Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

125. إِنَّمَا يَسْتَوْحِشُ الْعُبَّادُ وَالزُّهَّادُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَلَوْ شَهِدُوهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ لَمْ يَسْتَوْحِشُوا مِنْ شَيْءٍ.

Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hatı (perasaan) orang-orang ahli ibadat dan zahid dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab/tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat itu, tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam

tiap sesuatu, pasti tidak akan risau dari (terhadap) segala sesuatu. Ahli ibadat ialah mereka yang bertagarrub (mendekat) kepada Allah dengan berbagai amal ibadat. Sedang orang zahid ialah orang yang ber- tagarrub kepada Allah dengan jalan tawakkal (menyerah). Kedua-dua golongan ini selalu ingin menjauh dari sesama makhluk, disebabkan mereka merasa bahwa makhluk itu hanya sebagai perintang dan merepot- kan mereka, sehingga tidak dapat khusu’ tetap tagarrun kepada Allah. Tetapi sekiranya mereka lebih mendalam ma’rifat terhadap Allah, tentu mereka tiak dapat terhalang oleh sesuatu apapun, sebab Allah berada pada segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu yang melupakan dari Allah, bahkan sebaliknya mengingatkan kebesaran kekuasaan Allah ta’ala.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

114. أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوَارِ آثَارِهِ، وَأَنَارَ السَّرَائِرَ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ، لِأَجْلِ ذٰلِكَ أَفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ وَلَمْ تَأْفُلْ أَنْوَارُ الْقُلُوبِ وَالسَّرَائِرِ، وَلِذٰلِكَ قِيلَ: إِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِاللَّيْلِ، وَشَمْسَ الْقُلُوبِ لَيْسَتْ تَغِيبُ.

Allah telah menerangi alam dengan cahaya makhluknya, dan menerangi hati dengan nur (cahaya) sifatnya, maka karena itu terbenam cahaya alam dan tidak dapat terbenam nur (cahaya) hati dan sir. Kata seorang syair : "Sesungguhnya matahari siang itu terbenam di waktu malam". "Tetapi matahari hati tidak pernah terbenam" Sahl bin Abdullah ketika ditanya tentang makanan (qut) Jawabnya : Huwa alhayyul ladzi laa yamut (la yang hidup dan tiada mati). Penanya berkata : Saya tidak bertanya tentang makanan itu, telapi makanan yang menegakkan (menguatkan) Jawabnya : Ilmu. Ketika ditanya : Makanan sehari-hari yang lazim ? Jawabnya : Dzikir. Ditanya : makanan jasmani ? Jawabnya : Apa urusanmu dengan jasmani, biarkan pada yang membuat pada mulanya dia akan mengurusi selanjutnya, jika ada kerusakan kembalikan kepada yang membuat, tidakkah sudah lazim, buatan sesuatu jika rusak dikembalikan kepada yang membuat untuk diperbaiki. Allah menerangi alam dengan nur (cahaya) bulan, bintang dan matahari yang semua itu makhluk yang rusak dan berubah, tetapi Allah menerangi hati (sir) dengan nur (cahaya), ilmu dan ma'rifat yang langsung dari sifat-sifat Allah, maka karenanya tidak dapat suram terbenam.

Hikam Ibnu 'Atoillah

232. لاَ تَسْتَحْقِرَنَّ وِرْدًا لاَ تَعْلَمُ ثَمَرَتَهُ، فَلَيْسَ الْمُرَادُ مِنَ السَّحَابَةِ الْأَمْطَارَ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ مِنْهَا وُجُودُ الْأَثْمَارِ.

Jangan membanggakan (gembira) terhadap suatu warid (yakni kecondongan hati untuk berbuat taat) yang belum engkau ketahui buahnya, sebab bukan yang diharapkan dari awan itu sekedar hujan, tetapi tujuan utamanya ialah adanya buah dari pohon-pohonan. Contohnya amal ibadat sembahyang, jangan keburu merasa bangga dan gembira, karena sudah dapat sembahyang, selama belum merasakan buah sembahyang sebagaimana yang tersebut dalam ayat :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ (العنكبوت: ٤٥)

Sesungguhnya sembahyang itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ini buahnya sembahyang, maka selama belum mendapat buah yang demikian, jangan merasa bangga atau gembira, tetapi disamping itu jangan putus harapan untuk diterimanya meskipun belum berhasil segera buahnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

180. كَيْفَ يَكُونُ طَلَبُكَ الْحَادِثُ سَبَبًا فِي عَطَائِهِ السَّابِقِ.

Bagaimanakah mungkin permintaanmu yang datang belakangan itu dapat menjadi sebab pemberian Allah yang telah diputuskan lebih dahulu. Keputusan Allah dalam menentukan peraturan alam sudah di tentukan dalam azal sebelum adanya alam ini, dan termasuk juga segala kebutuhan hajat hidup semua makhluk tidak kecuali engkau hai manusia, karena itu jangan mengira bahwa Allah seolah-olah lupa terhadap hajat kebutuhanmu, sehingga sekiranya tidak engkau ingatkan mungkin tidak diberi, kalau demikian kepercayaanmu terhadap Allah, berarti benar-benar engkau belum mengenal Allah dalam sifat kesempurnaannya. Suatu contoh : Umpama, jika ada seorang ayah dianggap oleh anaknya, andaikan tidak diingatkan oleh anaknya niscaya ia melupakan kebutuhan anaknya itu, maka bagaimanakah ayah yang demikian itu. Sedangkan Allah tidak dapat diumpamakan dengan ayah itu sebab Allah maha sempurna, maha mengetahui, mencukupi, bijaksana dalam memelihara seisi alam.

Disalin