Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

245. الْعِلْمُ إِنْ قَارَنَتْهُ الْخَشْيَةُ فَلَكَ، وَإِلاَّ فَعَلَيْكَ.

Ilmu itu jika disertai rasa takut kepada Allah, maka itu yang menguntungkan bagimu, jika tidak maka itu bahaya bagimu. ulullah saw. bersabda: Tiap hari di mana aku tidak bertambah ilmu yang mendekatkan aku kepada Allah, maka berarti tidak berkat bagiku terbit matahari pada hari itu.

Rasulullah saw. bersabda : Akan keluar pada akhir zaman orang yang mencari (mencuri) dunia dengan kedok agama, memperlihatkan (memakai) di muka orang bulu domba karena lunak, lidahnya lebih manis dari madu, tetapi hatinya hati srigala. Allah akan berkata kepada mereka : Apakah kamu akan menentang kepadaKu, atau mempermainkan Aku, maka demi kebesaran-Ku Aku akan menurunkan terhadap mereka ujian fitnah, sehingga orang yang sabar tenang menjadi kebingungan.

Rasulullah saw. bersabda : Akan tiba suatu masa pada ummat manusia, tiada tinggal dari Qur’an kecuali tulisannya saja dan Islam hanya namanya belaka. Hati orang-orangnya kosong dari petunjuk hidayat, dan masjid hanya penuh jasad manusia yang tak berhati taqwa, sejahat manusia waktu itu ialah para ulama, sebab dari mereka sumber fitnah dan kepada mereka pula kembalinya.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang belajar ilmu agama, tidak untuk mencapai keridhaan Allah, tidak mempelajarinya kecuali untuk mencapai suatu kepentingan dunia, maka ia tidak akan mendapat (merasai) bau surga pada hari kiamat. Al-hasan ra. berkata : Siksa bagi seorang alim itu matinya hati. Ketika ditanya : bagaimana matinya hati itu ? Mencari dunia dengan menjual amal akherat.

Dan lebih jahat lagi jika ia menjilat-jilat kepada raja (pemerintah) untuk mencari keuntungan dari uang haram atau syubhat, maka yang demikian terang-terangan menentang murka Allah.

Abud-Dardaa’ ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah telah menurunkan wahyu pada salah seorang nabi : Katakanlah kepada orang-orang yang belajar figih agama, tidak untuk kepentingan agama, dan belajar tidak untuk diamalkan, mereka mencari dunia dengan amal akherat, memakai bulu kambing, tetapi hati mereka hati srigala, lidahnya lebih manis dari madu, dan hatinya lebih pahit dari jadam, apakah mereka akan mempermainkan Aku, atau mengejek kepadaKu, pasti akan Aku turunkan kepada mereka fitnah ujian, sehingga orang yang tenang sabar menjadi bingung.

Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya Allah akan memperkuat/ menyebarluaskan agama ini dengan lidah seorang yang lacur/lancung Fargad Assindy bertanya pada Abul-Hasan Al-Bashry suatu masalah, dan setelah dijawab, ia berkata : Para fuqahaa’ (ahli-ahli ilmu figih) berbeda dengan keteranganmu itu. Berkata Abul-Hasan : Pernahkah engkau melihat dengan mata kepalamu orang fagih (yang alim figih) itu. Seorang faqih ialah yang zuhud (tidak rakus) terhadap dunia, yang gemar akherat, yang waspada dalam agama, yang tetap pada taat ibadahnya, yang wara’, tidak melukai kehormatan sesama muslim, yang menjauhi harta mereka, yang rajin beribadat, yang mengikuti sunnaturrasul, yang tidak membenci orang yang di atasnya, dan tidak menghina orang yang di bawahnya, yang tidak mencari dunia dengan ilmu yang diajarkannya oleh Allah. Berkata pengarang kitab Azzubad : Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum menyembah berhala. Dan siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah baik budi akhlaknya dan takutnya kepada Allah, maka tiada bertambah dekaı kepada Allah, bahkan bertambah jauh dari Allah ta’ala.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

282. بَلْ أَنْهَضَ الْهِمَّةَ فِيهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى، وَسَارَعَ مُسْتَعِينًا بِهِ فِي الْقُدُومِ عَلَيْهِ.

Bahkan terus bangkit semangat ingin segera sampai kepada Allah dan terus berjalan menuju kepadaNya, sambil berharap pertolongan Allah untuk segera sampai kepada Allah.

