Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

284. فَإِذَا نَزَلُوا إِلَى سَمَاءِ الْحُقُوقِ أَوْ أَرْضِ الْحُظُوظِ فَبِالْإِذْنِ وَالتَّمْكِينِ وَالرُّسُوخِ فِي الْيَقِينِ، فَلَمْ يَنْزِلُوا إِلَى الْحُقُوقِ بِسُوءِ الْأَدَبِ وَالْغَفْلَةِ، وَلاَ إِلَى الْحُظُوظِ بِالشَّهْوَةِ وَالْمُتْعَةِ، بَلْ دَخَلُوا فِي ذٰلِكَ بِاللهِ وَلِلَّهِ وَمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ.

Maka apabila mereka tiba di langit (yakni menunaikan) hak kewajiban, atau turun ke bumi (yang berarti) menurutkan hawa nafsu, maka keduanya itu dengan izin dan keyakinan yang mendalam. Karena itu tidak menunaikan kewajiban dengan menyalahi adab atau kelalaian, demikian pula bila menurutkan hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk dalam kedua-dua bagian itu dengan bantuan pertolongan Allah, dan untuk keridhaan Allah, menurut tuntunan Allah, serta berharap kepada Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

142. لَوْلاَ جَمِيلُ سِتْرِهِ لَمْ يَكُنْ عَمَلٌ أَهْلاً لِلْقَبُولِ.

Andaikata tidak ada kebaikan tutup dari Allah niscaya tidak ada amal yang layak untuk diterima. Syarat untuk diterima tiap amal itu adalah ikhlas, tulus kepada Allah, tetapi manusia teruji dengan sombong diri, merasa sudah cukup beramal lebih jahat lagi jika ia riya' dengan amal perbuatannya, dan mengharap pujian atas amal perbuatan itu. Karena demikian tabiat tiap hamba, maka sukar untuk dapat diterimanya segala amal perbuatannya, kecuali mengharap rahmat kurnia dan kesabaran Allah semata-mata.

Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata : Jika Allah menuntut mereka tentang keikhlasan, maka lenyaplah semua amal perbuatan mereka, dan apabila telah lenyap semua amal perbuatan mereka, bertambahlah hajat kebutuhan mereka, maka dengan itu mereka lalu melepaskan diri daripada bergantung kepada segala sesuatu, dan apabila ia telah bebas dari segala sesuatu kembalilah mereka kepada Allah dalam keadaan telah bersih dari segala sesuatu, meskipun amal perbuatan sendiri atau tenaga kekuatan tidak karena baiknya kurnia Allah yang menutupi kekurangan- kekurangan kita dalam semua amal perbuatan kami, maka tidak akan ada amal perbuatan yang dapat diterima oleh Allah. maka nyata bahwa diterimanya amal taat itu hanya kurnia dan rahmat Allah semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

082. مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلاً فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ الْقَبُولِ آجِلاً.

Siapa yang dapat merasakan buah dari amal ibadatnya di dunia ini, maka itu dapat dijadikan tanda diterimanya amal itu oleh Allah kelak. Buah dari amal ibadat di dunia ini ialah merasakan lezat manisnya amal itu, sehingga terasa sebagai nikmat yang tidak ada bandingnya.

Atabah Al-Ghulam berkata : Saya melatih diri sembahyang malam dua puluh tahun, setelah itu baru saya merasakan nikmat bangun malam,

Tsabit Al-Bunany ra. berkata : Saya melatih membaca Qur'an dua puluh tahun setelah itu baru saya merasakan nikmat membaca Qur'an.

Abu Turaab berkata : Jika seorang bersungguh-sungguh dalam niat amalnya, dapat merasakan nikmat amal itu sebelum mengerjakan- nya, dan apabila ikhlas dalam melakukannya merasakan manisnya amal ketika melakukannya, dan amal yang sedemikian sifatnya, itulah amal yang diterima dengan kurnia Allah. Al-Hasan berkata : Carilah manisnya amal itu pada tiga, maka bila kamu telah mendapatkannya bergembiralah dan teruskan mencapai tujuanmu, apabila belum kamu dapatnya ketahuilah bahwa pintu masih tertutup yaitu ketika membaca Qur'an, dan berzikir, dan ketika sujud. Adapula yang menerangkan : dan ketika bersedekah dan ketika bangun malam. Sejak kapankah kau merasa telah mengenal Allah ? yaitu ketika saya tiap akan berbuat pelanggaran terhadap ajaranNya merasa malu daripadaNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

008. إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ. أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالَ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ.

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma'rifat (mengenal padaNya), maka jangan menghiraukan soal amal-mu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan la akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma' rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedang amal per- buatanmu hadiah daripadamu, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu. Ma'rifat (mengenal) kepada Allah, itu adalah puncak keuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepadaNya, maka tidak usah kau hiraukan berapa banyak amal perbuatanmu meskipun masih sangat sedikit amal kebaikanmu. Sebab ma'rifat itu suatu karunia pemberian langsung dari Allah, maka ia sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal kebaikan.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw : Allah berfirman : Apabila Aku menguji hambaKu yang beriman, kemudian ia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya, maka Aku lepaskan ia dari ikatanKu dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari semula, dan ia boleh memperbaharui amal, sebab yang lalu telah diampuni semua.

Diriwayatkan : Allah telah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi saw. Aku telah menurunkan bala' (ujian) kepada seorang hamba maka ia berdoa, dan tetap Aku tunda permintaannya, akhirnya ia mengelu, maka Aku berkata kepadanya : Hambaku bagaimana aku akan melepas- kan daripadamu rahmat yang justru bala' itu mengandung rahmatku. Karena dengan segala kelakuan kebaikanmu engkau tak dapat sampai ke tingkat yang akan Aku berikan kepadamu, maka dengan balä' itulah engkau dapat mencapai tingkat dan kedudukan di sisi Allah.

Disalin