Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

115. لِيُخَفِّفْ أَلَمَ الْبَلاَءِ عَلَيْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِي لَكَ، فَالَّذِي وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الْأَقْدَارُ هُوَ الَّذِي عَوَّدَكَ حُسْنَ الاِخْتِيَارِ.

Seharusnya terasa ringan kepedihan bala’ yang menimpa kepada- mu, karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji padamu, maka Tuhan yang menimpakan kepadamu takdirnya itu. Dia pula yang telah biasa memberi kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu (Dialah yang membiasakan kau merasakan sebaik-baik pilihannya (pemberiannya).

Abu Ali Addaqgaq berkata : Suatu tanda bahwa seorang itu men- dapat taufiq kurnia Allah, ialah terpeliharanya iman (tauhid) di waktu menghadapi bala’ ujian bencana.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu tidak suka pada sesuatu, padahal itu baik untukmu.

Abu Thalib Al-Makki berkata : Manusia tidak suka miskin, hina dan penyakit, padahal itu semua mungkin baik baginya untuk bekal di akherat, sebaliknya ia suka kaya, sehat dan ternama/terkenal padahal semua itu bahaya di sisi Allah, dan jelek akibatnya.

Al-Junaid berkata : Ketika saya tidur di tempat Assariyu Sagathy, tiba-tiba saya dibanguni, lalu ia berkata : Ya Junaid, saya telah bermimpi seolah-olah berhadapan dengan Allah, lalu Allah berkata kepadaku: Hai Sari, ketika Aku menjadikan makhluk maka semua mengaku cinta kepadaKu, kemudian Aku membikin dunia, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen (90%) dan tinggal hanya sepuluh persen (10%), kemudian Aku membuat surga, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku membuat neraka, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku turunkan bala’ maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisa-sisa sten Abdi pads Khalanve)

itu. Maka Aku berkata kepada sisa yang tinggal itu : Dunia kamu tidak mau, surga juga kamu tidak suka, neraka kamu tidak takut, dari bala’ musibat juga kamu tidak lari, maka apakah keinginanmu? Jawab : Engkau telah mengetahui keinginan kami. Aku berkata : Aku akan menuangkan kepadamu bala’ yang tidak akan sanggup menanggungnya walau bukit yang besar. Sabarkah kamu ? Jawab mereka : Apabila Engkau yang menguji, maka terserahlah kepadamu (berbuatlah sekehendakmu), maka mereka itulah hambaKu yang sebenarnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

169. مَنِ اطَّلَعَ عَلَى أَسْرَارِ الْعِبَادِ وَلَمْ يَتَخَلَّقْ بِالرَّحْمَةِ الْإِلٰهِيَّةِ كَانَ اطِّلاَعُهُ فِتْنَةً عَلَيْهِ وَسَبَبًا لِجَرِّ الْوَبَالِ إِلَيْهِ.

Siapa yang dapat melihat rahasia-rahasia manusia padahal ia tidak meniru sifat Tuhan, maka pengetahuan itu menjadi bala' baginya, dan sebagai sebab untuk tibanya bahaya bagi dirinya sendiri. Siapa yang dibukakan kasyaf baginya sehingga dapat melihat rahasia- rahasia sesama manusia, tetapi tidak meniru sifat rahmat dan ampunan Tuhan, maka kasyaf yang demikian itu berarti suatu ujian yang berat baginya, bahkan akan berupa sebab untuk tiba-tiba bencana bagi dirinya.

Rasulullah saw. bersabda :

لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ.

Tidak tercabut perasaan rahmat belas kasih itu terkecuali dari hati orang yang celaka.

Rasulullah saw. bersabda :

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ.

Orang yang belas kasih, dikasihi oleh Allah (Arrahman), karena itu rahmatilah (kasihanilah) orang di bumi niscaya kamu di kasihi oleh yang di langit. Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim as. pernah tergerak dalam hati kecilnya seolah-olah ia sangat belas kasih terhadap makhluk, maka AL-ITKAM (Pendekatan Abdi pada Khaignya)