Abu Muhammad Al-Jariry berkata : Siapa yang menyangka bahwa ada sesuatu amal perbuatannya dapat menyampaikannya ke tujuan keinginannya baik yang tinggi atau yang rendah, maka ia telah sesat dari jalannya. Sebab Nabi saw. bersabda : Tidak dapat menyelamatkan seorang itu amalnya sendiri. (Yakni tidak ada amal perbuatan yang dapat menyelamatkan orang lain). Hanya semua itu tergantung pada kurnia rahmat Allah semata- mata. Karena itu untuk mencapai segala hajat tujuan harus langsung kembali mengharap rahmat kurnia Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

247. إِنَّمَا أَجْرَى الْأَذَى عَلَى أَيْدِيهِمْ كَيْ لاَ تَكُونَ سَاكِنًا إِلَيْهِمْ، أَرَادَ أَنْ يُزْعِجَكَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى لاَ يَشْغَلَكَ عَنْهُ شَيْءٌ.

Memang sengaja Allah melaksanakan gangguan terhadap dirimu dari tangan orang-orang itu, supaya engkau tidak jinak kepada mereka. Sengaja Allah menjengkelkan (menjemukan) engkau dari segala sesuatu, supaya tidak ada sesuatu yang melupakan engkau daripada Allah (supaya tidak ada yang mengganggu engkau untuk ingat kepada Allah).

Abul-Hasan Asysyadzily berkata : Larilah dari kebaikan (bantuan orang, melebihi dari larimu dari kejahatan orang kepadamu, sebab kebaikan orang itu langsung membahayakan hatimu sedang kejahatan mereka hanya membahayakan jasmanimu, dan bahaya jasmani itu lebih ringan dari bahaya hati. Bahaya kebaikan orang kepadamu, jika kamu jinak, senang, menyandar, berharap kepada mereka. Sesungguhnya jika ada musuh yang mendekatkan engkau kepada Allah lebih baik dari teman/kawan yang memutuskan engkau dari Allah. Abdussalam bin Masyisy ra. berdoa : Ya Allah ada orang-orang yang minta kepadaMu supaya semua orang jinak kepadanya, maka telah Engkau perkenankan dan mereka puas dengan itu, sebaliknya saya minta supaya semua makhluk menjauh daripadaku sehingga tidak ada bagiku tempat berlindung dan berharap kecuali kepadaMu.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang memberi kepadamu kebaikan (hadiah), maka lekas engkau balas dengan yang seimbang maka jika tidak dapat kamu membalas, maka doakanlah orang itu. (Yakni supaya tidak merasa berhutang budi padanya). Doanya : Jazaka Allahu Khoira ( Semoga Allah membalasmu kebaikan).

Muhammad bin Al-Hasan berkata : Ketika saya sedang berputar- putar di bukit Lubnan, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari bukit hangus badannya oleh serangan angin samum, maka ketika pemuda melihat padaku, tiba-tiba melarikan diri, lalu saya kejar, dan ketika ia telah berhenti saya minta nasehat kepadanya, maka ia berkata : Berhati-hatilah daripada Allah, karena Allah itu sangat cemburu, ia tidak suka melihat dalam hati hambaNya sesuatu selainNya. (Yakni tidak boleh ada dalam hati hambaNya sedikitpun dari syirik). jangan sampai ada dalam hati perasaan : Barangkali orang akan menolong atau membantu padaku.

Hikam Ibnu 'Atoillah

102. مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُودَ الْعُقُوبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ.

Siapa yang menyembah kepada Allah karena mengharap sesuatu, atau untuk menolak bahaya siksa atas dirinya, maka belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah. Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasih kepadanya ialah yang beribadat bukan karena upah pemberian, tetapi semata-mata karena Aku berhak untuk disembah. Dalam kitab Zabur ada tersebut : Dan siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka, apakah andaikan Aku tidak membuat surga dan neraka, tidak berhak untuk disembah.

Bersabda Nabi saw. : Jangan berlaku sebagai seorang hamba yang busuk jika takut, lalu bekerja dan jangan berbuat sebagai buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja.

Sebab sebenarnya pemberian Allah kepada hamba itu sudah lebih dari yang diharapkan yaitu hidupnya, nafasnya, panca inderanya dan kesehatannya dan lain-lainnya.

Abu Hazim berkata : Saya malu menyembah Allah karena pahala, seperti buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja atau menyembah karena takut siksa seperti budak yang curang jika tidak takut siksa tidak bekerja, tetapi saya menyembah Allah karena cinta kepadaNya. Sufyan Astsaury minta nasehat dari Rabi'ah Al-adawiyah, maka berkata Rabi'ah : Engkau seorang yang baik, andaikan engkau tidak cinta kepada dunia.

Disalin