Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

169. مَنِ اطَّلَعَ عَلَى أَسْرَارِ الْعِبَادِ وَلَمْ يَتَخَلَّقْ بِالرَّحْمَةِ الْإِلٰهِيَّةِ كَانَ اطِّلاَعُهُ فِتْنَةً عَلَيْهِ وَسَبَبًا لِجَرِّ الْوَبَالِ إِلَيْهِ.

Siapa yang dapat melihat rahasia-rahasia manusia padahal ia tidak meniru sifat Tuhan, maka pengetahuan itu menjadi bala’ baginya, dan sebagai sebab untuk tibanya bahaya bagi dirinya sendiri. Siapa yang dibukakan kasyaf baginya sehingga dapat melihat rahasia- rahasia sesama manusia, tetapi tidak meniru sifat rahmat dan ampunan Tuhan, maka kasyaf yang demikian itu berarti suatu ujian yang berat baginya, bahkan akan berupa sebab untuk tiba-tiba bencana bagi dirinya.

Rasulullah saw. bersabda :

لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ.

Tidak tercabut perasaan rahmat belas kasih itu terkecuali dari hati orang yang celaka.

Rasulullah saw. bersabda :

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

Orang yang belas kasih, dikasihi oleh Allah (Arrahman), karena itu rahmatilah (kasihanilah) orang di bumi niscaya kamu di kasihi oleh yang di langit. Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim as. pernah tergerak dalam hati kecilnya seolah-olah ia sangat belas kasih terhadap makhluk, maka AL-ITKAM (Pendekatan Abdi pada Khaignya)

diangkat oleh Allah ke tempat untuk dapat melihat penduduk bumi dan segala perbuatan mereka, tiba-tiba setelah ia melihat berbagai macam perbuatan-perbuatan hamba-hamba Allah, ia berdoa : Ya Allah binasakanlah mereka orang-orang yang durhaka itu. Jawab Allah : Aku lebih kasih sayang pada hambaku daripadamu hai Ibrahim, turunlah engkau hai Ibrahim, sebab mereka mungkin bertobat dan kembali kepadaku. Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Ketika Allah memperlihatkan kepada Ibrahim as. malakutassamawati (kekuasaan Allah di langit dan bumi), tiba-tiba ia melihat orang yang berbuat maksiat, langsung ia berdoa, maka binasalah orang yang itu. Kemudian yang kedua demikian pula dan yang ketiga. Maka Allah berfirman : Hai Ibrahim, engkau seorang yang mustajab doa, maka jangan anda gunakan untuk membinasakan hambaku, sebab hambaku itu salah satu dari tiga kemungkinan, imma ia bertobat maka Aku ampunkan baginya, atau Aku keluarkan daripadanya turunan yang bertasbih (mengagungkan Aku), atau ia kembali menghadap kepadaKu, maka terserah bagiKu untuk mengampunkan atau menyiksa. Bahkan ada keterangan bahwa sebab ia diperintah menyembelih anaknya itu karena kejamnya terhadap orang-orang yang berbuat dosa maksiat. Juga ada riwayat : Ketika Ibrahim as. memegang pisau untuk menyembelih putranya ia berkata : Ya Allah, ini putraku, buah hatiku, manusia yang tercinta padaku. Tiba-tiba ia mendengar jawaban, ingatlah ketika engkau minta kepadaku untuk membinasakan hambaku, apakah engkau tidak mengetahui bahwa Aku amat kasih pada hambaku sebagaimana kasihmu terhadap anakmu,maka jika engkau minta padaku untuk membunuh hambaku. Aku minta padamu untuk membunuh anak kandungmu, satu lawan satu bahkan yang mulai i itu lebih kejam.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

291. وَقَدْ سُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ – قُرَّةُ الْعَيْنِ كِنَايَةٌ عَنْ غَايَةِ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ وَاللَّذَّةِ، فَكَأَنَّهُ يَقُولُ: وَجُعِلَتْ غَايَةُ فَرَحِي وَسُرُورِي فِي الصَّلاَةِ لِمُشَاهَدَةِ الرَّبِّ فِيهَا – هَلْ ذٰلِكَ خَاصٌّ بِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ مِنْ أُمَّتِهِ مِنْهُ شِرْبٌ وَنَصِيبٌ؟ فَأَجَابَ: إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالشُّهُودِ عَلَى قَدْرِ الْمَعْرِفَةِ بِالْمَشْهُودِ، فَالرَّسُولُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلاَمُهُ لَيْسَ مَعْرِفَةُ غَيْرِهِ كَمَعْرِفَتِهِ، فَلَيْسَ قُرَّةُ عَيْنٍ كَقُرَّتِهِ. وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ قُرَّةَ عَيْنِهِ فِي صَلاَتِهِ لِشُهُودِ جَلاَلِ مَشْهُودِهِ، وَلِأَنَّهُ قَدْ أَشَارَ.

