Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Mutiara Kata

Himpunan Hikmah

294 petikan ilmu untuk direnung dan dikongsi.

Rawak
Hikam Ibnu 'Atoillah

140. مَا طَلَبَ لَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الاِضْطِرَارِ، وَلاَ أَسْرَعَ بِالْمَوَاهِبِ إِلَيْكَ مِثْلُ الذِّلَّةِ وَالاِفْتِقَارِ.

Tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tercapainya permintaan hajatmu seperti keadaan terpaksa, dan tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tibanya pemberian-pemberian kurnia Allah seperti merasa rendah diri dan sangat fakir miskin.

Firman Allah :

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ. (النمل: ٦٢)

Siapakah yang dapat memperkenankan (menyambut) doa orang yang terpaksa bila berdoa minta padanya? (An Naml 62). Orang mudh-thar (yang terpaksa) itu ialah yang merasa sudah tidak ada daya dan tidak ada kekuatan lain yang dapat menolongnya, baik dari

luar atau dari dirinya sendiri, kecuali satu yaitu Allah semata-mata. Orang demikianlah yang pasti segera tercapai hajat kebutuhannya, dan itulah yang bernamatauhid (meng-Esakan Allah). Hal orang ini bagaikan orang yang akan tenggelam di lautan, atau tersesat di hutan belukar yang seram sekah.

Firman Allah :

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ (آل عمران: ١٢٣)

Sungguh Allah telah membantu kamu (me nangkan kamu) dalam perang badar, ketika kamu dalam keadaan hi na dan rendah diri tidak berdaya.

Firman Allah :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ. (التوبة: ٦٠)

Sungguhnya sedekah pemberian itu hanya untuk orang yang benar-benar fakir miskin. At trna ran. Ketiga macam hal inilah yang paling cepat untuk menyampaikan atau mendatangkan kurnia pemberian Tuhan. Seorang yang terpaksa karena benar-benar telah merasa tidak ada lagi yang dapat menolong kepadanya, kecuali rahmat kurnia Allah, sebab ia sendiri telah begitu miskin dari segala apa yang dapat diguna- kan untuk memancing apa-apa dari Tuhan, maka hanya bergantung pada rahmat karunia Tuhan semata-mata. Maka dengan demikian ia merasa rendah betul, sebab ia minta tetapi tanpa sesuatu yang diajukan untuk layaknya ia menerima pemberian itu.

Rasulullah saw. bersabda :

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.

Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata, kalimat ini suatu kekayaan dari kekayaan surga. Berarti orang yang mempergunakannya, maka ia bagaikan hidup pemberianNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

267. مَا كَانَ ظَاهِرُ ذِكْرٍ إِلاَّ عَنْ بَاطِنِ شُهُودٍ وَفِكْرٍ.

Tidak terjadi dzikir pada lahirnya kecuali timbul dari pemikiran dan kesadaran/penglihatan batin. Tiap dzikir yang terjadi pada seseorang itu, pasti disebabkan adanya kesadaran ingat akan kebesaran dan mengharap kurnia pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

266. قَوْمٌ تَسْبِقُ أَنْوَارُهُمْ أَذْكَارَهُمْ، وَقَوْمٌ تَسْبِقُ أَذْكَارُهُمْ أَنْوَارَهُمْ، وَقَوْمٌ تَتَسَاوَى أَذْكَارُهُمْ وَأَنْوَارُهُمْ، وَقَوْمٌ لاَ أَذْكَارَ وَلاَ أَنْوَارَ، نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ذٰلِكَ. ذَاكِرٌ ذَكَرَ لِيَسْتَنِيرَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا، وَذَاكِرٌ اسْتَنَارَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا، وَالَّذِي اسْتَوَتْ أَذْكَارُهُ وَأَنْوَارُهُ فَبِذِكْرِهِ يُهْتَدَى وَبِنُورِهِ يُقْتَدَى.

