Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

249. جَعَلَهُ لَكَ عَدُوًّا لِيَحُوشَكَ بِهِ إِلَيْهِ، وَحَرَّكَ إِلَيْهِ النَّفْسَ لِيَدُومَ إِقْبَالُكَ عَلَيْهِ.

Sengaja Allah menjadikan syaithan sebagai musuhmu, supaya engkau jemu pada syaithan dan berlindung kepada Allah. demikian pula Allah tetap menggerakkan hawa nafsumu supaya engkau tetap selalu menghadap kepada Allah untuk melawan hawa nafsu. Allah berfirman :

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (النحل: ٩٩)

Sesungguhnya syaithan tidak berdaya (tidak kuasa) terhadap orang yang betul-betul beriman dan kepada Tuhan mereka berserah diri dan bertawakkal kepada Allah. (Annahl 99).

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ (النحل: ١٠٠)

Sesungguhnya kekuatan/kekuasaan syaithan itu hanya pada orang- orang yang berwali kepadanya (menurut pada pimpinan/bisikan- bisikannya, dan dengan itu mereka mehyekutukan Allah). (Annahl 100).

Firman Allah :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ (يوسف: ٥٣)

Dan tiadalah saya merasa bersih diri, sebab hawa nafsu itu men- dorong kepada kejahatan, kecuali bagi orang yang dapat hidayat/

rahmat Tuhanku, sungguh Tuhanku maha pengampun lagi penyayang.

(Yusuf 53)

Kata pujangga : Sungguh aku telah diuji dengan empat musuh yang selalu melempar aku dengan anak panah yang dapat menembus. Yaitu : Iblis, dunia, hawa nafsu dan syahwat. Ya Tuhanku hanya Engkau yang dapat menyelamatkan aku. Allah menjadikan syaithan sebagai musuh manusia ini suatu nikmat besar bagi manusia, sebab dengan demikian manusia selalu harus berlindung dan mendekat kepada Allah, untuk menjaga keselamatan diri dari syaithan (musuhnya) itu. Sebab dia sendiri tidak akan sanggup melawan musuhnya yang kawankan dan sangat samar itu, kecuali dengan perlindungan Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

103. مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِي كُلِّ ذٰلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.

Apabila Allah memberi karunia kepadamu, maka la akan menunjukkan kepadamu kurnia belas kasihNya, dan apabila menolak pemberianNya atasmu, maka la akan menunjukkan kepadamu kekuasaanNya, maka la dalam semua itu memperkenalkan diri kepadamu, dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemberian pemeliharaanNya kepadamu. Keharusan tiap hamba harus mengenal Tuhan, dengan segala sifat- sifat kebesaranNya. Maka siapa yang tidak suka mengenal dengan sifat Mu'thi. Wahhab (pemberi) harus ia mengenal Allah dengan sifat : Mani' (menolak) Muntaqim (membalas) Qahhar (memaksa). Tetapi apabila semata-mata kurnia Allah kepada hambaNya. Sufyan Astsaury bertemu dengan Abu Habib Al-Badry, dan memberi salam. Abu Habib bertanya : Engkaulah Sufyan Astsaury yang terkenal itu ? Jawabnya : Benar, semoga Allah memberkahi apa yang dikatakan orang-orang itu. Lalu berkata Abu Habib : Hai Sufyan, tidak ada suatu kebaikan melainkan berasal dari Tuhan. Jawab Sufyan.: Benar. Ditanya : Mengapakah kamu tidak suka bertemu pada siapa yang tidak kebaikan kecuali dari padaNya. Hai Sufyan : Penolakan Allah kepadamu itu berarti pemberian kurniaNya kepadamu, sebab ia tidak menolak karena bakhil atau tidak ada, hanya ia menolak permintaanmu itu karena kasihnya kepada- mu dan untuk menguji kamu. Hai Sufyan, Sesungguhnya aku masih senang duduk dengan engkau tetapi bersamamu itu ada kesibukan, kemudian Abu Habib menuju ke kambingnya dan membiarkan Sufyan Astsaury.

Hikam Ibnu 'Atoillah

171. رُبَّمَا دَخَلَ عَلَيْكَ الرِّيَاءُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَنْظُرُ الْخَلْقُ إِلَيْكَ.

