Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

134. إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فَضْلَهُ عَلَيْكَ خَلَقَ وَنَسَبَ إِلَيْكَ.

Jika Allah akan menunjukkan kurnianya kepadamu, maka ia yang menjadikan dan menamakan amal itu perbuatanmu. Sebagaimana firman Allah : Hai hambaKu yang beriman, hai orang-orang yang beriman. Padahal Allah yang memberikan iman itu. Karena itu jawaban hamba : Engkau yang memberikan kurnia kepadaku, sehingga aku berbuat taat, padahal saya sendiri tiada berdaya dan tidak berkekuatan kecuali semata-mata dengan pertolonganMu. Sahel bin Abbdullah ra. berkata : Jika seorang hamba berbuat kebaikan, lalu ia berkata : Engkau yang memberi kurnia, taufiq dan memudahkan kepadaku, niscaya Allah memuji kepada hamba itu dengan sabdanya : HambaKu engkau telah berbuat taat dan (tagarrub) mendekat kepadaKu. Sebaliknya jika hamba itu merasa beramal tidak ingat kepada taufiq pertolongan Allah, maka Allah mengabaikan (berpaling) sambil bersabdą : Aku yang memberi taufiq hidayat, dan Aku yang membantu memudahkan itu kepadamu. Dan apabila berbuat kejahatan lalu berkata : Engkau yang menakdirkan dan menghukum serta memutuskan (yakni saya tidak ikut bersalah). Jawab Tuhan : Hai hambaKu, kaulah yang salah, bodoh dan berbuat maksiat pelanggaran. Sebaliknya jika hamba yang berbuat dosa itu berkata : Aku telah berbuat salah karena aku bodoh dolim pada diriku sendiri. Maka dijawab oleh Tuhan : HambaKu Aku yang menentukan, menakdirkan dan menutupi serta mengampunkan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

154. الْمُؤْمِنُ إِذَا مُدِحَ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يُثْنَى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لاَ يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ.

Seorang mukmin jika dipuji orang, malu pada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ada pada dirinya. Seorang mukmin yang sesungguhnya ialah tidak merasa dirinya mempunyai sifat-sifat yang layak untuk dipuji, sebab ia hanya merasa mendapat karunia Allah jika ia dapat berbuat sesuatu yang baik, dan S paca Kalanya)

sama sekali bukan dari us uasaan dan kehendak sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

275. الْفِكْرَةُ فِكْرَتَانِ: فِكْرَةُ تَصْدِيقٍ وَإِيمَانٍ، وَفِكْرَةُ شُهُودٍ وَعِيَانٍ، فَالْأُولَى لِأَرْبَابِ الاِعْتِبَارِ، وَالثَّانِي لِأَرْبَابِ الشُّهُودِ وَالاِسْتِبْصَارِ.

Pikiran itu dua macam : Pikiran yang timbul dari iman percaya, dan pikiran yang timbul karena melihat kenyataan, maka yang pertama bagi orang salik yang mengambil dalil : Adanya makhluk menunjukkan adanya khalik, ialah mereka ahli i tibar. Sedang yang kedua bagi mereka yang terbuka hijab hingga dapat melihat kenyataan dengan matahatinya. Dan yang kedua ini berdalil : Adanya yang menjadikan itulah yang menunjukkan adanya benda yang dijadikan. Yang pertama yaitu orang salik, dari bawah ke atas, sedang orang majdzub dari atas ke bawah. Orang yang memikirkan (memperhatikan) adanya alam (makhluk) ada yang langsung melihat pada yang menjadikan, sehingga ia berkata : Karena adanya pencipta, maka terjadilah yang dicipta, sebaliknya ada yang terpengaruh oleh bendanya, sehingga berkata : Adanya ciptaan ini menunjukkan adanya pencipta.

Hikam Ibnu 'Atoillah

258. إِنَّمَا وَسِعَكَ الْكَوْنُ مِنْ حَيْثُ جُسْمَانِيَّتُكَ، وَلَمْ يَسَعْكَ مِنْ حَيْثُ رُوحَانِيَّتُكَ.

Sesungguhnya alam dapat mencukupi engkau hanya dari sudut jasmanimu semata-mata, tetapi tidak memuaskan engkau dalam hal kerohanianmu. Karena badan jasmani sejenis dengan benda-benda alam, maka di situlah letak hajat kebutuhan badan jasmanimu, sebaliknya rohanimu sama sekali tidak sejenis dengan benda-benda alam ini, bahkan jauh berbeda, maka karenanya tidak usah engkau harus menggantungkan. soal dengan kebendaan dan seharusnya hanya berhubungan kepada Tuhan Allah ta'ala. Ahmad bin Khadharawaih ketika ditanya : Amal perbuatan apakah yang utama? Jawabnya : Menjaga hati jangan sampai condong, menoleh/ menghadap pada sesuatu selain Allah ta'ala.

Abu Abdullah Al-Jallaab berkata : Siapakah yang hasrat semangat tujuannya lebıh tinggi dari alam benda, maka ia pasti sampai kepada Allah yang mencipta alam, tetapi siapa yang tujuannya hanya pada sesama makhluk maka tidak mendapat Tuhan, sebab Allah maha mulia untuk dapat menerima persekutuan/dipersekutukan.

Disalin