Segolongan (sebagian) orang nur imannya mendahului daripada dzikirnya, dan sebagian dzikirnya mendahului nur imannya, dan ada pula golongan yang berbarengan antara nur dengan dzıkirnya, dan ada pula kaum yang tidak ada dzikir dan tidak ada nur. Na'udzu billahi min dzalika. (Kami berlinduıng kepada Allah dari golongan yang tidak ada dzikir dan tidak ada nur itu). Ada yang berdzikir untuk mendapatkan nur terang hatinya, maka disebut berdzikir, dan ada yang telah terang nur hatinya, ini pun juga ber- dzikir. Sedang orang yang sama/berbanding antara dzikir dengan nurnya, maka dengan dzikirnya dapat hidayah, dan dengan nurnya dapat diikuti. Golongan yang mendapat nur sebelum dzikir ialah sebagian tersebut dalam ayat :

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ (آل عمران: ٧٤)

Allah menentukan rahmatNya pada siapa yang dikehendakiNya. Sedang golongan yang berdzikir kemudian mendapat nur ialah yang tersebut dalam ayat :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (العنكبوت: ٦٩)

Dan mereka yang benar-benar berjuang dalam jalan keridhaanKu, pasti Aku pimpin (tunjukkan jalan Kami).

Abul-Abbas Almarsy berkata : Manusia ada dua macam, ada yang mendapat kurnia Allah, sehingga berbuat taat kepada Allah, dan adapula yang dengan taatnya kepada Allah mencapai kebesaran kurnia Allah.

Firman Allah :

اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ (الشورى: ١٣)

Allah memilih untuk kurniaNya siapa yang dikehendakiNya, dan memberi petunjuk kepadanya, siapa yang sungguh-sungguh datang/ kembali kepadaNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

256. لَوْلاَ مَيَادِينُ النُّفُوسِ مَا تَحَقَّقَ سَيْرُ السَّائِرِينَ، إِذْ لاَ مَسَافَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ تَطْوِيهَا رِحْلَتُكَ، وَلاَ قَطْعَةَ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ حَتَّى تَمْحُوَهَا وُصْلَتُكَ.

Andaikan tidak ada lapangan perjuangan melawan hawa nafsu (syahwat), pasti tidak dapat terbukti perjalanan orang-orang yang menuju kepada Allah, sebab memang tidak ada jarak antaramu dengan Allah untuk dijalani (ditempuh) dengan kendaraan, dan juga tidak pernah putus antaramu dengan Allah, sehingga dapat disambung oleh hubunganmu. Berjalan menuju kepada Allah, ialah memutuskan segala rintangan syahwat hawa nafsu dan adat kebiasaan yang akan menghambat. Tidak mungkin hidup (terang) hati nurani kecuali setelah mematikan pengaruh hawa nafsu. Nikmat yang terbesar ialah bila telah dapat bebas dari pengaruh tipu daya hawa nafsu, sebab hawa nafsu itu sebagai tirai yang tebal antara engkau dengan Allah ta'ala. Hatim Al-asham berkata : Siapa yang akan masuk golongan kami harus dapat membunuh hawa nafsunya empat kali : Mati yang merah yaitu menahan (mengekang) hawa nafsu. Mati yang hitam yaitu sabar tabah menanggung gangguan orang. Mati yang putih yaitu tahan lapar, dan mati yang hijau dapat memakai pakaian tembelan (compang- camping). Sahl bin Abdullah ra. berkata : Rahasia nafsu belum pernah terbukti kecuali dalam pernyataan Fir'aun ketika ia berkata : Ana Tidak mungkin dapat terlepas dari belenggu hawa nafsu, kecuali dengan memperhatikan dan melaksanakan ajaran-ajaran syariat lahir batin, tanpa mengurangi atau berlebihan, tanpa teledor dan malas. A'isyah ra. berkata : Rasulullah saw. telah bersabda : Laksanakan amal perbuatan itu sekuat tenagamu, sesungguhnya Allah tidak jemu menerima dan memberi pahala, hingga kamu jemu beramal. Dan

seutama-utama amal perbuatan itu ialah yang terus menerus (dawam) dilakukan meskipun sedikit.