Ada kemungkinan masuknya riya' dalam amal perbuatanmu dari arah yang tidak ada orang yang melihat kepadamu. Beramal di muka orang untuk dilihat orang itu riya' yang terang jelas. Beramal sendirian, tidak ada orang yang mengetahui lalu ingin disanjung dihormat, bahkan jika ada kebutuhan supaya lekas-lekas orang membantu kepadanya, atau bila membeli sesuatu supaya dikorting (dikurangi) harga- nya, dan sekiranya ada orang yang tidak hormat padanya, ia mengharap semoga terkena siksa atau balasan Allah, ini semuanya termasuk riya' yang samar. Rasulullah saw. bersabda : Syirik itu ada yang lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Dan riya' termaşuk dari syirik yang samar. Yaitu beramal tidak karena Allah ta'ala.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Kelak pada hari kiamat Allah akan berkata kepada orang-orang yang zahid dan fakir : Tidakkah telah dimurah- kan (diturunkan) harga barang-barang untuk kamu, tidakkan jika kamu, berjalan lalu diberi salam lebih dahulu, tidakkah jika kamu berhajat (kepentingan) segera disampaikan segala hajatmu. Di dalam lain hadits : Kini tidak ada pahala bagimu, sebab semua pahalamu telah kamu terima semasa hidup di dunia. Abdullah bin Al-Mubarak meriwayatkan dari

Wahb bin Munabbih : ada seorang ahli ibadat berkata : kepada kawan- kawannya : Kami setelah meninggalkan harta kekayaan ini tidak kuatir menyeleweng dari jalan Allah, tetapi kami kuatir kalau-kalau kami telah menyeleweng dari agama melebihi dari penyelewenangan orang yang banyak harta dan anak buah, karena ada di antara kami yang ingin dihormati, disanjung karena agamanya, jika berhajat minta lekas disampaikan hajat- nya karena merasa beragama. Jika membeli sesuatu minta dimurahkan

karena merasa beragama. Ketika berita nasehat ini sampai kepada raja, maka datangiah raja dengan rombongannya yang besar sekali untuk berziarah kepada gunt vang bernasehat demikian kepada kawan-kawannya İtu, dun ketika terdengar kepadanya bahwa raja akan ziarah kepadanya, segera ia minra zepada kawannya berbagai macam makanan, lalau ia anakan dengan razas, sehingga keaka maja bertanya : Manakah orang vang meinbert nasehat demikian itn ? Di jawab : Itulah orang yang sedang nakan. Maka raja bertanya : bagaimanakah keadaanmu ? Jawabnya : amu y Jawabdya seperti orang banvak, baik-baik saja. Maka ketika raja melihat keadaan itu iz berkata kepada rombongannya : Tidak perlu datang kepada orang ui, tidak ada sebaikon baginya, ialu kembali raja. Tiba-tiba orang itu berkata : Alhamdulillah yang menghalaukan engkau darı padaku dan menjadikan engkau mencela padaku. Yusuf bin Al-Husain Arrazy berkata : Sesuatu yang amat berharga di dunia ini ialah ikhlas, beberapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya' dari dalam hatiku, tiba-tiba ia tumbuh dalam lain corak (warna).

Hikam Ibnu 'Atoillah

109. فَاقَتُكَ لَكَ ذَاتِيَّةٌ، وَوُرُودُ الْأَسْبَابِ مُذَكِّرَةٌ لَكَ بِمَا خَفِيَ عَلَيْكَ مِنْهَا، وَالْفَاقَةُ الذَّاتِيَّةُ لاَ تَرْفَعُهَا الْعَوَارِضُ.

Kebutuhanmu itu adalah sifat asli dalam dzat kejadianmu sedang sebab-sebab (kejadian-kejadian) yang menghinggapi dirimu itu untuk mengingatkan engkau apa yang tersembunyi bagimu dari sifat aslimu itu, sedang kebutuhan yang asli itu tidak dapat dihindarkan oleh sesuatu yang sementara (fantasi). Apabila telah nyata bahwa wujudmu itu pemberian (ciptaan) Tuhan, demikian pula segala hajat kebutuhan tiap detik untuk kelanjutan hidup, itupun pemberian Tuhan, maka nyata, bahwa kebutuhan dan kemiskinanmu itu asli dalam kejadianmu, maka jika engkau merasa seolah-olah tidak berhajat karena sudah hidup, maka hal itu sesuatu yang hinggap sementara terasa ketika engkau lupa dari asal kejadianmu, maka Allah memberi padamu peringatan berupa penyakit, lapar, haus, panas, dingin dan lain-lainnya untuk memperingatkan kepada keaslianmu. Sedang segala sesuatu yang fantasi atau sementara tidak dapat merubah yang asli.

Disalin