hak Allah dalam waktu itu. Kewajiban dalam waktu seperti sembahyang, puas jika tidak dikerjakan dalam waktunya dapat digodho'inya, tetap hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya, tidak dapat digodho'inya, yaitu waktu menerima nikmat atau taat, atau teruji dengan bala' dan maksiat, yaitu masa yang harus bersyukur, dan masa di mana ia harus bersabar dan istighfar, apabila telah berubah masanya maka berubahlah hak kewajibannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggodho'i apa yang tertinggal pada masa yang telah lampau itu.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang diberi lalu bersyukur, dan diuji lalu sabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Kemudian Rasulullah saw. diam sejenak. Sahabat bertanya : Kemudian apakah ya Rasulullah saw. untuknya ? Jawab Nabi saw. :

أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: ٨٢)

Merekalah yang pasti mendapatkan kesejahteraan, dan merekalah orang yang mendapat petunjuk hidayat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

083. إِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ قَدْرَكَ عِنْدَهُ فَانْظُرْ فِيمَا ذَا يُقِيمُكَ.

Jika kau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, maka perhatikan di dalam bagian apa Allah menempatkan kau.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menempatkan/men- dudukkan hambaNya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam *Alfudhail bin Iyaadh ra. berkata : Sesungguhnya seorang hamba dapat melakukan taat ibadat kepada Tuhan itu hanya menurut kedudukannya di sisi Tuhan, atas perasaan imannya terhadap Tuhan, atau kedudukan Tuhan di dalam hatinya.

Wahb bin Munabbih berkata : Saya telah membaca dalam kitab- kitab Allah yang dahulu. Firman Allah :

يَا ابْنَ آدَمَ أَطِعْنِي فِيمَا أَمَرْتُكَ وَلَا تُعَلِّمْنِي مَا يُصْلِحُكَ.

Hai anak Adam, taatilah perintahKu dan jangan engkau beritahu- kan kepadaKu apa kebutuhan yang baik bagimu. (Yakni engkau jangan mengajari kepadaKu apakah yang baik bagimu). Sesungguhnya Aku telah mengetahui kepentingan hambaKu, Aku memuliakan siapa yang patuh pada perintahKu, dan menghina siapa yang meremehkan perintahKu. Aku tidak menghiraukan kepentingan hambaKu, sehingga hambaKu memperhatikan hakKu (yakni kewajibannya terhadap Aku).

Hikam Ibnu 'Atoillah

102. مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُودَ الْعُقُوبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ.

Siapa yang menyembah kepada Allah karena mengharap sesuatu, atau untuk menolak bahaya siksa atas dirinya, maka belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah. Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasih kepadanya ialah yang beribadat bukan karena upah pemberian, tetapi semata-mata karena Aku berhak untuk disembah. Dalam kitab Zabur ada tersebut : Dan siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka, apakah andaikan Aku tidak membuat surga dan neraka, tidak berhak untuk disembah.

Bersabda Nabi saw. : Jangan berlaku sebagai seorang hamba yang busuk jika takut, lalu bekerja dan jangan berbuat sebagai buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja.

Sebab sebenarnya pemberian Allah kepada hamba itu sudah lebih dari yang diharapkan yaitu hidupnya, nafasnya, panca inderanya dan kesehatannya dan lain-lainnya.

Abu Hazim berkata : Saya malu menyembah Allah karena pahala, seperti buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja atau menyembah karena takut siksa seperti budak yang curang jika tidak takut siksa tidak bekerja, tetapi saya menyembah Allah karena cinta kepadaNya. Sufyan Astsaury minta nasehat dari Rabi'ah Al-adawiyah, maka berkata Rabi'ah : Engkau seorang yang baik, andaikan engkau tidak cinta kepada dunia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

268. أَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَسْتَشْهِدَكَ، فَنَطَقَتْ بِإِلٰهِيَّتِهِ الظَّوَاهِرُ، وَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيَّتِهِ الْقُلُوبُ وَالسَّرَائِرُ.

