Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

160. إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الرَّجَاءِ فَانْظُرْ مَا مِنْهُ إِلَيْكَ، وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْخَوْفِ فَانْظُرْ مَا مِنْكَ إِلَيْهِ.

Apabila engkau ingin dibukakan oleh Allah pintu harapan, maka perhatikan kebesaran nikmat-nikmat dan rahmat Allah yang berlimpah- limpah kepadamu. Dan bila engkau ingin dibukakan bagimu pintu takut, maka perhatikan amal perbuatanmu terhadap Allah. Jika engkau selalu memperhatikan kebesaran dan padatnya nikmat rahmat Allah kepadamu, pasti engkau akan selalu optimis dan berharap baik atau bersangka baik, sebaliknya jika engkau selalu memperhatikan kecurangan dan kekuranganmu terhadap Allah, maka pasti timbul daripadamu rasa takut kepada Allah, memang sifat-sifat yang harus ada pada tiap mukmin :

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

244. خَيْرُ الْعِلْمِ مَا كَانَتِ الْخَشْيَةُ مَعَهُ.

Sebaik-baiknya ilmu itu, yang disertai oleh rasa takut kepada Allah swt.

Firman Allah :

إِنَّمَا يَخْشَىَ اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ.

Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari para hamba itu, hanya orang-orang yang alim/aarif. (Fathir 28).

Rasulullah saw. bersabda :

طَالِبُ الْعِلْمِ تَكَفَّلَ اللَّهُ بِرِزْقِهِ.

Orang yang menuntut ilmu agama itu, Allah menjamin rezkinya. Juga sabda Nabi saw. : Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu, karena suka (gemar) pada apa yang dituntut. Rasulullah saw. berlindung kepada Allah : Allahumma inni a'udzu bika min ilmin laa yanfa' (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak berguna). Ilmu yang tidak berguna yaitu yang tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah. Al-Junaid ketika ditanya : Apakah ilmu yang berguna ? Jawabnya : Ialah yang menunjukkan engkau kepada Allah, dan menjauhkan dari menurutkan hawa nafsu syahwatmu.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang cinta dunia, berbahaya akheratnya, dan siapa yang cinta akherat, berbahaya dunianya. Ingatlah kamu harus mengutamakan yang kekal abadi daripada yang lekas rusak dan hancur.

Hikam Ibnu 'Atoillah

125. إِنَّمَا يَسْتَوْحِشُ الْعُبَّادُ وَالزُّهَّادُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَلَوْ شَهِدُوهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ لَمْ يَسْتَوْحِشُوا مِنْ شَيْءٍ.

Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hatı (perasaan) orang-orang ahli ibadat dan zahid dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab/tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat itu, tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam

tiap sesuatu, pasti tidak akan risau dari (terhadap) segala sesuatu. Ahli ibadat ialah mereka yang bertagarrub (mendekat) kepada Allah dengan berbagai amal ibadat. Sedang orang zahid ialah orang yang ber- tagarrub kepada Allah dengan jalan tawakkal (menyerah). Kedua-dua golongan ini selalu ingin menjauh dari sesama makhluk, disebabkan mereka merasa bahwa makhluk itu hanya sebagai perintang dan merepot- kan mereka, sehingga tidak dapat khusu' tetap tagarrun kepada Allah. Tetapi sekiranya mereka lebih mendalam ma'rifat terhadap Allah, tentu mereka tiak dapat terhalang oleh sesuatu apapun, sebab Allah berada pada segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu yang melupakan dari Allah, bahkan sebaliknya mengingatkan kebesaran kekuasaan Allah ta'ala.

Hikam Ibnu 'Atoillah

292. النَّاسُ فِي وُرُودِ الْمِنَنِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: فَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ لاَ مِنْ حَيْثُ مُهْدِيهَا وَمُنْشِئُهَا، وَلٰكِنْ بِوُجُودِ مُتْعَةٍ فِيهَا، فَهٰذَا مِنَ الْغَافِلِينَ يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً. وَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ شَهِدَهَا مِنَّةً مِمَّنْ أَنْشَأَهَا وَنِعْمَةً مِمَّنْ أَوْصَلَهَا، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. وَمُفْرَحٌ بِاللهِ مَا شَغَلَهُ مِنَ الْمِنَنِ ظَاهِرُ مُتْعَتِهَا وَلاَ بَاطِنُ مِنَّتِهَا، بَلْ شَغَلَهُ النَّظَرُ إِلَى اللهِ عَمَّا سِوَاهُ، وَالْجَمْعُ عَلَيْهِ، فَلاَ يَشْهَدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.

Manusia di dalam menghadapi nikmat kurnia Allah terbagi tiga : 1. Gembira dengan nikmat itu, bukan karena yang memberikannya, tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawa nafsu dari nikmat itu, maka ini termasuk orang lalai (ghafil), orang ini sesuai dengan firman Allah : Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang diberikan itu, Kami tangkap mereka dengan tiba-tiba (Kami siksa mereka dengan tiba-tiba). 2. Orang yang gembira dengan nikmat karena ia merasa bahwa itu kuria yang diberikan Allah kepadanya, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus gembira. yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. 3. Orang yang hanya gembira dengan

Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena kurnia Allah, sebab ia sibuk memperhatikan Allah sehingga terhibur dari segala lainNya, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Hanya Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung (main-main).

Asysyibly berkata : Syukur itu jalan melihat pada yang memberi, bukan melihat nikmat pemberiannya.

Abdul Aziz Almahdawy berkata : Siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala. Abu Hamid (Muhammad) Alghazzaly membuat contoh : Seorang raja memberi hadiah kuda pada rakyatnya, maka dalam menerima nikmat pemberian hadiah ada tiga macam : 1. Merasa gembira karena ia mendapat sesuatu yang berguna dan berharga, sesuai dengan maksud tujuannya, dan dapat menyampaikan hajat keinginannya. Orang yang sedemikian ini tidak memperhatikan raja sama sekali, pandangannya hanya semata-mata pada kuda, diberi raja atau mendapat di hutan tidak beda baginya. 2. Orang yang gembira bukan karena kudanya, tetapi karena merasa diberi, diingati, dikasihi oleh raja, orang ini dapat membedakan antara pemberian raja dengan jika ia mendapat di hutan. 3. Orang yang merasa gembira karena dengan pemberian itu, ia dapat menggunakan untuk lebih mendekat kepada raja, sehingga dapat lebih meningkatkan kedudukannya di sisi raja.

Disalin