Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

142. لَوْلاَ جَمِيلُ سِتْرِهِ لَمْ يَكُنْ عَمَلٌ أَهْلاً لِلْقَبُولِ.

Andaikata tidak ada kebaikan tutup dari Allah niscaya tidak ada amal yang layak untuk diterima. Syarat untuk diterima tiap amal itu adalah ikhlas, tulus kepada Allah, tetapi manusia teruji dengan sombong diri, merasa sudah cukup beramal lebih jahat lagi jika ia riya’ dengan amal perbuatannya, dan mengharap pujian atas amal perbuatan itu. Karena demikian tabiat tiap hamba, maka sukar untuk dapat diterimanya segala amal perbuatannya, kecuali mengharap rahmat kurnia dan kesabaran Allah semata-mata.

Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata : Jika Allah menuntut mereka tentang keikhlasan, maka lenyaplah semua amal perbuatan mereka, dan apabila telah lenyap semua amal perbuatan mereka, bertambahlah hajat kebutuhan mereka, maka dengan itu mereka lalu melepaskan diri daripada bergantung kepada segala sesuatu, dan apabila ia telah bebas dari segala sesuatu kembalilah mereka kepada Allah dalam keadaan telah bersih dari segala sesuatu, meskipun amal perbuatan sendiri atau tenaga kekuatan tidak karena baiknya kurnia Allah yang menutupi kekurangan- kekurangan kita dalam semua amal perbuatan kami, maka tidak akan ada amal perbuatan yang dapat diterima oleh Allah. maka nyata bahwa diterimanya amal taat itu hanya kurnia dan rahmat Allah semata-mata.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

019. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal la yang tampak pada tiap segala sesuatu. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yang ada dhahir sebelum adanya sesuatu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

288. وَصَاحِبُ حَقِيقَةٍ غَابَ عَنِ الْخَلْقِ بِشُهُودِ الْمَلِكِ الْحَقِّ، وَفَنِيَ عَنِ الْأَسْبَابِ بِشُهُودِ مُسَبِّبِ الْأَسْبَابِ، فَهُوَ عَبْدٌ مُوَاجِهٌ بِالْحَقِيقَةِ، ظَاهِرٌ عَلَيْهِ سَنَاهَا، سَالِكٌ لِلطَّرِيقَةِ قَدِ اسْتَوْلَى عَلَى مَدَاهَا، غَيْرَ أَنَّهُ غَرِيقُ الْأَنْوَارِ مَطْمُوسُ الْآثَارِ، قَدْ غَلَبَ سُكْرُهُ عَلَى صَحْوِهِ، وَجَمْعُهُ عَلَى فَرْقِهِ، وَفَنَاؤُهُ عَلَى بَقَائِهِ، وَغَيْبَتُهُ عَلَى حُضُورِهِ.

Orang ahli hakikat yang telah melupakan makhluk karena langsung melihat kepada Allah raja yang hak, dan lupa dari sebab musabab karena teringat kepada yang menentukan sebab dan menjadikannya. Orang ini sebagai hamba yang menghadapi hakikat yang nyata baginya terang cahayanya, dan sedang berjalan pada jalannya, telah sampai pada puncaknya, hanya ia sedang tenggelam dalam alam cahaya, sehingga tidak kelihatan bekas-bekas makhluk, lebih banyak lupanya terhadap alam daripada ingatnya, dan bertemunya pada Allah dari renggangnya, dan lenyaplah dirinya dari tetapnya perasaannya, dan lupanya terhadap makhluk daripada ingatnya pada mereka.

Hikam Ibnu 'Atoillah

057. لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ، وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ.

Jangan meninggalkan dzikir, karena engkau belum selalu ingat kepada Allah di waktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir.

Semoga Allah menaikkan derajatmu daripada dzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yang disertai ingat (sadar) terhadap Allah, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesadaran ingat, kepada dzikir yang disertai rasa hadir, dan dari dzikir yang disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sukar (tidak berat). Memindah (menaikkan) dari satu tingkat ke lain tingkat (derajat), dzikir adalah satu-satunya jalan yang terdekat menuju kepada Allah, bahkan yang sangat mudah dan ringan.

Abu Qasim Alqusyairy berkata : Dzikir itu simbul wilayah (kewalian), dan pelita penerangan untuk sampai, dan tanda sehatnya permulaannya, dan menunjukkan jernihnya akhir puncaknya, dan tiada suatu amal yang menyamai dzikir, sebab segala amal perbuatan itu ditujukan untuk berdzikir, maka dzikir itu bagaikan jiwa dari segala amal. Sedang kelebihan dzikir dan keutamaannya tak dapat dibatasi. Firman Allah :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: ١٥٢)

Berdzikirlah kamu kepadaKu niscaya Aku berdzikir kepadamu.

(Al-Bagarah 152).

Dalam hadits qudsy, Allah berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي.

Aku selalu mengikuti sangkaan hambaKu terhadap diriku, dan Aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir dalam hati peribadinya (sendirian). Akupun berdzikir padanya dalam diriKu dan jika ia berdzikir padaKu di depan umum, Akupun berdzikir padanya di muka umum yang lebih baik dari golongannya, dan bila ia mendekat padaku sejengkal Aku mendekat padanya sehasta, dan bila ia mendekat padaku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaku berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat (berlari).

Abdullah bin Abas ra. berkata : Tiada suatu kewajiban yang diwajibkan oleh Allah pada hambaNya melainkan ada batas-batasnya, kemudian bagi orang-orang yang berudzur dimaafkan bila tidak dapat melakukannya, kecuali dzikir maka tidak ada batas. dan tidak ada udzur yang dapat diterima untuk tidak berdzikir, kecuali jika berubah akal (gila). Firman Allah :

لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ (آل عمران: ١٩٠ - ١٩١)

Bagi orang yang sempurna akal, ialah mereka yang selalu berdzikir pada Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring di atas pinggangnya.

(S. Al-Imraan 191).

Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب: ٤١ - ٤٢)

Hai sekalian orang yang beriman : Berdzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dzikir. Dan bertasbihlah (mengagumkan) Allah pada pagi dan petang. Yakni pagi, siang, sore, malam, di darat, di laut, di udara, pergi dan tidak pergi, yakni pada segala tempat dan masa, bagi yang kaya, miskin, sehat, sakit, terang-terangan atau sembunyian dengan lisan atau hati dan pada segala hal keadaan.

Disalin