Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

209. أَوْجَبَ عَلَيْكَ وُجُودَ خِدْمَتِهِ، وَمَا أَوْجَبَ عَلَيْكَ إِلاَّ دُخُولَ جَنَّتِهِ.

Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surgaNya (dan tiada mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surgaNya). Sebenarnya segala kewajiban-kewajiban yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba semua itu semata-mata untuk kepentingan dan kemaslahatan hamba-hamba itu sendiri, sedang Allah sedikitpun tidak ada kepentingan manfaat atau madharrat. Abul Hasan Asshadzily berkata : Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dan cinta kepada Tuhan Allah swt. Nafas manusia ini sebagai amanat dari Tuhan, dan sebagai titipan wadah yang harus diisi. Dan hak ke Tuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang harus dilakukan oleh hamba.

Abul-Hasan berkata : Pada tiap waktu (saat/detik) ada bagian yang mewajibkan kepadamu hai manusia terhadap Tuhan swt.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

047. لاَ تَتَعَدَّ نِيَّةُ هِمَّتِكَ إِلَى غَيْرِهِ، فَالْكَرِيمُ لاَ تَتَخَطَّاهُ الْآمَالُ.

Jangan melanggar/melampaui niat tujuanmu (hasrat harapanmu) kepada lain-lainNya. Maka Tuhan yang maha murah itu tidak dapat diliwati oleh sesuatu harapan (angan-angan). Perasaan yang luhur enggan membuka hajat kebutuhannya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali Allah ta'ala.

Al-Junaid berkata : Al-Karim (Dermawan) itu ialah yang memberi hajat kebutuhan sebelum diminta. Ada pula pendapat : Al-Karim ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berangan-angan (berharap). Al-Karim yaitu apabila berkuasa memaafkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak

hirau berapa pemberiannya, dan kepada siapa memberinya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

202. لاَ يَنْبَغِي لِلسَّالِكِ أَنْ يُعَبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُقِلُّ عَمَلَهَا فِي قَلْبِهِ، وَيَمْنَعُ وُجُودَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ.

Tidak layak bagi seorang salik (yang baru merangkak dalam jihad melawan hawa nafsu) membuka atau menerangkan apa yang telah ia dapat daripada kurnia Tuhan, sebab yang demikian ini akan mengurangi pengaruhnya ke dalam hatinya sendiri, dan merusak (menghalangi) kesungguhannya terhadap Tuhan. Rahasia-rahasia yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang salik harus disimpan baik-baik, dan jangan diobral murah kepada sesama manusia, kecuali kepada yang dapat memimpinnya. Sebab bila ternyata bahwa ia dapat menyimpan rahasia-rahasia Tuhan yang diberikan kepadanya, ia akan mendapat kepercayaan untuk rahasia-rahasia yang lebih besar selanjutnya. Dan bila selalu diobral, berarti pandangannya belum bulat kepada Allah, tetapi masih selalu mengharap apa-apa kepada sesama makhluk.

Hikam Ibnu 'Atoillah

232. لاَ تَسْتَحْقِرَنَّ وِرْدًا لاَ تَعْلَمُ ثَمَرَتَهُ، فَلَيْسَ الْمُرَادُ مِنَ السَّحَابَةِ الْأَمْطَارَ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ مِنْهَا وُجُودُ الْأَثْمَارِ.

Jangan membanggakan (gembira) terhadap suatu warid (yakni kecondongan hati untuk berbuat taat) yang belum engkau ketahui buahnya, sebab bukan yang diharapkan dari awan itu sekedar hujan, tetapi tujuan utamanya ialah adanya buah dari pohon-pohonan. Contohnya amal ibadat sembahyang, jangan keburu merasa bangga dan gembira, karena sudah dapat sembahyang, selama belum merasakan buah sembahyang sebagaimana yang tersebut dalam ayat :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ (العنكبوت: ٤٥)

Sesungguhnya sembahyang itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ini buahnya sembahyang, maka selama belum mendapat buah yang demikian, jangan merasa bangga atau gembira, tetapi disamping itu jangan putus harapan untuk diterimanya meskipun belum berhasil segera buahnya.

Disalin