Allah memperlihatkan dzatNya kepadamu, sebelum ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesaranNya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk yang lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir perasaan. Allah bertajalli ke dalam hati tiap orang, menurut kadar kekuatan tingkat orang itu, sehingga iman tiap orang itu pun menurut apa yang diperlihatkan oleh Allah daripada kebesaran kekuasaannya. Apabila Allah telah bertajalli kepada seorang hambaNya, maka tampak pada orang ini bahwa semua makhluk ini seolah-olah mengakui ketuhanannya, sebagaimana makin yakin dalam hati sanubarinya (perasaannya ke Esa- an) Allah yang tidak bersekutu dalam dzat, sifat, af' aal, kekuasaan dan Kebesaran-Nya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

029. طَلَبُكَ مِنْهُ اتِّهَامٌ لَهُ، وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ عَنْهُ، وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ، وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ.

Permintaanmu dari Allah mengandung pengertian menuduh Allah, kuatir tidak memberi kepadamu. Dan mintamu kepada Allah supaya mendekatkan dirimu kepadaNya, berarti engkau masih merasa jauh daripadaNya. Dan mintamu kepada Allah untuk mencapai kedudukan dunia akherat, membuktikan tiada malumu kepadaNya, dan permintaanmu kepada sesuatu selain dari Allah menunjukkan jauhmu dari padaNya. Permintaan hamba kepada Allah terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti lebih jauh dan mendalam. Permintaan kepada Allah mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa Allah akan memberi tanpa minta, tidak akan minta, maka karena kuatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka Allah melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi oleh Allah belum juga diberi. Dan permintaanmu untuk tagarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib daripadaNya. Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan- kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya dari-padaNya, sebab sekiranya engkau malu dari Allah tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain mendekatkan kepadaNya. Sedang bila engkau minta d ıri sesuatu selain Allah, membuktikan jauhmu daripadaNya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa Allah dekat kepadamu tentu engkau takkan minta kepada lainNya. Kecuali permintaan yang semata- mata untuk menurut perintah Allah. Hanya inilah yang tepat benar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

118. سُبْحَانَ مَنْ سَتَرَ سِرَّ الْخُصُوصِيَّةِ بِظُهُورِ الْبَشَرِيَّةِ، وَظَهَرَ بِعَظَمَةِ الرُّبُوبِيَّةِ فِي إِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ.

Maha Suci Allah yang telah menutupi rahasia-rahasia keistimewaan orang wali (aarif) dengan tampaknya sifat-sifat yang umum pada manusia. Dan telah terang terlihat kebesaran ke Tuhanan Allah dengan menunjukkan kepada manusia sifat-sifat kehambaan dan kerendahan makhluknya. Rahasia-rahasia kebesaran ilmu ma'rifat yang diberikan oleh Allah kepada para wali yang aarif ditutupi oleh Allah dengan tampaknya sifat dan keadaan yang biasa umum bagi semua manusia, sebaliknya Allah telah memperlihatkan sejelas-jelasnya kebesaran ke-TuhananNya dengan menunjukkan sifat-sifat kelemahan dan kebutuhan hamba kepadaNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

048. لاَ تَرْفَعَنَّ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةً هُوَ مُورِدُهَا عَلَيْكَ، فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرَهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعًا. مَنْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ لَهَا عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا.

Jangan mengadu/meminta sesuatu hajat kepada lain Allah, sebab la sendiri yang memberi/menurunkan hajat itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Allah. Siapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah akan dapat menyingkirkan bencana dari lainnya. Tibanya sesuatu bencana itu menyebabkan engkau berhajat kepada bantuan pertolongan, maka dalam tiap hajat jangan mengharap kepada lain Allah, sebab segala sesuatu selain Allah itu juga berhajat seperti kau. Sebab siapa yang menyandar (menggantungkan nasib) pada sesuatu selain Allah, berarti tertipu oleh sesuatu bayangan khayal, sebab tidak ada yang tetap selain Allah yang selalu tetap karunia dan nikmat rahmatNya kepadamu. Athaa* Al-Khurasani berkata : Saya bertemu dengan wahb bin Munabbih di suatu jalan, maka saya berkata : Ceritakan kepadaku suatu hadits yang dapat saya ingat, tetapi persingkatlah. Maka berkata Wahb : Allah telah mewahyukan kepada nabi Dawud as : Hai Dawud, demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang hambaKu yang minta tolong kepadaKu dengan sungguh-sungguh kepadaKu, tidak pada lainnya, dan saya ketahui yang demikian dari niatnya, kemudian orang itu akan diperdaya oleh penduduk langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, melainkan pasti Aku akan meng- hindarkannya dari semua itu, sebaliknya demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang yang berlindung kepada seorang makhlukKu, tidak kepadaKu dan Aku ketahui yang demikian dari niatnya melainkan Aku putuskan ia dari rahmat yang dari langit, dan Aku longsorkan bumi di bawahnya, dan tidak Aku hiraukan dalam lembah jurang yang mana ia binasa.

