Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

148. مَا حَجَبَكَ عَنِ اللهِ وُجُودُ مَوْجُودٍ مَعَهُ، وَلٰكِنْ حَجَبَكَ عَنْهُ تَوَهُّمُ مَوْجُودٍ مَعَهُ.

Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang menghijab engkau persangkaanmu adanya sesuatu di samping Allah : Sebab segala sesuatu selain dari Allah itu pada hakikatnya tidak maujud (tidak ada) sebab yang wajib ada hanya Allah, sedang yang lainnya terserah pada belas kasih Allah, untuk diadakan atau ditiadakan. Seorang Aarif berkata : Adanya makhluk semua ini bagaikan adanya bayangan pohon di dalam air, maka ia tidak akan menghalangi jalannya kapal (perahu) maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun yang ada maujud di samping Allah untuk menghijab engkau dari Allah hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai sesuatu yang maujud. Lain contoh : Seorang yang bermalam di suatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia akan buang air terdengar suara angin yang menderu masuk ke lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar, tiba-tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas-bekas harimau maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke lobang, maka ia tiada tertahan karena harimau, hanya karena perkiraan adanya harimau.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

157. الزُّهَّادُ إِذَا مُدِحُوا انْقَبَضُوا لِشُهُودِهِمُ الثَّنَاءَ مِنَ الْخَلْقِ، وَالْعَارِفُونَ إِذَا مُدِحُوا انْبَسَطُوا لِشُهُودِهِمْ ذٰلِكَ مِنَ الْمَلِكِ الْحَقِّ.

Orang-orang zahid (ahli ibadat) jika dipuji merasa ketakutan, karena melihat pujian itu dari sesama makhluk, sebaliknya orang aarif jika dipuji merasa gembira karena mengerti benar-benar bahwa pujian itu langsung dari Allah raja yang hak. Karena itu Rasulullah mengajarkan secara umum : Siratkan (hamburkan) tanah di muka orang yang memuji-muji. Sedang Rasulullah sendiri ketika dipuji dengan gasidah oleh Hassan dan Ka'ab bin Zuhair, Rasulullah saw. menunjukkan kegembiraan bahkan melemparkan mantel (serban) kepada Ka'ab bin Zuhair. Dan suatu tanda bahwa ia seorang aarif bila ia tidak berubah dalam pujian maupun celaan orang, sebab yang diperhatikan hanya semata-mata hubungannya kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

056. حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ، وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِي مَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ.

Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya budi dan hati, dan baiknya hati itu sebagai hasil dari kesungguhan Istiqamah pada apa yang diperintah oleh Tuhan (yakni tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh Tuhan). Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya. Abu Hamid Alghazzaly berkata : Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan hal (perasaan) dan amal perbuatan. Ilmu-yaqin (keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran). Ainul-yaqin keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/terbuka). Haqqul-yagin (keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.

Hikam Ibnu 'Atoillah

033. مَا تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ، وَلاَ تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ.

Tidak akan terhenti (macet) suatu permintaan yang semata-mata engkau minta (engkau sandarkan) kepada kurnia (kekuasaan) Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan (pengharapan) yang engkau sandar- kan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.

Disalin