diangkat oleh Allah ke tempat untuk dapat melihat penduduk bumi dan segala perbuatan mereka, tiba-tiba setelah ia melihat berbagai macam perbuatan-perbuatan hamba-hamba Allah, ia berdoa : Ya Allah binasakanlah mereka orang-orang yang durhaka itu. Jawab Allah : Aku lebih kasih sayang pada hambaku daripadamu hai Ibrahim, turunlah engkau hai Ibrahim, sebab mereka mungkin bertobat dan kembali kepadaku. Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Ketika Allah memperlihatkan kepada Ibrahim as. malakutassamawati (kekuasaan Allah di langit dan bumi), tiba-tiba ia melihat orang yang berbuat maksiat, langsung ia berdoa, maka binasalah orang yang itu. Kemudian yang kedua demikian pula dan yang ketiga. Maka Allah berfirman : Hai Ibrahim, engkau seorang yang mustajab doa, maka jangan anda gunakan untuk membinasakan hambaku, sebab hambaku itu salah satu dari tiga kemungkinan, imma ia bertobat maka Aku ampunkan baginya, atau Aku keluarkan daripadanya turunan yang bertasbih (mengagungkan Aku), atau ia kembali menghadap kepadaKu, maka terserah bagiKu untuk mengampunkan atau menyiksa. Bahkan ada keterangan bahwa sebab ia diperintah menyembelih anaknya itu karena kejamnya terhadap orang-orang yang berbuat dosa maksiat. Juga ada riwayat : Ketika Ibrahim as. memegang pisau untuk menyembelih putranya ia berkata : Ya Allah, ini putraku, buah hatiku, manusia yang tercinta padaku. Tiba-tiba ia mendengar jawaban, ingatlah ketika engkau minta kepadaku untuk membinasakan hambaku, apakah engkau tidak mengetahui bahwa Aku amat kasih pada hambaku sebagaimana kasihmu terhadap anakmu,maka jika engkau minta padaku untuk membunuh hambaku. Aku minta padamu untuk membunuh anak kandungmu, satu lawan satu bahkan yang mulai i itu lebih kejam.

Hikam Ibnu 'Atoillah

183. عَلِمَ أَنَّ الْعِبَادَ يَتَشَوَّفُونَ إِلَى ظُهُورِ سِرِّ الْعِنَايَةِ، فَقَالَ: يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ، وَعَلِمَ أَنَّهُ لَوْ خَلاَّهُمْ وَذٰلِكَ لَتَرَكُوا الْعَمَلَ اعْتِمَادًا عَلَى الْأَزَلِ، فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ.

Allah telah mengetahui bahwa semua hamba -hamba ingin mendapat rahasia (kebesaran) kurnia Allah berrfirman : Allah

sendiri yang menentukan rahmat kurnia yang benar itu pada siapa yang dikehendakiNya. Juga Allah yang mengetahui andaikan manusia (para hamba) itu dibiarkan begitu saja, mungkin mereka meninggalkan amal usaha karena berserah kepada keputusan Azal, karena itu Allah berfirman : Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan dan memperbaiki amal perbuatannya. Semua orang ingin untuk mencapai rahasia kurnia yang besar-besar, maka karenanya mereka kejar dengan doa dan amal shalih tetapi lalu Allah berfirman : Allah sendiri yang menentukan rahmatNya itu terhadap siapa yang dipilihNya sendiri. Allah lebih mengetahui di mana la meletakkan risalahNya. Tetapi di samping itu Allah tidak mematahkan hati semangat orang yang akan menginginkannya, karena itu Allah menunjukkan tanda-tanda yang mendekatinya, ialah mereka yang berbuat baik, dan memperbaiki perbuatan amal usahanya. Bukan amal kebaikan itu yang mendatangkan/menyebabkan tibanya kurnia, hanya ia sebagai tanda belaka, tetapi tidak mempengaruhi kehendak putusan Allah dan kebijaksanaanNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

090. بَسَطَكَ كَيْ لاَ يُبْقِيَكَ مَعَ الْقَبْضِ، وَقَبَضَكَ كَيْ لاَ يَتْرُكَكَ مَعَ الْبَسْطِ، وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لاَ تَكُونَ لِشَيْءٍ دُونَهُ.

Allah melapangkan bagimu, supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan bagimu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah. Allah merubah-rubah keadaanmu dari sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya mengerti bahwa engkau tidak bebas dari hukuman ketentuanNya, supaya selalu engkau berdiri di atas landasan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH. (Tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah ta'ala).

Firman Allah :

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ (الحديد: ٢٣)

Supaya kamu tidak sedih (menyesal) terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak gembira atas apa yang diberikan kepadamu.

Disalin