Abul Qasin Alqusyairy berkata : Hakikat membunuh hawa nafsu itu, ialah lepas bebas dari tipu dayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul daripadanya, dan menolak segala pengakuan- pengakuannya, dan tidak bingung (sibuk) untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusan itu kepada Allah swt. dengan melepaskan usaha ikhtiar dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan hapus sama sekali pengaruh hawa nafsu itu terhadap kemanusiaannya. Adapun sisa-sisa yang berupa gambaran kerangkanya, maka itu tidak berbahaya. Demikianlah jalan untuk membunuh hawa nafsu yang dapat segera mencapai haderatal-qudsi (tempat yang suci luhur), yang sesuai dengan tuntutan syariat dan hakikat yang menjadi pelita bagi tiap salik yang menempuh jalan untuk mendekat kepada Allah. Karena itulah Rasulullah saw. berpesan kepada Abu Dzar untuk banyak membaca : Laa haula wa laa quwwata illa billahi. .

Hikam Ibnu 'Atoillah

253. لاَ يُخْرِجُكَ عَنِ الْوَصْفِ إِلاَّ شُهُودُ الْوَصْفِ.

Tidak ada sesuatu yang dapat mengeluarkan (melepaskan) engkau dari sifat kesombonganmu, kecuali jika engkau melihat sifat-sifat Allah. Yakni selama engkau tidak memperhatikan dan ingat selalu kepada sifat ketuhanan, kebesaran dan kekuasaan Allah, maka selama itu engkau

merasa besar, kuasa dan congkak (sombong). Selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Allah, maka selama itu juga engkau tidak mengakui kekurangan-kekurangan atau kehambaan dirimu terhadap Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

237. مِنْ تَمَامِ النِّعْمَةِ عَلَيْكَ أَنْ يَرْزُقَكَ مَا يَكْفِيكَ وَيَمْنَعَكَ مَا يُطْغِيكَ.

Setengah dari kesempurnaan nikmat Allah kepadamu jika Allah memberi rizqi yang cukup dan menahan daripadamu apa yang dapat menyesatkan kamu.

Firman Allah :

كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ * أَن رَّآهُ اسْتَغْنَىٰ (العلق: ٦ - ٧)

Sesungguhnya manusia itu pasti melampaui batas (tersesat) jika merasa diri kaya tidak berhajat. Sa'ad bin Abi Waggash ra. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Sebaik-baik rizqi yang mencukupi, dan sebaik-baik dzikir yang samar. Abu Dardaa' ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : Tiada terbit atau terbenam matahari melainkan disisinya ada dua Malaikat yang berseru, seruan itu dapat didengar oleh semua makhluk kecuali manusia dan jin : Hai sekalian manusia silahkan kembali kepada Tuhan, sesungguhnya yang sedikit tetapi mencukupi itu lebih baik dari yang banyak hingga melalaikan (menyesatkan).

Firman Allah :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا (القصص: ٧٧)

Pergunakan semua yang diberikan Allah kepadamu (yaitu yang berupa hidup panca indera, akal pikiran, tenaga dan harta kekayaan) untuk mencapai kebahagiaan dan keuntungan akherat, dan jangan kau lupakan bagianmu daripada dunia. Kepentingan yang pertama dan,utama ialah keselamatan akherat, adapun dunia maka ia sambil lalu jika tidak lupa. Sebab siapa yang sungguh beramal untuk akherat maka dunianya terjamin untung dan puas, sebaliknya jika amal usahanya hanya untuk dunia maka baginya tidak bertambah dari ketetapan Allah dan akheratnya rugi tidak dapat apa-apa.

Rasulullah saw. bersabda :

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ.