Muhammad bin Husain bin Hamdan berkata : Ketika saya di majlis Yazid bin Harun, saya bertanya kepada seorang yang duduk di sampingku : Siapakah namamu? Jawabnya : Saied. Saya bertanya : Siapakah gelarmu ? Jawabnya : Abu Usman. Lalu saya bertanya tentang keadaannya. Jawabnya : Kini telah habis belanjaku. Lalu saya tanya : Dan siapakah yang engkau harapkan untuk kepentinganmu itu ? Jawab- nya : Yazid bin Harun. Maka saya berkata kepadanya : Jika demikian , maka ia tidak menyampaikan hajatmu, dan tidak akan membantu/ meringankan kebutuhanmu. Dia bertanya : Dari mana engkau mengetahui hal itu ? Jawabku : Saya telah membaca dalam sebuah kitab : Bahwasanya Allah telah berfirman : Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dan kemurahanKu dan ketinggian kedudukanKu, di atas arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada lainKu dengan kekecewaan, dan akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata orang, dan Aku singkirkan ia dari dekatku, dan Aku putuskan dari hubunganku. Mengapa ia mengharap lain Ku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tanganku, dan Aku dapat menyingkirkannya, dan mengharapkan kepada lainKu serta mengetuk pintu lain, padahal kunci pintu-pintu itu tertutup, hanya pintuKu yang terbuka bagi siapa yang berdoa minta kepadaKu. Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesukarannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya, lalu Aku putuskan harapannya? Atau siapakah yang pernah mengetuk pintuKu, lalu tidak Aku bukakan ? Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antaraKu dengan angan-angan dan harapan semua makhlukKu, maka mengapakah kau bersandar kepada lainKu. Dan Aku telah menyediakan semua harapan hambaKu, tetapi tidak puas dengan perlindunganKu, dan Aku telah memenuhi langitKu dengan makhluk yang tidak jemu bertasbih kepadaKu dari para Malaikat dan Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antaraKu dengan para hambaKu, tetapi mereka tidak percaya kepada sabdaKu. Tidakkah mengetahui bahwa siapa yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku, maka mengapakah Aku melihat ia dengan segala angan-angan harapannya selalu berpaling dari padaKu, mengapakah ia tertipu oleh lainKu. Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahanKu apa-apa yang tidak ia minta, kemudian Aku yang mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepadaKu untuk mengembalikannya, dan minta kepada lainKu. Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, kemudian jika dimintai lalu tidak memberi an Abd pede Khalonye)

kepada peminta ? Apakah aku bakhil (kikir), sehingga dianggap bakhil oleh hambaKu. Tidakkah dunia dan akherat itu semua milikKu ? Tidakkah semua rahmat dan kurnia itu di tanganKu ? Tidakkah derma- wan dan kemurahan itu sifatKu ? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan ? Maka siapakah yang dapat memutuskannya daripadaKu. Dan apapula yang diharapkan oleh orang-orang yang mengharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi : Mintalah kepadaKu, kemudian Aku memberi kepada masing-masing orang fikiran apa yang terfikir pada semuanya, lalu Aku beri semua itu tidak akan mengurangi kekayaanKu meskipun sekecil debu ? Maka bagaimana akan berkurang kekayaan yang lengkap, sedang Aku yang mengawasinya ? Alangkah sial (celaka) orang yang putus dari rahmatKu, alangkah kecewa orang maksiat kepadaKu dan tidak memperhatikan Aku, dan tetap melakukan yang haram dan tiada malu kepadaKu. Maka orang itu berkata : Ulangilah keteranganmu itu, lalu menulisnya. Kemudian ia berkata : Demi Allah setelah ini saya tidak usah menulis suatu keterangan yang lain.

