Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

233. لاَ تَطْلُبَنَّ بَقَاءَ الْوَارِدَاتِ بَعْدَ أَنْ بَسَطَتْ أَنْوَارَهَا عَلَيْكَ وَأَوْدَعَتْ أَسْرَارَهَا، فَلَكَ فِي اللهِ غِنًى عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَلَيْسَ يُغْنِيكَ عَنْهُ شَيْءٌ.

Jangan minta tetapnya itu warid setelah kau merasakan (mendapatkan) buah terangnya nur (cahaya)nya, dan tertangkap semua rahasia-rahasianya, maka cukup bagimu mengabdi kepada Allah sehingga tidak membutuhkan sesuatu yang lainnya, sebab tidak ada sesuatu yang dapat mencukupi sehingga tidak berhajat kepada Allah.

Ketahuilah bahwa semua isi alam, dan segala nur, tingkat-tingkat magam kewalian dan lain-lainnya itu, semata-mata kurnia Allah kepada anak Adam, karena itu manusia tidak boleh bergantung kepada semua itu, adanya itu atau tidak adanya sama saja, tidak boleh menggoncangkan jiwa manusia, selama ada Allah yang memberi itu semua. Dunia dibuat oleh Allah untuk manusia, dan manusia dijadikan untuk mengabdi kepada Allah. Karena itu manusia harus merasa kaya dengan adanya Allah, sehingga tidak boleh menyandar (menggantungkan) pada sesuatu selain Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

262. دَلَّ بِوُجُودِ آثَارِهِ عَلَى وُجُودِ أَسْمَائِهِ، وَبِوُجُودِ أَسْمَائِهِ عَلَى ثُبُوتِ أَوْصَافِهِ، وَبِثُبُوتِ أَوْصَافِهِ عَلَى وُجُودِ ذَاتِهِ، إِذْ مُحَالٌ أَنْ يَقُومَ الْوَصْفُ بِنَفْسِهِ. فَأَرْبَابُ التَّجَلِّي يُكْشَفُ لَهُمْ عَنْ كَمَالِ ذَاتِهِ، ثُمَّ يُرْجَعُونَ إِلَى شُهُودِ صِفَاتِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى التَّعَلُّقِ بِأَسْمَائِهِ، ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى شُهُودِ آثَارِهِ. وَالسَّالِكُونَ عَلَى عَكْسِ ذٰلِكَ، فَنِهَايَةُ السَّالِكِينَ بِدَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، وَبِدَايَةُ السَّالِكِينَ نِهَايَةُ الْمَجْذُوبِينَ، لٰكِنْ لاَ بِمَعْنًى وَاحِدٍ، فَرُبَّمَا الْتَقَيَا فِي الطَّرِيقِ، هٰذَا فِي تَرَقِّيهِ وَهٰذَا فِي تَدَلِّيهِ.

Terbukti dengan adanya makhluk (alam) atas adanya nama- nama Allah dan dengan nama-nama itu atas adanya sifat, dan dengan pastinya adanya, sifat-sifat itu atas adanya dzat Allah, sebab muhal (tidak dapat diterima oleh akal) adanya sifat yang berdiri sendiri tanpa dzat. Maka orang-orang yang maj-dzub pertama terbuka (terlihat) oleh mereka kesempurnaan dzat Allah, kemudian menurun melihat sifat-sifat Allah, dan menurun pula melihat (bersandar) kepada nama- nama Allah, sehingga menurun melihat makhluk buatan Allah, sebaliknya orang salik dari bawah naik ke atas, maka puncak orang salik sampai ke permulaannya orang maj-dzub, dan permulaan orang

salik itulah penghabisan orang maj-dzub, tetapi tidak berarti sama dalam segala-galanya, hanya saja ada kalanya bertemu di jalanan yang satu ketika sedang mendaki dan yang lain sedang menurun. Adanya makhluk alam ini menunjukkan (membuktikan) adanya nama-nama Allah : Qaadir, aliim, hakiim, murid dan adanya nama- nama itu pasti adanya sifat-sifat : Qudrat, iradat, ilmu dan tiap-tiap sifat pasti berdiri di atas dzat sebab sifat tidak berdiri sendiri, maka pasti pula adanya dzat Allah. Sedang sifat makhluk (manusia) ada yang maj-dzub (yakni langsung dibukakan oleh Allah dan sampai kepada ilmu/mengenal Allah) bukan dari bawah/saluran yang umum, dan ada yang melalui jalan biasa dari bawah ke atas yaitu orang yang disebut orang salik. Dan keduanya selama belum mencapai puncak akhirannya belum dapat dijadikan guru yang dapat ditiru. Orang maj-dzub jika belum mengetahui perjalanan orang salik dan orang salik jika belum sampai ke puncak yang didapat (dibukakan) bagi orang maj-dzub.

Disalin