Bukannya kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya ialah kaya hati/tenang jiwa. Tersebut dalam kitab-kitab yang dahulu, Allah berfirman : Sesungguhnya seringan-ringan hukumanKu terhadap seorang alim jika ia condong kepada keduniaan, akan Aku cabut daripadannya kelezatan bermunajat kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

204. رُبَّمَا اسْتَحْيَا الْعَارِفُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَتَهُ إِلَى مَوْلاَهُ اكْتِفَاءً بِمَشِيئَتِهِ، فَكَيْفَ لاَ يَسْتَحِي أَنْ يَرْفَعَهَا إِلَى خَلِيقَتِهِ.

Adakalanya seorang aarif itu malu meminta hajatnya kepada Tuhannya karena merasa rela (puas) dengan kehendakNya, maka bagaimana tidak akan malu minta hajatnya kepada makhluknya. Sahel bin Abdullah berkata : "Tiada sesuatu nafas atau hati melainkan diperhatikan oleh Allah pada tiap detik, baik siang atau malam, maka apabila Allah melihat dalam hati itu ada hajat kepada sesuatu selain Allah, niscaya Allah mendatangkan iblis untuk hati itu.

Abu Ali Addaqgaq berkata : Sesuatu tanda dari ma'rifat, tidak minta hajat kebutuhan kecuali kepada Allah, baik besar maupun kecil. Contohnya : Nabi Musa rindu ingin melihat Allah ia berkata : Robbi arini andhur ilaika. Dan ketika berhajat roti berdoa :

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (القصص: ٢٤)

Ya Tuhan sungguh aku terhadap apa yang Engkau berikan kepadaku dari makanan itu sangat berhajat. Nabi Ibrahim as. ketika akan dilempar ke dalam api ia didatangi oleh Jibril dan ditanya : Apakah ada hajat ? Jawabnya : Kepadamu tidak. Dan kepada Allah ? Ya. Jika demikian mintalah kepada Allah. Jawab Ibrahim : Hasbi min su-ali ilmuhu bilahi : Cukup bagiku, ia mengetahui halku sehingga tidak usah saya minta padaNya.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا (الطور: ٤٨)

Sabarlah terhadap hukum Tuhanmu karena engkau selalu dibawah pengawasan Kami.

jabinika, fain dha'ufat yaçinuka fas'alil maula yu'inuka. Makanlah dari hasil usaha dan peluh dahimu, maka apabila lemah keyakinanmu mintalah kepada Tuhan niscaya ia membantu kepadamu. Abul-Hasan Assyadzily ketika ditanya tentang ilmu kimia jawabnya : Keluarkan semua makhluk dari dalam hatimu, dan putuskan harapanmu untuk mendapat sesuatu selain yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk engkau.

Hikam Ibnu 'Atoillah

230. كَيْفَ يَحْتَجِبُ الْحَقُّ بِشَيْءٍ، وَالَّذِي يَحْتَجِبُ بِهِ هُوَ فِيهِ ظَاهِرٌ وَمَوْجُودٌ حَاضِرٌ.

Bagaimanakah Allah akan dapat terhijab dengan sesuatu, padahal yang digunakan hijab itu, juga Allah jelas ada padanya, dan tetap hadir. Bagaimanakah Allah akan terhijab dengan sesuatu, padahal sesuatu yang terlihat itu semata-mata nur Ilahi, dan pada segala tempat Allah berada dan hadir, tidak pernah ghaib. Karena itu disebut dalam hadits qudsy : Hijab Allah ialah nur yang apabila dibuka niscaya dapat membakar apa saja yang diperlihatkannya, jangankan manusia akan dapat bertahan sedang bukit hancur, dan Nabi Musa aya Nabi mka pingsan sebelum melihat langsung. Demikianlah rahmat Allah menjaga hamba-hamba-Nya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

122. لاَ يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلاَّ جَهُولٌ، الْوَارِدُ يُوجَدُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْوِرْدُ يَنْطَوِي بِانْطِوَاءِ هٰذِهِ الدَّارِ، وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لاَ يُخْلَفُ وُجُودُهُ، الْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ، وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ، وَأَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ مِمَّا هُوَ مَطْلُوبُكَ مِنْهُ.