Hikam Ibnu 'Atoillah

130. الصَّلاَةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الْأَسْرَارِ، وَتُشْرِقُ فِيهَا شَوَارِقُ الْأَنْوَارِ.

Sembahyang itu sebagai tempat bermunajat (menyampaikan hajat kepada Allah), serta memanjatkan puji syukur. Dam sebagai tempat pembersihan hati dari berbagai kotoran. Leluasa di dalamnya datangnya berbagai rahasia-rahasia Tuhan. Dan terbit terang padanya cahaya-cahaya ilmu dan ma'rifat.

Firman Allah :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: ١٤)

Tegakkan sembahyang itu untuk dzikir ingat kepadaKu. Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri sembahyang, maka Allah membuka untuknya tirai hijab, dan langsung dihadapinya, dan berdiri tegak para Malaikat dari atas bahunya hingga langit, mengikuti sembahyangnya dan mengaminkan doanya. Dan seorang yang sembahyang itu ditaburi rahmat dari langit hingga ubun kepalanya. Dan dipanggil oleh suara: Andaikata orang yang munajat ini mengetahui siapakah yang diajak bicara, tidak akan berhenti (memutuskan) sembahyangnya. Dan sesungguhnya pintu pintu langit terbuka untuk orang yang sembahyang. Dan sesungguhnya Allah membanggakan barisan orang-orang yang sembahyang di hadapan MalaikatNya. Dalam Kitab Taurat ada tersebut demikian : Hai anak Adam, jangan malas untuk berdiri sembahyang dihadapanKu sambil menangis, maka Akulah Allah yang telah mendekat dari hatimu, dan karena ghaib engkau telah dapat melihat cahayaKu.

Muhammad bin Ali Attirmidzy berkata : Allah telah memanggil orang- orang yang bertauhid supaya sembahyang lima waktu, karena rahmat kasihan kepada mereka, dan menyediakan berbagai macam hidangan, supaya seorang hamba itu dapat merasakan pada tiap bacaan dan gerak itu kurnia pemberian-pemberiannya, maka gerak itu bagaikan makanan, sedang bacaan itu bagaikan minuman. Dan hidangan itu disediakan oleh Allah tiap hari lima kali, supaya tidak ada lagi sisa kotoran atau debunya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

258. إِنَّمَا وَسِعَكَ الْكَوْنُ مِنْ حَيْثُ جُسْمَانِيَّتُكَ، وَلَمْ يَسَعْكَ مِنْ حَيْثُ رُوحَانِيَّتُكَ.

Sesungguhnya alam dapat mencukupi engkau hanya dari sudut jasmanimu semata-mata, tetapi tidak memuaskan engkau dalam hal kerohanianmu. Karena badan jasmani sejenis dengan benda-benda alam, maka di situlah letak hajat kebutuhan badan jasmanimu, sebaliknya rohanimu sama sekali tidak sejenis dengan benda-benda alam ini, bahkan jauh berbeda, maka karenanya tidak usah engkau harus menggantungkan. soal dengan kebendaan dan seharusnya hanya berhubungan kepada Tuhan Allah ta'ala. Ahmad bin Khadharawaih ketika ditanya : Amal perbuatan apakah yang utama? Jawabnya : Menjaga hati jangan sampai condong, menoleh/ menghadap pada sesuatu selain Allah ta'ala.

Abu Abdullah Al-Jallaab berkata : Siapakah yang hasrat semangat tujuannya lebıh tinggi dari alam benda, maka ia pasti sampai kepada Allah yang mencipta alam, tetapi siapa yang tujuannya hanya pada sesama makhluk maka tidak mendapat Tuhan, sebab Allah maha mulia untuk dapat menerima persekutuan/dipersekutukan.

Disalin