Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

277. وَالْمُشْتَغَلُ بِهِ هُوَ الَّذِي أَحْبَبْتَهُ وَسَارَعْتَ إِلَيْهِ، وَالْمُشْتَغَلُ عَنْهُ هُوَ الْمُؤْثَرُ عَلَيْهِ.

Dan yang harus dikerjakan ialah amal ibadah yang kau sukai serta cekatan dalam melakukan untuk tagarrub kepada Allah, sedang

yang harus diabaikan ialah hawa nafsu dan urusan dunia yang akan lenyap, yang sering-sering mempengaruhi. Karena itu harus mengutamakan yang tetap kekal abadi, dan mengabaikan yang sementara dan pasti musnah lenyap. Abdullah bin Ishaq Algafiqy berkata : Pada suatu malam ketika saya berjalan ke Masjidil Haram (Makkah) bertemu seorang yang sedang mem- bersihkan tanah, maka saya kira ia gila atau miskin (kelaparan), lalu saya tegur : Hai orang, untuk apakah kau main-main tanah? Jawabnya : Apakah ini tanah? Sambil memberikan kepadaku segenggam, tiba- tiba itu tepung. Maka tergerak dalam hatiku ini seorang waliyullah, kemudian saya duduk mendekatinya sambil berkata kepadanya : Doakanlah saya, maka ia berdoa : Semoga Allah memberitahu kepada- mu kebesaran apa yang kau minta itu, sehingga ringan bagimu meninggalkan segala kepentingan dunia yang fana ini.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

152. الْأَكْوَانُ ثَابِتَةٌ بِإِثْبَاتِهِ، وَمَمْحُوَّةٌ بِأَحَدِيَّةِ ذَاتِهِ.

Alam ini ada bila ditetapkan oleh Allah, tetapi alam ini musnah lenyap dengan keesaan dzat Allah. Ke-esaan dzat Allah yang tidak bersekutu atau berbanding itu melenyapkan segala apa saja, yakni tetap Allah yang tunggal dan segala sesuatu selain Allah bayangan belaka dan bekas buatan Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

135. لاَ نِهَايَةَ لِمَذَامِّكَ إِنْ أَرْجَعَكَ إِلَيْكَ، وَلاَ تَفْرُغُ مَدَائِحُكَ إِنْ أَظْهَرَ جُودَهُ عَلَيْكَ.

Tiada batas akhirnya kejelekanmu jika Allah mengembalikan engkau kepada kekuatan usaha daya upayamu sendiri, dan tidak ada habisnya kebaikanmu, jika Allah memperlihatkan kemurahanNya kepadamu (pada dirimu). Rasulullah saw. dalam doanya :

أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ.

Ya Allah perbaikilah urusanku semuanya, dan jangan kau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap matapun.

Hikam Ibnu 'Atoillah

246. مَتَى أَلَمَّكَ عَدَمُ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَيْكَ أَوْ تَوَجُّهُهُمْ بِالذَّمِّ إِلَيْكَ، فَارْجِعْ إِلَى عِلْمِ اللهِ فِيكَ، فَإِنْ كَانَ لاَ يُقْنِعُكَ عِلْمُهُ، فَمُصِيبَتُكَ بِعَدَمِ قَنَاعَتِكَ بِعِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ مُصِيبَتِكَ بِوُجُودِ الْأَذَى مِنْهُمْ.

Apabila menyakitkan hatimu (menyedihkan hatimu) tidak menghadapnya orang-orang kepadamu, atau celaan orang-orang kepadamu, maka selidikilah apa yang diketahui Allah dari perbuatanmu (maka koreksilah keadaan diri yang sebenarnya menurut apa yang diketahui oleh Allah), maka apabila engkau belum puas dengan apa yang sebenarnya telah diketahui oleh Allah itu, maka bala' yang menimpa kepadamu karena tidak puas terhadap yang telah diketahui oleh Allah itu, lebih besar dari bala' sekedar diganggu oleh sesama manusia. Seharusnya seorang hamba hanya memperhatikan ridha dan murka Tuhannya saja, tidak gembira kecuali jika diridhai oleh Tuhan dan tidak sedih kecuali jika dimurkai oleh Tuhan, adapaun puji dan celaan orang, maka tidak harus dihiraukan, sebab jika engkau di sisi Allah baik, maka biarpun dicela oleh semua manusia niscaya engkau tetap baik dan untung, sebaliknya jika engkau busuk disisi Allah, maka walaupun engkau dipuji- puji oleh semua manusia, maka engkau tetap tersiksa dan binasa. Contohnya para Nabi, Rasul dan wali mereka tidak selamat dari makian orang. Karena itu kewajibanmu ialah membereskan dan memperbaiki hubungan dengan Allah, asal sudah beres sudah cukup baik.

Disalin