Tidak akan meremehkan wirid, kecuali orang yang bodoh (sangat tolol). Kurnia Allah (warid) terdapat di akherat, tetapi wirid akan habis dengan habisnya dunia. Dan sebaik-baik (seutama-utama) vang harus diperhatikan oleh seseorang yaitu yang tidak kunjung habis, wirid itu sebagai perintah Allah kepadamu, sedang warid (kurnia) itulah hajat kebutuhanmu dari Allah. Maka di manakah letak bandingan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapanmu dari Tuhan. Wirid ialah segała macam bentuk ibadat lahir batin baik yang wajib maupun sunnat. Sedang Waarid : Pemberian-pemberian Tuhan dalam hati hamba yang berupa keterangan, nur cahaya dan kesenangan berbuat ibadat, taufiq dan hidayatNya. Maka sebaiknya, seorang hamba menjalankan kewajibannya, daripada melonjak-lonjak kepada apa yang menjadi hak Allah semata- mata. Terutama wirid itu hanya berlaku masih hidup di dunia ini saja, sedang waarid akan lanjut sampai ke akherat. Rasulullah saw. telah bersabda : Amal yang sangat disukai oleh Allah ialah yang dawam (terus menerus) meskipun sedikit. Al-Hasan Albasry berkata : Siapa yang sama hari kininya dengan kemarinnya, maka ia rugi dan siapa yang harinya itu lebih buruk dari kemarinnya, maka ia mahrum (tidak dapat rahmat), dan siapa yang tidak bertambah berarti berkurang, dan siapa yang makin berkurang amalnya, maka mati lebih baik baginya. Ketika Al-Junaid ditegor orang karena memegang tasbih di tangannya : Tuan dalam kedudukan yang demikian itu masih saja menggunakan tasbih. Jawab Al-Junaid : Alat yang telah menyampaikan kami, maka tidak saya tinggalkan. Al-Junaid : berkata : Orang aarif menerima semua amal (wirid) itu sebagai tugas dari Allah, karena itu mereka akan kembali menghadap kepada Allah dengan kebiasaan wirid (ibadat) yang ditugaskan oleh Allah itu. Dan andaikata seribu tahun tidak akan mengurangi sedikitpun dari amal wiridku, kecuali jika ia terhalang untuk melakukannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

062. إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

Sesunggunya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah), hanya semata-mata supaya kau mendekat dan masuk ke hadirat Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

261. لاَ يَلْزَمُ مِنْ ثُبُوتِ الْخُصُوصِيَّةِ عَدَمُ وَصْفِ الْبَشَرِيَّةِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْخُصُوصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ، ظَهَرَتْ فِي الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ، تَارَةً تُشْرِقُ شُمُوسُ أَوْصَافِهِ عَلَى لَيْلِ وُجُودِكَ، وَتَارَةً يَقْبِضُ ذٰلِكَ عَنْكَ فَيَرُدُّكَ إِلَى حُدُودِكَ، فَالنَّهَارُ لَيْسَ مِنْكَ وَإِلَيْكَ، وَلٰكِنَّهُ وَارِدٌ عَلَيْكَ.

Adanya sifat-sifat khushusiyah (kewalian) itu, tidak melazimkan, lengkapnya sifat-sifat manusia yang biasa dan umum. Sesungguhnya contoh/perumpamaan khushusiyah itu bagaikan terangnya matahari di waktu siang, tampak di ufuk tetapi bukan dari ufuk, ada kalanya terbit nur cahaya sifat-sifat Allah pada kegelapan kejadian wujudmu, dan ada kalanya dicabut yang demikian itu daripadamu, maka kembali engkau ke batas-batas asal kejadianmu, maka terang siang itu bukan daripadamu dan kepadamu tetapi ia datang menjelang padamu. Sifat-sifat khushusiyah (kewalian) seperti kasyaf terhadap sesuatu hal, atau kekuatan yang istimewa untuk berbuat dan mengadakan sesuatu, itu semua tidak melazimkan lenyap sifat-sifat manusia yang biasa, seperti kebodohan, kemiskinan dan kelemahan. Sama dengan sinar matahari terhadap benda-benda yang tadinya gelap mendapat cahaya matahari maka berubah menjadi terang, tetapi jika terbenam matahari itu kembali benda-benda itu kepada kegelapannya, sebab cahaya matahari itu tidak termasuk sifat dzatnya, maka apabila menerima nur tajalli maka tampak keluar dari padanya sifat-sifat Allah yang menerangi dzatnya itu, tetapi bila ditarik kembali nur

