Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

254. الْمُؤْمِنُ يُشْغِلُهُ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَكُونَ لِنَفْسِهِ شَاكِرًا، وَتُشْغِلُهُ حُقُوقُ اللهِ عَنْ أَنْ يَكُونَ لِحُظُوظِهِ ذَاكِرًا.

Seorang mukmin sibuk memuji syukur kepada Allah, sehingga tidak sempat memandang diri (memuji diri) sendiri, sebagaimana ia sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah, sehingga lupa kepentingan diri. Memuji diri, ialah merasa telah berbuat amal kebaikan. Sedang hakikat mukmin itu apabila tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri, hanya semua itu semata-mata pemberian kurnia Allah, sebagaimana ia lupa kepentingan diri sendiri karena sibuk menunaikan kewajiban- kewajibannya terhadap Allah ta’ala.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

080. مَنْ رَأَيْتَهُ مُجِيبًا عَلَى كُلِّ مَا سُئِلَ، وَمُعَبِّرًا عَنْ كُلِّ مَا شَهِدَ، وَذَاكِرًا كُلَّ مَا عَلِمَ، فَاسْتَدِلَّ بِذٰلِكَ عَلَى وُجُودِ جَهْلِهِ.

Siapa yang selalu menjawab segala pertanyaan, dan men- ceritakan segala yang telah dilihat, dan menyebut segala apa yang ia ingat (ketahui), maka ketahuilah bahwa yang demıkian ıtu tanda kebodohan orang itu. Menjawab segala pertanyaan yang berhubungan ilmu bathin yang dituangkan Allah dalam hati orang arifin, menunjukkan adanya kebodohan, demikian pula jika menceritakan segala, yang dilihat, sebab semua itu berupa rahasia Allah yang diberikan kepada seorang hambaNya, maka jika diterangkan kepada yang bukan ahlinya, hanya akan menjadikan ejekan dan pendustaan belaka. Karena itu yang menerangkan (menceritakan) berarti bodoh.

Hikam Ibnu 'Atoillah

181. جَلَّ حُكْمُ الْأَزَلِ أَنْ يُضَافَ إِلَى الْعِلَلِ.

Maha suci hukum (putusan) Allah yang telah pasti dalam azal, jika disandarkan (digantungkan) kepada sebab musabab. Segala sesuatu yang terjadi dalam alam ini, hanya semata-mata dari qudrat iradat (kekuasaan dan kehendak) Allah secara mutlak, sehingga tidak boleh dikatakan karena ini atau itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

255. لَيْسَ الْمُحِبُّ الَّذِي يَرْجُو مِنْ مَحْبُوبِهِ عِوَضًا أَوْ يَطْلُبُ مِنْهُ غَرَضًا، فَإِنَّ الْمُحِبَّ مَنْ يَبْذُلُ لَكَ، لَيْسَ الْمُحِبُّ مَنْ تَبْذُلُ لَهُ.

Bukan seorang yang mencintai itu yang meminta apa-apa dari yang dicintai, tetapi sesungguhnya seorang yang cinta kasih itu, ialah yang berkorban untukmu, bukan yang engkau memberi apa-apa padanya.

Abu Abdullah Alqurasyi berkata : Hakikat kasih/cinta itu, bila engkau telah dapat memberikan keseluruhanmu kepada yang engkau cinta, sehingga tidak ada sisa apa-apa bagimu. Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Isa as. : Apabila Aku melihat hati hambaKu, tidak ada padanya cinta dunia dan akhirat, niscaya Aku penuhi hati itu dengan cinta kepadaKu.

Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud, sungguh Aku telah mengharamkan cintaKu untuk masuk ke dalam hati di mana dalam hati itu ada cinta kepada lainKu.

Disalin