Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

221. مَا فَاتَ مِنْ عُمْرِكَ لاَ عِوَضَ لَهُ، وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لاَ قِيمَةَ لَهُ.

Yang telah hilang dari umur (usia) hidupmu tidak dapat ditarik kembali, sedang yang telah berhasil bagimu, tidak dapat dinilai harganya. Waktu itu sangat berharga karena itu jangan digunakan kecuali untuk sesuatu yang berharga. Adapula kata : Waktu itu adalah uang. Kata ahli sya’ir : Saat-saat dalam usia hidupmu itu bagaikan berlian yang sangat berharga, karena itu jadikanlah masa dan saat-saat yang berharga itu untuk mencapai kejayaan dunia akheratmu dan kebahagiaan.

Rasulullah saw. bersabda : Tiada sesuatu saat/masa yang datang pada seorang hamba, kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah dalam saat itu, melainkan saat itu akan merupakan kemenyesalan pada hari qiamat. Kelak pada hari qiamat saat-saat umur manusia pada tiap hari dan malam itu akan diperlihatkan berupa 24 lemari yang berbaris, maka dapat melihat masing-masing lemari itu penuh dengan nikmat pembalasan, terhadap amal perbuatan yang dilakukan pada saat itu, adapun saat-saat yang tidak beramal apa-apa didalamnya, maka lemarinya pun kosong, maka di situlah letak kemenyesalan yang tidak terhingga. Dan sesal kemudian tetap tidak berguna.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

122. لاَ يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلاَّ جَهُولٌ، الْوَارِدُ يُوجَدُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْوِرْدُ يَنْطَوِي بِانْطِوَاءِ هٰذِهِ الدَّارِ، وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لاَ يُخْلَفُ وُجُودُهُ، الْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ، وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ، وَأَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ مِمَّا هُوَ مَطْلُوبُكَ مِنْهُ.

Tidak akan meremehkan wirid, kecuali orang yang bodoh (sangat tolol). Kurnia Allah (warid) terdapat di akherat, tetapi wirid akan habis dengan habisnya dunia. Dan sebaik-baik (seutama-utama) vang harus diperhatikan oleh seseorang yaitu yang tidak kunjung habis, wirid itu sebagai perintah Allah kepadamu, sedang warid (kurnia) itulah hajat kebutuhanmu dari Allah. Maka di manakah letak bandingan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapanmu dari Tuhan. Wirid ialah segała macam bentuk ibadat lahir batin baik yang wajib maupun sunnat. Sedang Waarid : Pemberian-pemberian Tuhan dalam hati hamba yang berupa keterangan, nur cahaya dan kesenangan berbuat ibadat, taufiq dan hidayatNya. Maka sebaiknya, seorang hamba menjalankan kewajibannya, daripada melonjak-lonjak kepada apa yang menjadi hak Allah semata- mata. Terutama wirid itu hanya berlaku masih hidup di dunia ini saja, sedang waarid akan lanjut sampai ke akherat. Rasulullah saw. telah bersabda : Amal yang sangat disukai oleh Allah ialah yang dawam (terus menerus) meskipun sedikit. Al-Hasan Albasry berkata : Siapa yang sama hari kininya dengan kemarinnya, maka ia rugi dan siapa yang harinya itu lebih buruk dari kemarinnya, maka ia mahrum (tidak dapat rahmat), dan siapa yang tidak bertambah berarti berkurang, dan siapa yang makin berkurang amalnya, maka mati lebih baik baginya. Ketika Al-Junaid ditegor orang karena memegang tasbih di tangannya : Tuan dalam kedudukan yang demikian itu masih saja menggunakan tasbih. Jawab Al-Junaid : Alat yang telah menyampaikan kami, maka tidak saya tinggalkan. Al-Junaid : berkata : Orang aarif menerima semua amal (wirid) itu sebagai tugas dari Allah, karena itu mereka akan kembali menghadap kepada Allah dengan kebiasaan wirid (ibadat) yang ditugaskan oleh Allah itu. Dan andaikata seribu tahun tidak akan mengurangi sedikitpun dari amal wiridku, kecuali jika ia terhalang untuk melakukannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

074. مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا.

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk hilangnya nikmat itu, dañ siapa yang syukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.

Firman Allah :

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ (إبراهيم: ٧)

Bila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu.

Firman Allah :

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (النحل: ٥٣)

Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah (maka itu dari Allah).

Firman Allah :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (الضحى: ١١)

Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka kau pergunakan (ceritakan/sebarkan).

Annu'maan bin Basyir ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Syukur : lalah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.

Al-Junaid berkata : Ketika saya baru berusia 7 tahun hadir dalam majlis Assariyussagathi, tiba-tiba saya ditanya : Apakah arti syukur ? Jawabku : Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yang diberi Allah untuk perbuatan maksiat. Assary berkata: Saya kuatir kalau bagianmu dari kurnia Allah hanya dalam lidahmu belaka. Berkata Al-Junaid : Maka karena kalimat yang dikeluarkan oleh Assary itu saya selalu menangis, kuatir kalau benar apa yang dikatakan oleh Assary itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

149. لَوْلاَ ظُهُورُهُ فِي الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُودُ أَبْصَارٍ، وَلَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ لاَضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ.

Andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan padaNya, dan andaikan Allah mendhahirkan sifatNya pasti lenyaplah alam bendaNya.

Firman Allah :

فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا (الأعراف: ١٤٣)

Ketika Allah bertajalli kepada bukit, hancurlah (lenyaplah) bukit itu, sedang Nabi Musa jatuh pingsan.

Rasulullah saw. bersabda : Hijab Allah itu berupa cahaya, andaikan dibuka pasti akan terbakar segala sesuatu yang menghadapinya. n Abdi pada Khalanya)

Disalin