tajalli itu, maka kembalilah sifat-sifat yang asli pada manusia. Maka sifat-sifat khushusiyah (keistimewaan/kewalian) itu bukan sifat manusıa yang aslı, hanya menjelma (datang) kepadanya, pada sifat- sifat yang ditentukan Allah sendiri yang memberi itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

059. لاَ يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عِظَمًا يَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى، فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبَهُ.

Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah. Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertobat dan niat tidak akan mengulanginya untuk selamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosanya itu akan menyebabkan putus rahmat dari Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan yang demikian itu lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusir dengan tangannya, nabi saw. telah bersabdą : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan diampunkan bagi mereka itu.

Nabi saw. bersabda : Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin daripada ujub (merasa sombong karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya. Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah dari sisi Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

037. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ، فَالْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ، وَالاِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ، وَإِلاَّ فَمَتَى غَابَ حَتَّى تُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ، وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ.

Jauh berbeda antara orang yang berdalil; adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil; bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.

Firman Allah :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: ٧٨)

Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur. (S. An-Nahi 78). Memang asal mula kejadian manusia bodoh tidak mengetahui apa- apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal- Nya, pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran semua alat mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

280. فَالْعَاقِلُ مَنْ كَانَ بِمَا هُوَ أَبْقَى أَفْرَحَ مِنْهُ بِمَا هُوَ يَفْنَى، قَدْ أَشْرَقَ نُورُهُ وَظَهَرَتْ تَبَاشِيرُهُ.

Maka orang yang sempurna akal, ialah yang lebih suka (gemar) pada apa yang kekal daripada yang rusak lenyap. Karena

telah terang nur hatinya, dan tampak tanda-tanda bukti nur itu pada seri mukanya.

Sahl bin Abdullah berkata : Siapa yang senang pada sesuatu yang tidak layak disenangi, maka ia telah mendatangkan kesusahan yang tidak ada habisnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

049. إِنْ لَمْ تُحْسِنْ ظَنَّكَ بِهِ لِأَجْلِ حُسْنِ وَصْفِهِ، فَحَسِّنْ ظَنَّكَ بِهِ لِوُجُودِ مُعَامَلَتِهِ مَعَكَ، فَهَلْ عَوَّدَكَ إِلاَّ حَسَنًا، وَهَلْ أَسْدَى إِلَيْكَ إِلاَّ مِنَنًا.

Jika engkau tidak bersangka baik (husnudh-dhan) terhadap Allah ta'ala karena sifat-sifat Allah yang baik itu, sangkalah baik kepada Allah karena kurnia pemberianNya kepadamu. Tidakkah selalu ia memberi nikmat dan kurniaNya kepadamu ? Apabila engkau tidak dapat berbaik sangka terhadap Allah, karena Allah itu bersifat : Rabbul alamien (Tuhan yang mencipta, melengkapi, memelihara dan menjamin seisi alam, Arrahman, Arrahhiem : Pemurah lagi Penyayang). Maka sudah selayaknya engkau harus berbaik sangka kepada Allah, karena tiada henti-hentinya nikmat kurnia Allah atas dirimu dan anak keluargamu. Yakni sejak engkau berupa mani hingga matimu. Dan sebaik-baik husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah, diwaktu menerima nikmat Allah yang berupa ujian (bala'), bagaikan ayah yang menyambuk putera yang amat disayang, demi untuk kebaikan putera itu sendiri.

