Adakalanya hati ini terhenti pada sinar cahaya-cahaya itu, sebagaimana terhijabnya nafsu dengan padatnya benda-benda makhluk. Hijab yang dapat merintangi atau menghijab manusia berjalan kepada Allah itu adakalanya nurani dan adakalanya kegelapan, maka bila yang menghentikan perjalanan manuju kepada Allah berupa ilmu pengetahuan, maka itu bernama hijab nurani, sebaliknya jika yang menghalangi per- jalanan itu adat kebiasaan dan syahwat, maka berama kegelapan benda dunia. Hati dapat silau oleh nur cahaya, sebagaimana silaunya nafsu dengan kegelapan benda, sedang Allah di balik itu semuanya. AL-BIRAM (Pendelatan Abdi padu Khulgnya)
028. مَا أَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كُشِفَ لَهَا إِلاَّ وَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيقَةِ: الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ. وَلاَ تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمَكَوَّنَاتِ إِلاَّ وَنَادَتْكَ حَقَائِقُهَا: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ.
Tiada berkehendak semangat seorang shalih (yang berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya : Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir.
Abul-Hasan Attus tary berkata : Di dalam jalan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu dzikir kepada Allah, itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala
Abul-Hasan (Ali) Asysyadzily ra. berkata : Jika engkau ingin mendapatkan apa yang telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang-orang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat (teori) yang tepat atau perbuatan yang tidak menyalahi Kitabullah dan sunnaturrasul, dan abaikan dunia tetapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yang lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yang diperintah mengabaikan musuh- Nya. Apabila engkau telah dapat melakukan dua sifat itu, yaitu : mengabaikan manusia dan dunia maka tetaplah tunduk kepada hukum ajaran Allah dengan Istiqomah dan selalu tunduk, Istighfar. Pengertian keterangan ini : Supaya engkau benar-benar merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yang engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati perasaan, jangan sampai merasa seolah-olah di dalam alam ini ada kekuasaan bagi lain Allah, yakni bersungguh-sungguh dalam menanggapi (memfahami) :
اللَّهِ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya dan tiada kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan pertolongan Allah. Maka apabila masih merasa ada kekuatan diri sendiri berarti : belum sempurna mengaku diri hamba Allah. Sebaliknya bila telah
benar-benar perasaan Laa haula walaa Quwwata illaa billaah itu, dan tetap demikian beberapa lama niscaya Allah membukakan untuknya pintu rahasia-rahasia yang tidak pernah mendengar dari manusia seisi alam.
Tiada berkehendak semangat seorang shalih (yang berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya : Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir.
Abul-Hasan Attus tary berkata : Di dalam jalan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu dzikir kepada Allah, itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala
Abul-Hasan (Ali) Asysyadzily ra. berkata : Jika engkau ingin mendapatkan apa yang telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang-orang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat (teori) yang tepat atau perbuatan yang tidak menyalahi Kitabullah dan sunnaturrasul, dan abaikan dunia tetapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yang lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yang diperintah mengabaikan musuh- Nya. Apabila engkau telah dapat melakukan dua sifat itu, yaitu : mengabaikan manusia dan dunia maka tetaplah tunduk kepada hukum ajaran Allah dengan Istiqomah dan selalu tunduk, Istighfar. Pengertian keterangan ini : Supaya engkau benar-benar merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yang engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati perasaan, jangan sampai merasa seolah-olah di dalam alam ini ada kekuasaan bagi lain Allah, yakni bersungguh-sungguh dalam menanggapi (memfahami) :
اللَّهِ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Tiada daya dan tiada kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan pertolongan Allah. Maka apabila masih merasa ada kekuatan diri sendiri berarti : belum sempurna mengaku diri hamba Allah. Sebaliknya bila telah
benar-benar perasaan Laa haula walaa Quwwata illaa billaah itu, dan tetap demikian beberapa lama niscaya Allah membukakan untuknya pintu rahasia-rahasia yang tidak pernah mendengar dari manusia seisi alam.
185. رُبَّمَا دَلَّهُمُ الْأَدَبُ عَلَى تَرْكِ الطَّلَبِ اعْتِمَادًا عَلَى قِسْمَتِهِ، وَاشْتِغَالاً بِذِكْرِهِ عَنْ مَسْأَلَتِهِ.
Adakalanya seorang aarif terdorong oleh rasa adab dan menyerah- nya kepada kebijaksanaan Tuhan, ia tidak minta apa-apa kepada Tuhan, karena berserah dan merasa puas dengan bagian pemberian Allah, dan karena sibuk berdzikir sehingga tidak sempat minta-minta.
Abu Hazim Al-A'raj ra. berkata : Jika saya tidak diberi kesempatan berdoa, niscaya lebih berat bagiku daripada tidak diterimanya doaku.
