Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

200. الْعِبَارَاتُ قُوتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ، وَلَيْسَ لَكَ إِلاَّ مَا أَنْتَ لَهُ آكِلٌ.

Ibarat (kata-kata) itu sebagai makanan bagi pendengar yang berhajat dan membutuhkannya, dan engkau tidak mendapat apa-apa daripadanya kecuali yang engkau makan. Bagaimanapun aneka warnanya hidangan, maka yang berguna bagi tiap orang hanya yang dimakannya, dan masing-masing makan kesukaannya, memilih yang dimengertinya.

Terjadi ada tiga orang sama-sama mendengar suara yang berkata : Ya sa’tara birri maka masing-masing menerima kalimat itu sendiri-sendiri, Yang satu berkata : Saya telah mendengar suara itu berkata : Is’a tara birri. Berusahalah niscaya engkau akan melihat (mendapat) kurnia pemberianKu. Yang kedua berkata : Saya telah mendengar : Assa’ atatara birri : Pada saat itu juga engkau akan mendapat (melihat) kurnia pemberianKu. Yang ketiga berkata : Saya telah mendengar : Ma ausa’a birri : Alangkah luasnya kurnia pemberianKu.

Firman Allah :

تُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ (الرعد: ٤)

Disiram dengan satu macam air, tetapi Kami lebihkan yang satu dari yang lain dalam rasa makanannya.

Firman Allah :

قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ (البقرة: ٦٠)

Masing-masing golongan telah mengetahui di mana tempat minumnya. Muhyiddin (Muhammad) bin Al-Araby ra. berkata : Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zugagil-ganadil di Mesir, tiba- tiba di situ bertemu dengan guru-guru, dan setelah hidangan dikeluarkan, di situ ada suatu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang-orang makanan tiba-tiba wadah itu berkata : Karena kini saya telah mendapat kehormatan dari Allah untuk tempat makanan guru-guru ini maka sejak kini saya tidak rela untuk dipakai tempat kotoran, kemudian ia belah dua. Syaikh Muhyiddin bertanya kepada hadirin : Apakah yang kamu telah mendengar ? Jawab mereka : Ya, kami mendengar ia berkata : Sejak saya dipakai tempat makan untuk guru-guru, maka saya tidak mau menjadi tempat kotoran lagi. Berkata Muhyiddin : Tidak begitu katanya. Bertanya para hadirin : Lalu berkata apa ? Jawab Muhyiddin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Allah dijadikan tempat iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

219. لاَ تَسْتَبْطِئْ مِنْهُ النَّوَالَ، وَلٰكِنِ اسْتَبْطِئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجُودَ الْإِقْبَالِ.

Jangan merasa lambat datangnya kurnia pemberian Allah kepadamu, tetapi hendaknya engkau merasakan kelambatan dirimu untuk menghadap kepada Tuhan. Jangan merasa datangnya kurnia pemberian Allah yang lanfbat, tetapi rasakanlah kelambatan dirimu untuk membulatkan iktikat yang baik kepada Tuhanmu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

161. رُبَّمَا أَفَادَكَ فِي لَيْلِ الْقَبْضِ مَا لَمْ تَسْتَفِدْ فِي شَرَقِ نَهَارِ الْبَسْطِ، لاَ تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا.

Mungkin engkau mendapat kurnia ilmu ma'rifat pada saat gelapnya kesedihan, apa-apa yang tidak engkau dapatkan pada saat terangnya nikmat kesenangan. Kamu tidak mengetahui yang manakah yang lebih dekat bagimu manfaat keuntungannya. Adakalanya manusia karena nikmat ia jatuh binasa, dan adakalanya juga karena bala', maka ia mendapat karunia yang sebesar-besarnya dari taufiq hidayat serta iman dan ma'rifat terhadap Allah. Karena manusia tidak mengetahui maka sebaiknya ia menyerah dengan rela dan tidak rewel terhadap pemberian dan aturan Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

148. مَا حَجَبَكَ عَنِ اللهِ وُجُودُ مَوْجُودٍ مَعَهُ، وَلٰكِنْ حَجَبَكَ عَنْهُ تَوَهُّمُ مَوْجُودٍ مَعَهُ.

Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang menghijab engkau persangkaanmu adanya sesuatu di samping Allah : Sebab segala sesuatu selain dari Allah itu pada hakikatnya tidak maujud (tidak ada) sebab yang wajib ada hanya Allah, sedang yang lainnya terserah pada belas kasih Allah, untuk diadakan atau ditiadakan. Seorang Aarif berkata : Adanya makhluk semua ini bagaikan adanya bayangan pohon di dalam air, maka ia tidak akan menghalangi jalannya kapal (perahu) maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun yang ada maujud di samping Allah untuk menghijab engkau dari Allah hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai sesuatu yang maujud. Lain contoh : Seorang yang bermalam di suatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia akan buang air terdengar suara angin yang menderu masuk ke lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar, tiba-tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas-bekas harimau maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke lobang, maka ia tiada tertahan karena harimau, hanya karena perkiraan adanya harimau.

Disalin