Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

202. لاَ يَنْبَغِي لِلسَّالِكِ أَنْ يُعَبِّرَ عَنْ وَارِدَاتِهِ، فَإِنَّ ذٰلِكَ يُقِلُّ عَمَلَهَا فِي قَلْبِهِ، وَيَمْنَعُ وُجُودَ الصِّدْقِ مَعَ رَبِّهِ.

Tidak layak bagi seorang salik (yang baru merangkak dalam jihad melawan hawa nafsu) membuka atau menerangkan apa yang telah ia dapat daripada kurnia Tuhan, sebab yang demikian ini akan mengurangi pengaruhnya ke dalam hatinya sendiri, dan merusak (menghalangi) kesungguhannya terhadap Tuhan. Rahasia-rahasia yang diberikan oleh Tuhan kepada seorang salik harus disimpan baik-baik, dan jangan diobral murah kepada sesama manusia, kecuali kepada yang dapat memimpinnya. Sebab bila ternyata bahwa ia dapat menyimpan rahasia-rahasia Tuhan yang diberikan kepadanya, ia akan mendapat kepercayaan untuk rahasia-rahasia yang lebih besar selanjutnya. Dan bila selalu diobral, berarti pandangannya belum bulat kepada Allah, tetapi masih selalu mengharap apa-apa kepada sesama makhluk.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

252. الْمُتَوَاضِعُ الْحَقِيقِيُّ هُوَ مَا كَانَ نَاشِئًا عَنْ شُهُودِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلِّي صِفَتِهِ.

Hakikat tawadhu' (tawadhu' yang sesungguh-sungguhnya) ialah yang timbul karena melihat/memperhatikan kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah. Tawadhu' dalam pendapat ahli tauhid, adalah kesombongan, sebab siapa yang merasa dirinya ada kemuliaan dan kedudukan, maka perasaan yang demikian itu sebagai kesombongan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

066. النُّورُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ، فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ أَمَدَّهُ بِجُنُودِ الْأَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلَمِ وَالْأَغْيَارِ.

Nur (cahaya terang) itu sebagai tentara yang membantu hati, sebagaimana gelap itu tentara yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah akan menolong seorang hambaNya, dibantu dengan

tentara nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan. Nur (cahaya terang) yang berupa tauhid, iman dan keyakinan itu sebagai tentara pembela pembantu hati, sebaliknya kegelapan syirik dan ragu itu sebagai tentara pembantu hawa nafsu, sedang perang yang terjadi antara keduanya tidak kunjung berhenti, dan selalu menang kalah. Dan di sinilah terlihat jelas pengertian :

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ

Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.

وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya.

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

Siapa yang diberi petunjuk (hidayat) oleh Allah maka ialah yang mendapat petunjuk hidayat, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

238. لِيَقِلَّ مَا تَفْرَحُ بِهِ يَقِلَّ مَا تَحْزَنُ عَلَيْهِ.

Kurangilah kesenanganmu dengan dunia, supaya berkurang pula kedukaanmu pada dunia. Seorang ditanya : Mengapakah engkau tidak pernah risau ? Jawabnya : Karena saya tidak menyimpan barang yang akan merisau- kan/menyusahkan bila hilang, sebab yang menyenangkan itulah pula yang menyusahkan, jika sedikit maka sedikit pula, dan bila banyak yang dişenangi tentu banyak pula yang akan menyusahkan. Hikayat : Seorang memberi hadiah kepada raja sebuah gelas dari pirus yang bertaburkan permata yang sangat berharga, maka karena

sangat gembira raja menerimanya. Ia menunjukkan hadiah itu pada ini ? Jawab Hakiem : Pendapatku itu suatu bala' dan kefakiran. Tanya raja : Bagaimana pendapatmu itu ? Jawabnya : Jika pecah berupa bala' sebab tidak dapat ditembel, dan tidak ada gantinya, jika tercuri kau sangat butuh kepadanya sehingga menjadi fakir kepadanya. Maka tidak lama tiba-tiba gelas itu pecah, maka benar raja merasa mendapat bala' dan sangat menyesal, lalu berkata : Benar, kata Hakiem itu. Seorang yang berakal sehat yaitu orang yang tidak terpengaruh oleh sesuatu jika ada (tiba) menyebabkan repot/sibuk, dan bila hilang menyebabkan menyesal dan bingung. Al Junaid berkata : Seorang yang berakal sehat itu ialah yang menyelidiki segala sesuatu, mencari yang lebih utama untuk dikerjakan dan didahulukan dari lain-lainnya, dan selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah, dalam membedakan apa yang berguna atau madharrat baginya dunia dan akheratnya.

Disalin