Allah mengizinkan engkau melihat alam şekitarmu, tetapi Allah tidak mengizinkan engkau berhenti pada benda-benda alam, sebagaimana firman Allah : Katakanlah : Perhatikanlah apa yang di langit-langit itu Allah membukakan bagimu jalan untuk mengerti, karena itu ia tidak berkata : Perhatikanlah langit-langit itu. Supaya tidak menunjukkan kepadamu adanya benda-benda itu. Sebab benda-benda itu adalah buatan yang rusak dan tidak kekal, maka jangan sampai tertipu sehingga kau kirakan berdiri sendiri, seolah-olah terlepas dari ketentuan Allah. Dalam kitab Latha’iful-iman tersebut : Alam benda ini tidak ditegakkan untuk engkau perhatikan, tetapi untuk engkau perhatikan padanya kebesaran kekuasaan Tuhan yang mengatur.
253. لاَ يُخْرِجُكَ عَنِ الْوَصْفِ إِلاَّ شُهُودُ الْوَصْفِ.
Tidak ada sesuatu yang dapat mengeluarkan (melepaskan) engkau dari sifat kesombonganmu, kecuali jika engkau melihat sifat-sifat Allah. Yakni selama engkau tidak memperhatikan dan ingat selalu kepada sifat ketuhanan, kebesaran dan kekuasaan Allah, maka selama itu engkau
merasa besar, kuasa dan congkak (sombong). Selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Allah, maka selama itu juga engkau tidak mengakui kekurangan-kekurangan atau kehambaan dirimu terhadap Allah.
Tidak ada sesuatu yang dapat mengeluarkan (melepaskan) engkau dari sifat kesombonganmu, kecuali jika engkau melihat sifat-sifat Allah. Yakni selama engkau tidak memperhatikan dan ingat selalu kepada sifat ketuhanan, kebesaran dan kekuasaan Allah, maka selama itu engkau
merasa besar, kuasa dan congkak (sombong). Selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Allah, maka selama itu juga engkau tidak mengakui kekurangan-kekurangan atau kehambaan dirimu terhadap Allah.
235. النَّعِيمُ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ مَظَاهِرُهُ إِنَّمَا هُوَ لِشُهُودِهِ وَاقْتِرَابِهِ، وَالْعَذَابُ وَإِنْ تَنَوَّعَتْ مَظَاهِرُهُ إِنَّمَا هُوَ لِوُجُودِ حِجَابِهِ، فَسَبَبُ الْعَذَابِ وُجُودُ الْحِجَابِ، وَتَمَامُ النَّعِيمِ بِالنَّظَرِ إِلَى وَجْهِهِ الْكَرِيمِ.
Nikmat itu meskipun beraneka bentuk warnanya hanya disebabkan oleh karena melihat dan dekat kepada Allah, demikian pula siksa walau bagaimanapun aneka macamnya hanya karena terhijabnya dari Allah, maka sebabnya siksa itu karena adanya hijab, dan sempurna nikmat itu ialah melihat kepada dzat Allah yang mulia.
Firman Allah :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (القيامة: ٢٢ - ٢٣)
Berapa wajah manusia kelak berseri-seri, dapat melihat wajah Tuhannya. Nikmat dekat kepada Allah, lebih-lebih melihat kepada Allah itu memang tiada bandingannya, sehingga apabila manusia di surga ditanya oleh Tuhan : Apakah yang kamu rasa kurang, dan yang akan kamu minta ? Jawab mereka : Kami cukup puas dan tidak ada hasrat untuk minta apa- apa lagi, sebab sudah cukup puas, tiba-tiba dibukakan oleh Allah hijab untuk melihat wajah (zat) Allah, maka di situlah mereka merasa tidak ada nikmat yang lebih besar daripada melihat kepada zat Allah swt.
Nikmat itu meskipun beraneka bentuk warnanya hanya disebabkan oleh karena melihat dan dekat kepada Allah, demikian pula siksa walau bagaimanapun aneka macamnya hanya karena terhijabnya dari Allah, maka sebabnya siksa itu karena adanya hijab, dan sempurna nikmat itu ialah melihat kepada dzat Allah yang mulia.
Firman Allah :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ * إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (القيامة: ٢٢ - ٢٣)
Berapa wajah manusia kelak berseri-seri, dapat melihat wajah Tuhannya. Nikmat dekat kepada Allah, lebih-lebih melihat kepada Allah itu memang tiada bandingannya, sehingga apabila manusia di surga ditanya oleh Tuhan : Apakah yang kamu rasa kurang, dan yang akan kamu minta ? Jawab mereka : Kami cukup puas dan tidak ada hasrat untuk minta apa- apa lagi, sebab sudah cukup puas, tiba-tiba dibukakan oleh Allah hijab untuk melihat wajah (zat) Allah, maka di situlah mereka merasa tidak ada nikmat yang lebih besar daripada melihat kepada zat Allah swt.
162. مَطْلِعُ الْأَنْوَارِ الْقُلُوبُ وَالْأَسْرَارُ.
Tempat terbitnya berbagai nur cahaya Ilahi itu dalam hati manusia dan rahasia-rahasianya. Bintang ilmu dan bulan ma'rifat dan matahari tauhid semuanya bersarang dan terbit hanya pada hati manusia.
Rasulullah saw. bersabda : Allah telah berfirman :
لَمْ يَسَعْنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي، وَلَكِنْ وَسِعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ.
Tidak cukup untukKu langit dan bumiKu, tetapi yang cukup bagiku hanya hati hambaKu yang beriman (mukmin). Abdul-Hasan Asysyadzily berkata : Andaikan Allah membuka penerangan nur seorang mukmin yang berbuat dosa, niscaya memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah dengan nur cahaya seorang mukmin yang taat. Abul-Abbas Almarsy berkata : Andaikan Allah membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya akan disembah orang, sebab ia bersifat dengan sifat-sifat Allah swt. Andaikan Allah membuka nur cahaya hati para walinya, niscaya akan sirna cahaya matahari, bukan karena kuat nur para wali itu tetapi karena nur matahari dan bulan dapat hapus dengan gerhana, sedang nur para wali itu tidak ada gerhananya. Sesungguhnya matahari terbenam di waktu malam. Sedang matahari hati itu tidak terbenam untuk selamanya.
Tempat terbitnya berbagai nur cahaya Ilahi itu dalam hati manusia dan rahasia-rahasianya. Bintang ilmu dan bulan ma'rifat dan matahari tauhid semuanya bersarang dan terbit hanya pada hati manusia.
Rasulullah saw. bersabda : Allah telah berfirman :
لَمْ يَسَعْنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي، وَلَكِنْ وَسِعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ.
Tidak cukup untukKu langit dan bumiKu, tetapi yang cukup bagiku hanya hati hambaKu yang beriman (mukmin). Abdul-Hasan Asysyadzily berkata : Andaikan Allah membuka penerangan nur seorang mukmin yang berbuat dosa, niscaya memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah dengan nur cahaya seorang mukmin yang taat. Abul-Abbas Almarsy berkata : Andaikan Allah membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya akan disembah orang, sebab ia bersifat dengan sifat-sifat Allah swt. Andaikan Allah membuka nur cahaya hati para walinya, niscaya akan sirna cahaya matahari, bukan karena kuat nur para wali itu tetapi karena nur matahari dan bulan dapat hapus dengan gerhana, sedang nur para wali itu tidak ada gerhananya. Sesungguhnya matahari terbenam di waktu malam. Sedang matahari hati itu tidak terbenam untuk selamanya.