Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

150. أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الْبَاطِنُ، وَطَوَى وُجُودَ كُلِّ شَيْءٍ لِأَنَّهُ الظَّاهِرُ.

Allah yang mendhahirkan segala sesuatu, karena Dia (Allah) yang bersifat batin, dan Allah melipat adanya segala sesuatu sebab Allah itulah yang dhahir (jelas) pada tiap-tiap sesuatu. Sebab alat penglihatan manusia ini serba gelap, tidak hanya cukup dengan mata dan benda yang dilihat, harus dibantu oleh nur cahaya yang menerangi mata dan benda yang akan dilihat. Sedang Allah itulah yang “Nurus samaawati wal’ardhi” : Allah itulah yang menerangi langit dan bumi.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

191. تَحَقَّقْ بِأَوْصَافِكَ يُمِدَّكَ بِأَوْصَافِهِ، تَحَقَّقْ بِذُلِّكَ يُمِدَّكَ بِعِزِّهِ، تَحَقَّقْ بِعَجْزِكَ يُمِدَّكَ بِقُدْرَتِهِ، تَحَقَّقْ بِضَعْفِكَ يُمِدَّكَ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ.

Buktikan dan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah membantu engkau dengan sifat-sifatNya (kesempurnaan- Nya). Akuilah kehinaanmu niscaya Allah menolong padamu dengan kemuliaanNya, akuilah kekuranganmu niscaya Allah menolong kepadamu dengan kekuasaanNya, akuilah kelemahanmu niscaya Allah menolong padamu dengan kekuatanNya. Sifat-sifat yang asli pada seorang hamba itu ialah : Fakir, kurang, lemah dan hina. Maka apabila benar-benar engkau mengakui semua sifat-sifatmu sebagai hamba itu, niscaya mudah selalu mendapat kurnia rahmat dan bantuan Allah. Abu Ishaq (Ibrahim) Al-harawy berkata : Orang-orang shalihin telah memilih tujuh sifat dan menjauhi tujuh sifat lawannya : yaitu memilih fakir (kekurangan) kemiskinan daripada kemuliaan, memilih kerendahan (tawadhu') dari pada kesombongan, memilih kesusahan daripada kesenangan, memilih maut daripada hidup. Sebab-sebab dari sifat-sifat kaya, kenyang, kedudukan (pangkat), mulia, senang (gembira) itu semua akan merubah seorang, lupa akan sifat kehambaannya, sehingga terjerumus dalam kesombongan, kebanggaan, ujub dan lain-lain sifat yang semuanya akan membawa kepada murka Allah atau bersaingan dengan Allah. Sehingga apabila engkau telah sungguh-

sunggüh mengakui sifat-sifat kehambaanmu kemudian diberi kaya, mulia, kuasa dan kuat, merasa bahwa itu semua dari Allah bukan dari diri sendiri, dan bukan dari lain-lainnya Allah, di sinilah kemurnian tauhid tidak ada Tuhan dan tidak ada daya kekuatan, melainkan dengan bantuan pertolongan Allah semata-mata tanpa ada perantara dari luar atau dari dalam diri sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

208. عَلِمَ قِلَّةَ نُهُوضِ الْعِبَادِ إِلَى مُعَامَلَتِهِ، فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُودَ طَاعَتِهِ، فَسَاقَهُمْ إِلَيْهَا بِسَلاَسِلِ الْإِيجَابِ. عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُسَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلاَسِلِ.

Allah mengetahui kurang semangatnya hamba untuk mengerjakan taat maka diwajibkan kepada mereka melakukan taat dan ditarik mereka itu dengan rantai kewajiban : Tuhanmu kagum dari kaum yang ditarik masuk ke surga dengan rantai.

Hikam Ibnu 'Atoillah

141. لَوْ أَنَّكَ لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ إِلاَّ بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيكَ، وَمَحْوِ دَعَاوِيكَ، لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ أَبَدًا، وَلٰكِنْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَصِّلَكَ إِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ، وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ، فَوَصَّلَكَ إِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ إِلَيْكَ، لاَ بِمَا مِنْكَ إِلَيْهِ.

Andaikan engkau tidak dapat sampai kepada Allah, kecuali sesudah habis lenyap semua dosa dan kekotoran syirik, niscaya engkau tidak akan sampai kepadaNya untuk selamanya, tetapi jika Allah akan menarik/ menyampaikan enkau kepadaNya, la menutupi sifatmu dengan sifatNya dan kekuranganmu dengan kumia kekayaań-Nya. Maka Allah menyampai- kan engkau kepadaNya dengan apa yang diberikan olehNya kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu yang engkau hadapkan kepadaNya.

Abul-Hasan Asysyadzily berkata : Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah, jika ia masih ada syahwat atau usaha ikhtiar sendiri. Karena itu jika Allah tidak menarik hambanya, dan mem- biarkannya dengan usaha ikhtiarnya sendiri, takkan sampai kepada Allah untuk selama-lamanya. Karena itu jika Allah akan menarik dan segera menyampaikan hambanya, maka ditampakkan padanya sifat-sifat Allah. Sehingga mati kehendak dan ikhtiar usaha sendiri, dan segera menyerah kepada iradat kehendak dan putusan pemberian Tuhan, maka ketika itu ia sampai kepada Allah karena tarikan Allah, bukan karena amal usahanya sendiri, sampai karena kurnia Allah bukan karena ibadat dan taatnya kepada Allah.

Disalin