Firman Allah :

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu enggan (tidak menyukai) sesuatu padahal itu baik bagimu.

(S. Al-Bagarah 216).

فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا. (النساء : ١٩)

Mungkin kamu enggan (tidak menyukai) sesuatu, sedang Allah telah menjadikan pada apa yang tidak engkau sukai itu kebaikan yang sebanyak-banyaknya * (S. Annisaa' 19).

Jabir ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Siapa yang dapat melakukan husnudh-dhan (baik sangka) kepada Allah, sehingga ia tiada mati kecuali tetap dalam husnudh-dhan terhadap Allah, maka harus berbuat demikian. Kemudian membacakan ayat :

( فصلت رحم السجدة : ١٢)

Dan itulah jahat sangkamu kepada Tuhanmu itulah yang mem- binasakan kamu. (S. Haa' Mim Fussilat (Assajdah) ayat 23).

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Sesungguhnya baik sangka terhadap Allah itu, sebaik-baik kelakuan ibadat kepada Allah. (Atau : Sesungguhnya baik sangka terhadap Allah itu dari sebab baiknya ibadat kepada Allah). Ibnu Mas'ud ra. bersumpah : Demi Allah tiada seorang yang baik sangka terhadap Allah, melainkan pasti Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia sangka, sebab kebaikan itu semuanya di tangan Allah, maka apabila Allah telah memberi husnudh-dhan, berarti Allah

akan memberi apa yang disangkanya itu. Maka Allah yang memberinya husnudh-dhan berarti akan melaksanakannya.

Abu Said Al-Khudry ra. berkata : Rasulullah saw. sambang orang sakit, maka Rasulullah bertanya kepada orang yang sakit itu : Bagaimanakah sangkamu terhadap Tuhanmu ? Jawabnya : Ya Rasulullah husnudh-dhan. Maka bersabda Nabi saw. : Sangkalah sesukamu kepada Allah, maka Allah selalu akan memberi apa yang disangka oleh orang mukmin.

Hikam Ibnu 'Atoillah

077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.

Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

219. لاَ تَسْتَبْطِئْ مِنْهُ النَّوَالَ، وَلٰكِنِ اسْتَبْطِئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجُودَ الْإِقْبَالِ.

Jangan merasa lambat datangnya kurnia pemberian Allah kepadamu, tetapi hendaknya engkau merasakan kelambatan dirimu untuk menghadap kepada Tuhan. Jangan merasa datangnya kurnia pemberian Allah yang lanfbat, tetapi rasakanlah kelambatan dirimu untuk membulatkan iktikat yang baik kepada Tuhanmu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

284. فَإِذَا نَزَلُوا إِلَى سَمَاءِ الْحُقُوقِ أَوْ أَرْضِ الْحُظُوظِ فَبِالْإِذْنِ وَالتَّمْكِينِ وَالرُّسُوخِ فِي الْيَقِينِ، فَلَمْ يَنْزِلُوا إِلَى الْحُقُوقِ بِسُوءِ الْأَدَبِ وَالْغَفْلَةِ، وَلاَ إِلَى الْحُظُوظِ بِالشَّهْوَةِ وَالْمُتْعَةِ، بَلْ دَخَلُوا فِي ذٰلِكَ بِاللهِ وَلِلَّهِ وَمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ.

Maka apabila mereka tiba di langit (yakni menunaikan) hak kewajiban, atau turun ke bumi (yang berarti) menurutkan hawa nafsu, maka keduanya itu dengan izin dan keyakinan yang mendalam. Karena itu tidak menunaikan kewajiban dengan menyalahi adab atau kelalaian, demikian pula bila menurutkan hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk dalam kedua-dua bagian itu dengan bantuan pertolongan Allah, dan untuk keridhaan Allah, menurut tuntunan Allah, serta berharap kepada Allah.

Disalin