Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

183. عَلِمَ أَنَّ الْعِبَادَ يَتَشَوَّفُونَ إِلَى ظُهُورِ سِرِّ الْعِنَايَةِ، فَقَالَ: يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ، وَعَلِمَ أَنَّهُ لَوْ خَلاَّهُمْ وَذٰلِكَ لَتَرَكُوا الْعَمَلَ اعْتِمَادًا عَلَى الْأَزَلِ، فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ.

Allah telah mengetahui bahwa semua hamba -hamba ingin mendapat rahasia (kebesaran) kurnia Allah berrfirman : Allah

sendiri yang menentukan rahmat kurnia yang benar itu pada siapa yang dikehendakiNya. Juga Allah yang mengetahui andaikan manusia (para hamba) itu dibiarkan begitu saja, mungkin mereka meninggalkan amal usaha karena berserah kepada keputusan Azal, karena itu Allah berfirman : Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan dan memperbaiki amal perbuatannya. Semua orang ingin untuk mencapai rahasia kurnia yang besar-besar, maka karenanya mereka kejar dengan doa dan amal shalih tetapi lalu Allah berfirman : Allah sendiri yang menentukan rahmatNya itu terhadap siapa yang dipilihNya sendiri. Allah lebih mengetahui di mana la meletakkan risalahNya. Tetapi di samping itu Allah tidak mematahkan hati semangat orang yang akan menginginkannya, karena itu Allah menunjukkan tanda-tanda yang mendekatinya, ialah mereka yang berbuat baik, dan memperbaiki perbuatan amal usahanya. Bukan amal kebaikan itu yang mendatangkan/menyebabkan tibanya kurnia, hanya ia sebagai tanda belaka, tetapi tidak mempengaruhi kehendak putusan Allah dan kebijaksanaanNya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

034. مِنْ عَلاَمَاتِ النَّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ فِي البِدَايَاتِ.

Suatu tanda akan lulusnya seorang pada akhir perjuangannya, jika selalu tawakkal, menyerah kepada Allah sejak mulai perjuangannya. Seorang arief berkata : Siapa yang menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada Allah, dengan perantaraan sesuatu selain Allah, pasti akan putus karenanya, Dan siapa dalam ibadatnya bersandar pada kekutan dirinya diserahkan oleh Allah kepada kekuatan dirinya. Yakni, hanya sampai disitu saja, dan tidak dapat mencapai bahagian- bahagian yang hanya dapat dicapai dengan tawakkal menyandarkan diri kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

194. مَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِهِ أَصْمَتَتْهُ الْإِسَاءَةُ، وَمَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِ اللهِ إِلَيْهِ لَمْ يَصْمُتْ إِذَا أَسَاءَ.

Siapa yang mengajar karena memandang kebaikan dirinya, maka ia akan diam jika ia berbuat salah (dosa) dan siapa yang mengajar dengan pengertian kebaikan Allah baginya (padanya) maka ia tidak akan diambila ia berbuat salah (dosa). Siapa yang memberi nasehat tentang kebaikan dengan pengertian karena ia merasa sudah baik, maka bila sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa, maka akan merasa malu untuk memberi nasehat atau mengajar orang lain, tetapi bila ia ketika mengajar itu pandangannya semata-mata kurnia rahmat dari Allah kepada makhluknya, maka tidak akan merasa malu kalau pada sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa dan kesalahan, sebab merasa berbuat kebaikan itu hanya semata-mata kurnia rahmat Allah.

Abul-Abbas Almarsi ra. berkata : Manusia terbagi tiga : Pertama ialah golongan yang selalu memperhatikan apa-apa yang dari padanya kepada Allah, kedua : Golongan yang selalu hanya ingat pemberian- pemberian kurnia Allah pada dirinya. Dan ketiga : Golongan yang hanya memandang bahwa semua dari Allah kembali kepada Allah. Golongan pertama : Scialu memikirkan kekurangan diri dalam menunaikan kewajiban, sehingga selalu berdukacita. Dan golongan kedua : Selalu melihat semua itu adalah kurnia Allah, maka ia selalu gembira. Dan golongan ketiga : Telah lupa pada dirinya sendiri, hanya teringat bahwa asal dari Allah akan kembali kepada Allah, maka terserah kepada Allah.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Pada suatu malam saya membaca surat Qul-a'udzu birabbinnas, hingga akhir surat. Tiba-tiba terasa bagiku bahwa : Syarrul was waasil khannaas, yang berbisik dalam hati itu, ialah yang menyusup antara kau dengan Allah, untuk melupakan engkau dari kurnia-kurnia Allah, yang halus-halus dan samar, dan mengingatkan engkau kepada perbuatan-perbuatanmu yang jahat/dosa.

Tujuannya untuk membelokkan engkau dari husnudhdhan kepada su'udhdhan terhadap Allah ta'ala, maka waspadalah. Abul-Hasan Assyadily ra. berkata : Seorang aarif itu ialah seorang yang telah mengetahui rahasia-ralasia kurnia Allah di dalam berbagai macam ujian bala' yang menimpa sehari-hari. Dan juga mengetahui/mengakui kesalahan-kesalahannya di dalam lingkungan belas kasih Allah kepada- nya. Ia berkata pula : Sedikitnya amal dergan mengakui kurnia Allah, lebih baik dari banyak amal dengan merasa kekurangan diri sendiri. Yakni seolah-olah mempunyai kekuatan sendiri untuk bikin baik, hanya sekarang belum baik, sehingga selalu berduka-cita memikirkan bagaimana dapatnya lebih baik, padahal ia harus menyerah di samping minta saja kepada Allah, sebab jika Allah belum memberi maka tetap tidak ada perubahan pada dirinya berdasarkan pengertian.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (الطلاق: ٣)

Dan siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah sendiri yang akan mencukupi/melengkapi kekurangannya. Dan : Tiada daya upaya atau kekuatan kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

010. الْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلاَصِ فِيهَا.

Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa' yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : "Iyyaaka na'budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : "Laa haula walaa quwwata illaa billaahi" : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : "Iyyaaka nasta' iin" Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta'ala.

Disalin