Abul-Qasim Alqusyairy berkata : Waktu itu berbeda-beda, adakalanya lebih utama berdoa dan adakalanya lebih baik diam tiak berdoa. Apabila hati condong kepada doa lebih baik berdoa, dan bila condong kepada diam tidak berdoa, maka lebih baik tidak berdoa. dan adab itu lebih banyak condong kepada rela, puas sehingga tidak berdoa dan cukup memperbanyak dzikrullah.
Adakalanya seorang aarif terdorong oleh rasa adab dan menyerah- nya kepada kebijaksanaan Tuhan, ia tidak minta apa-apa kepada Tuhan, karena berserah dan merasa puas dengan bagian pemberian Allah, dan karena sibuk berdzikir sehingga tidak sempat minta-minta.
Abu Hazim Al-A'raj ra. berkata : Jika saya tidak diberi kesempatan berdoa, niscaya lebih berat bagiku daripada tidak diterimanya doaku.
Abul-Qasim Alqusyairy berkata : Waktu itu berbeda-beda, adakalanya lebih utama berdoa dan adakalanya lebih baik diam tiak berdoa. Apabila hati condong kepada doa lebih baik berdoa, dan bila condong kepada diam tidak berdoa, maka lebih baik tidak berdoa. dan adab itu lebih banyak condong kepada rela, puas sehingga tidak berdoa dan cukup memperbanyak dzikrullah.
001. مِنْ عَلاَمَاتِ الاِعْتِمَادِ عَلَى العَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ.
Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan / dosa. Kalimat : Laa ilaaha illallaah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah. Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia rahmat Allah. Kalimat : Laa haula walaa quwwata illaa billaahi. Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.
Firman Allah :
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: ٥٨)
"Katakanlah : Hanya karena merasakan kurnia rahmat Allah lah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.
(Yunus 59).
Sedang bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada kurnia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayat kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam, ia berkata : Aku lebih baik dari dia (Adam).
أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ
Juga telah terjadi pada Qaarun ia berkata :
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي (القصص: ٧٨)
"Sesungguhnya Aku mendapat kekayaan ini karena ilmuku semata-mata.
(Al-Qashash 78).
Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayat dan karunia Allah. Sedangkan kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as. ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana ratu Bulqis.
Firman Allah :
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۚ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (النمل:٤٠)
Ini semata-mata dari karunia Tuhanku, untuk menguji padaku, apakah aku bersyukur (terima kasih) atau kufur (lupa pada Allah). Maka siapa yang syukur, maka syukur itu untuk dirinya. Dan siapa yang kufur, maka Tuhanku dzat yang terkaya lagi
pemurah (tidak berhajat sedikitpun dari makhluknya, bahkan makhluk yang berhajat kepada-Nya)";
(An-Naml 40).
Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan / dosa. Kalimat : Laa ilaaha illallaah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tiada yang memberi dan menolak melainkan Allah. Dhohirnya syariat menyuruh kita berusaha beramal, sedang hakikat syariah melarang kita menyandarkan diri pada amal usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia rahmat Allah. Kalimat : Laa haula walaa quwwata illaa billaahi. Tidak ada daya untuk mengelakkan diri dari bahaya kesalahan. Dan tidak ada kekuatan untuk berbuat amal kebaikan kecuali dengan bantuan pertolongan Allah dan karunia rahmat-Nya semata-mata.
Firman Allah :
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: ٥٨)
"Katakanlah : Hanya karena merasakan kurnia rahmat Allah lah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.
(Yunus 59).
Sedang bersandar pada amal usaha itu berarti lupa pada kurnia rahmat Allah yang memberi taufiq hidayat kepadanya yang akhirnya pasti ia ujub, sombong, merasa sempurna diri, sebagaimana yang telah terjadi pada iblis ketika diperintah bersujud kepada Adam, ia berkata : Aku lebih baik dari dia (Adam).
أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ
Juga telah terjadi pada Qaarun ia berkata :
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي (القصص: ٧٨)
"Sesungguhnya Aku mendapat kekayaan ini karena ilmuku semata-mata.
(Al-Qashash 78).
Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayat dan karunia Allah. Sedangkan kita harus bertauladan pada Nabi Sulaiman as. ketika ia menerima nikmat karunia Allah, ketika mendapat istana ratu Bulqis.
Firman Allah :
هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۚ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (النمل:٤٠)
Ini semata-mata dari karunia Tuhanku, untuk menguji padaku, apakah aku bersyukur (terima kasih) atau kufur (lupa pada Allah). Maka siapa yang syukur, maka syukur itu untuk dirinya. Dan siapa yang kufur, maka Tuhanku dzat yang terkaya lagi
pemurah (tidak berhajat sedikitpun dari makhluknya, bahkan makhluk yang berhajat kepada-Nya)";
(An-Naml 40).