Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya budi dan hati, dan baiknya hati itu sebagai hasil dari kesungguhan Istiqamah pada apa yang diperintah oleh Tuhan (yakni tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh Tuhan). Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya. Abu Hamid Alghazzaly berkata : Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan hal (perasaan) dan amal perbuatan. Ilmu-yaqin (keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran). Ainul-yaqin keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/terbuka). Haqqul-yagin (keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.
263. لاَ يُعْلَمُ قَدْرُ أَنْوَارِ الْقُلُوبِ وَالْأَسْرَارِ إِلاَّ فِي غَيْبِ الْمَلَكُوتِ، كَمَا لاَ تَظْهَرْ أَنْوَارُ السَّمَاءِ إِلاَّ فِي شَهَادَةِ الْمُلْكِ.
Tidak dapat diketahui nilai (kebesaran) nur hati dan sir itu, kecuali dalam alam malakut yang ghaib, sebagaimana matahari, bulan, bintang itu hanya terang di alam mulk (dunia ini).
Tidak dapat diketahui nilai (kebesaran) nur hati dan sir itu, kecuali dalam alam malakut yang ghaib, sebagaimana matahari, bulan, bintang itu hanya terang di alam mulk (dunia ini).
230. كَيْفَ يَحْتَجِبُ الْحَقُّ بِشَيْءٍ، وَالَّذِي يَحْتَجِبُ بِهِ هُوَ فِيهِ ظَاهِرٌ وَمَوْجُودٌ حَاضِرٌ.
Bagaimanakah Allah akan dapat terhijab dengan sesuatu, padahal yang digunakan hijab itu, juga Allah jelas ada padanya, dan tetap hadir. Bagaimanakah Allah akan terhijab dengan sesuatu, padahal sesuatu yang terlihat itu semata-mata nur Ilahi, dan pada segala tempat Allah berada dan hadir, tidak pernah ghaib. Karena itu disebut dalam hadits qudsy : Hijab Allah ialah nur yang apabila dibuka niscaya dapat membakar apa saja yang diperlihatkannya, jangankan manusia akan dapat bertahan sedang bukit hancur, dan Nabi Musa aya Nabi mka pingsan sebelum melihat langsung. Demikianlah rahmat Allah menjaga hamba-hamba-Nya.
Bagaimanakah Allah akan dapat terhijab dengan sesuatu, padahal yang digunakan hijab itu, juga Allah jelas ada padanya, dan tetap hadir. Bagaimanakah Allah akan terhijab dengan sesuatu, padahal sesuatu yang terlihat itu semata-mata nur Ilahi, dan pada segala tempat Allah berada dan hadir, tidak pernah ghaib. Karena itu disebut dalam hadits qudsy : Hijab Allah ialah nur yang apabila dibuka niscaya dapat membakar apa saja yang diperlihatkannya, jangankan manusia akan dapat bertahan sedang bukit hancur, dan Nabi Musa aya Nabi mka pingsan sebelum melihat langsung. Demikianlah rahmat Allah menjaga hamba-hamba-Nya.
069. قَطَعَ السَّائِرِينَ إِلَيْهِ وَالْوَاصِلِينَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُودِ أَحْوَالِهِمْ، أَمَّا السَّائِرُونَ فَلِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيهَا، وَأَمَّا الْوَاصِلُونَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهَا.
Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka. Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan. Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri. Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata. Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga
dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurnia Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurnia rahmat Allah.
Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka. Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan. Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri. Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata. Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga
dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurnia Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurnia rahmat Allah.