Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

125. إِنَّمَا يَسْتَوْحِشُ الْعُبَّادُ وَالزُّهَّادُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَلَوْ شَهِدُوهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ لَمْ يَسْتَوْحِشُوا مِنْ شَيْءٍ.

Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hatı (perasaan) orang-orang ahli ibadat dan zahid dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab/tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat itu, tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam

tiap sesuatu, pasti tidak akan risau dari (terhadap) segala sesuatu. Ahli ibadat ialah mereka yang bertagarrub (mendekat) kepada Allah dengan berbagai amal ibadat. Sedang orang zahid ialah orang yang ber- tagarrub kepada Allah dengan jalan tawakkal (menyerah). Kedua-dua golongan ini selalu ingin menjauh dari sesama makhluk, disebabkan mereka merasa bahwa makhluk itu hanya sebagai perintang dan merepot- kan mereka, sehingga tidak dapat khusu’ tetap tagarrun kepada Allah. Tetapi sekiranya mereka lebih mendalam ma’rifat terhadap Allah, tentu mereka tiak dapat terhalang oleh sesuatu apapun, sebab Allah berada pada segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu yang melupakan dari Allah, bahkan sebaliknya mengingatkan kebesaran kekuasaan Allah ta’ala.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

179. لاَ يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَبُّبًا إِلَى الْعَطَاءِ مِنْهُ، فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ، وَلْيَكُنْ طَلَبُكَ لِإِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ وَقِيَامًا بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Jangan sampai doa permintaanmu kej da Allah itu engkau jadikan sebagai alat (sebab) untuk mencapai pemberian Allah, niscaya akan kurang pengertianmu (ma'rifatmu) kepada Allah, tetapi hendak- nya doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kerendahan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan kebesaran dan kekayaan Tuhanmu.

Abu Nasher Assarraj berkata : Saya telah bertanya kepada guru- guru tentang apakah kepentingan doa bagi orang yang telah menyerah bulat kepada Allah ? Jawabnya : Berdoa itu ada dua tujuan : Pertama : Untuk menghias lahir kita dengan doa, sebab doa itu salah satu bagian daripada khidmat kepada Allah, maka ia ingin berbuat demikian.

Kedua : Berdoa semata-mata karena menurut perintah Allah. Sebab faidahnya doa itu untuk menunjukkan/memperlihatkan adanya hajat kebutuhan dan kemiskinan diri di hadapan Allah.

Abul-Hasan berkata : Janganlah yang menjadi tujuan dari doamu itu tercapainya hajat kebutuhanmu, maka jika demikian berarti terhijab engkau dari Allah, tetapi harus tujuan doa untuk bermunajat berbisik-bisik kepada (dengan) Allah yang memeliharamu, mencipta- kan dirimu. Dan balak bencana yang memaksakan engkau berdoa kepada Allah itu, lebih baik daripada menerima nikmat, kesenangan yang melupakan kepada Allah dan menjauhkan daripadanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

274. الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ، فَإِذَا ذَهَبَتْ فَلاَ إِضَاءَةَ لَهُ.

Pikiran itu sebagai pelita hati, maka bila ia padam, maka tidak ada penerangan baginya. Karena itu hati yang tidak suka merenungkan kebesaran kekuasaan Allah maka selalu gelap, karena diliputi oleh kebodohan dan tipu daya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

101. كَفَى لِلْعَامِلِينَ جَزَاءً مَا هُوَ فَاتِحُهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فِي طَاعَتِهِ، وَمَا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْهِمْ مِنْ وُجُودِ مُؤَانَسَتِهِ.

Cukup sebagai pembalasan Allah pada orang -orang yang beramal, apa yang telah dibukakan oleh Allah dalam hati mereka dari kegemaran melakukan taat dan apa yang diberikan Allah kepada mereka yang berupa kesenangan berdzikir kepuasan berkhalwat, menyendiri dengan Allah. Tidak ada suatu nikmat di dunia yang menyamai (menyerupai) nikmat surga, kecuali nikmat yang dirasakan oleh ahli dzikir dalam perasaan hati mereka daripada kelezatan berdzikir di tengah malam.

Disalin