Ketika Ibn Atha' Allah ditanya tentang sabda Nabi sav. Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam sembahyang. Apakah itu khusus untuk Rasulullah saw. sendiri atau juga ummatnya mendapat

(bagian)? Jawabnya : Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut kadar kekuatan ma'rifatnya terhadap apa yang dilihat itu, sedang ma'rifat Rasulullah saw. tidak dapat disamakan dengan ma'rifat lain-lainnya, karena itu tidak ada kesenangan (kepuas- an) seperti kesenangannya. Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam sembahyang, karena melihat kebesaran yang dilihatnya, sebab Nabi sendiri telah mengisyaratkan dalam sabdanya : "Di dalam sembahyang", dan tidak berkata "Dengan sembahyang," sebab Nabi saw. tidak akan puas/senang hatinya selain kepada Tuhannya. Bagaimana tidak demikian, padahal ia sendiri menganjurkan untuk mencapai tingkat itu dalam sabdanya : Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat kepadaNya. Dan mustahil jika melihat Allah dan melihat lain-lainnya di samping Allah. Jika ada orang berkata : Adakalanya kesenangan itu karena sembahyang (dengan sembahyang), sebab sembahyang itu sebagai kurnia yang timbul langsung dari sumber pemberian Allah, maka bagaimana tidak akan gembira dengan itu, dan bagaimana tidak menjadi puncak kesenangan karenanya, sedang Allah telah berfirman : Katakanlah : Hanya dengan (karena) kurnia dan rahmat Allah itulah mereka harus bergembira. Maka ketahuilah bahwa dalam ayat itu juga telah ada isyarat untuk jawaban terhadap pertanyaan ini bagi orang yang memperhatikan rahasia kata-katanya. Sebab Allah berkata : Maka dengan itulah mereka harus bergembira. Dan tidak berkata : Dengan itulah engkau bergembira ya Muhammad. Seolah-olah berkata : Katakan kepada mereka supaya mereka bergembira dengan pemberian kurnia itu, tetapi kegembiraanmu hanya dengan yang memberi kurnia itu, sebagaimana tersebut dalam ayat : Katakanlah : Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka ber- kecimpung- Sembahyang itu sebagai pemberian Allah yang terbesar untuk hambaNya, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw. : Tiada diberi- kan kepada seorang hamba di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada Grizinkan baginya untuk sembahyang dua rakaat. Sebab sembahyang itu sebagai hubungan langsung antara hamba dengan Allah, bertemu berkata-kata, dan berkhalwat. Di situlah seorang menyatakan kehambaan, kerendahan, kehinaan, hajat dan kebutuhannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

146. مَا أَحَبَّكَ إِلاَّ مَنْ صَحِبَكَ وَهُوَ بِعَيْبِكَ عَلِيمٌ، وَلَيْسَ ذٰلِكَ إِلاَّ مَوْلاَكَ الْكَرِيمُ، خَيْرُ مَنْ تَصْحَبُ مَنْ يَطْلُبُكَ لاَ لِشَيْءٍ يَعُودُ مِنْكَ إِلَيْهِ.

Sebenarnya bukan sahabatmu, kecuali yang bersahabat kepadamu, setelah ia mengetahui benar-benar kejelekanmu, dan tiada yang demikian itu kecuali Tuhanmu yang maha mengetahui. Sebaik- baik sahabatmu ialah yang selalu memperhatikan kepentinganmu, bukan karena suatu kepentingan yang diharap daripadamu untuk dirinya. Dan yang sedemikian itu juga tidak ada, kecuali Tuhan Allah sendiri tiada lain-lainnya. Sedangkan ayah dan ibu masih juga ada kepentingan- kepentingan dan pengharapan-pengharapan daripadamu, sedangkan di dunia tidak ada manusia yang kasih sayang kepadamu sebagaimana ayah dan ibu, demikian pula masih tidak sunyi dari harapan dan kepentingan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

226. قُرْبُكَ مِنْهُ أَنْ تَكُونَ مُشَاهِدًا لِقُرْبِهِ، وَإِلاَّ فَمِنْ أَيْنَ أَنْتَ وَوُجُودُ قُرْبِهِ.

Dekatmu kepada Allah itu sekira kau selalu seolah-olah melihat dan memperhatikan dekatnya Allah kepadamu, kalau tidak demikian, maka darimanakah engkau itu dengan dekatnya Allah.

Firman Allah :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ (البقرة: ١٨٦)

Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguh- nya : Aku dekat.

Firman Allah :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ (الواقعة: ٨٥)

Dan Kami (Allah) lebih dekat kepada orang yang akan mati itu daripada kamu, tetapi kamu tidak dapat melihat.

Firman Allah :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (ق: ١٦)

Dan Kami (Allah) lebih dekat kepada manusia dari urat nadinya (urat lehernya). Maka hakikat dekatmu kepada Allah jika engkau selalu ingat seolah- olah melihat dekatnya Allah kepadamu.

Disalin