Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

195. تَسْبِقُ أَنْوَارُ الْحُكَمَاءِ أَقْوَالَهُمْ، فَحَيْثُ صَارَ التَّنْوِيرُ وَصَلَ التَّعْبِيرُ.

mereka, karena itu di mana telah mendapat penerangan dari nur itu sampailah kalimat yang dikatakan oleh mereka itu. iman keyakinan mereka, bahwa segala sesuatu langsung di tangan Allah yang tidak bersekutu, karena bila mereka akan menyampaikan nasehat, maka terlebih dahulu kontak hubungan mereka kepada Allah ta’ala hanya minta taufiq dan hidayat petunjuk daripadaNya. karena hanya Allah yang mengatur kalimat yang keluar dari lidah penasehat, dan Allah pula yang mengatur pendengaran yang mendengar. Rasulullah saw bersabda :

رَأْسُ الْحِكْمَةِ مَخَافَةُ اللَّهِ.

Firman Allah :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ (فاطر: ٢٨)

Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah para ulama. Ulama yang tidak takut kepada Allah, adalah ulama’ suu’ (penipu ummat). Siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayat iman- nya, maka tidak bertambah dekat kepada Allah, bahkan bertambah jauh.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

274. الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ، فَإِذَا ذَهَبَتْ فَلاَ إِضَاءَةَ لَهُ.

Pikiran itu sebagai pelita hati, maka bila ia padam, maka tidak ada penerangan baginya. Karena itu hati yang tidak suka merenungkan kebesaran kekuasaan Allah maka selalu gelap, karena diliputi oleh kebodohan dan tipu daya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

158. مَتَى كُنْتَ إِذَا أُعْطِيتَ بَسَطَكَ الْعَطَاءُ، وَإِذَا مُنِعْتَ قَبَضَكَ الْمَنْعُ، فَاسْتَدِلَّ بِذٰلِكَ عَلَى ثُبُوتِ طُفُولِيَّتِكَ، وَعَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُودِيَّتِكَ.

Apabila engkau ketika diberi merasa gembira karena pemberian, dan jika ditolak merasa sedih karena penolakan, maka ketahuilah yang demikian itu sebagai tanda masih adanya sifat-sifat kekanak-kanakan padamu, dan belum bersungguh-sungguh dalam sifat kehambaanmu kepada Allah. Selama engkau masih selalu berubah-ubah suasana hatimu ketika menerima nikmat atau ujian bala', maka nyata bahwa masih dipengaruhi oleh hawa nafsu, dan belum sungguh-sungguh dalam rahmat Allah terhadap sekalian makhluknya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

280. فَالْعَاقِلُ مَنْ كَانَ بِمَا هُوَ أَبْقَى أَفْرَحَ مِنْهُ بِمَا هُوَ يَفْنَى، قَدْ أَشْرَقَ نُورُهُ وَظَهَرَتْ تَبَاشِيرُهُ.

Maka orang yang sempurna akal, ialah yang lebih suka (gemar) pada apa yang kekal daripada yang rusak lenyap. Karena

telah terang nur hatinya, dan tampak tanda-tanda bukti nur itu pada seri mukanya.

Sahl bin Abdullah berkata : Siapa yang senang pada sesuatu yang tidak layak disenangi, maka ia telah mendatangkan kesusahan yang tidak ada habisnya.

Disalin