Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

150. أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الْبَاطِنُ، وَطَوَى وُجُودَ كُلِّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الظَّاهِرُ.

Allah yang mendhahirkan segala sesuatu, karena Dia (Allah) yang bersifat batin, dan Allah melipat adanya segala sesuatu sebab Allah itulah yang dhahir (jelas) pada tiap-tiap sesuatu. Sebab alat penglihatan manusia ini serba gelap, tidak hanya cukup dengan mata dan benda yang dilihat, harus dibantu oleh nur cahaya yang menerangi mata dan benda yang akan dilihat. Sedang Allah itulah yang “Nurus samaawati wal’ardhi” : Allah itulah yang menerangi langit dan bumi.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

084. مَتَى رَزَقَكَ الطَّاعَةَ وَالْغِنَى بِهِ عَنْهَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ أَسْبَغَ عَلَيْكَ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً.

Apabila Allah telah memberi rizqi kepadamu berupa perasaan puas melakukan taat (ibadat) pada lahirmu, dan merasa cukup kaya dengan Allah dalam hatimu, sehingga benar-benar tidak ada sandaran bagimu kecuali allah. Maka ketahuilah bahwa Allah telah melimpahkan kepadamu nikmat lahir batin. Seorang hamba dituntut dua macam, yaitu menurut perintah dan meninggalkan larangan pada lahirnya, dan bersandar/berharap kepada Allah pada batinnya. Karena itu siapa yang diberi rizqi oleh Allah demikian, berarti telah menerima kurnia nikmat Allah yang lengkap lahir batın.

Hikam Ibnu 'Atoillah

056. حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِي مَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ.

Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya budi dan hati, dan baiknya hati itu sebagai hasil dari kesungguhan Istiqamah pada apa yang diperintah oleh Tuhan (yakni tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh Tuhan). Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya. Abu Hamid Alghazzaly berkata : Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan hal (perasaan) dan amal perbuatan. Ilmu-yaqin (keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran). Ainul-yaqin keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/terbuka). Haqqul-yagin (keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.

Hikam Ibnu 'Atoillah

293. وَقَدْ أَوْحَى اللهُ إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: قُلْ لِلصِّدِّيقِينَ بِي فَلْيَفْرَحُوا، وَبِذِكْرِي فَلْيَتَنَعَّمُوا.

Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud katakan kepada orang-orang siddiqin : Dengan Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir menyebut namaKu hendaknya mereka merasakan nikmat. Allah teiah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as., supaya menyampaikan firman Allah kepada orang-orang yang benar-benar dalam iman percaya kepada Allah, supaya mereka hanya senang

kepada Allah tidak pada lain-lainnya, dan supaya mereka merasakan nikmat dalam berdzikir kepada Allah.

Disalin