Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

092. الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُودِ الْفَرَحِ، وَالْقَبْضُ لاَ حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيهِ.

Di dalam masa kelapangan (baseth) hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam masa sempit (qabdh) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu. Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat memperdaya.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Algabdhu wal basthu (risau hati, dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya gabdh (risau hati) itu salah satu dari tiga : Karena dosa atau kehilangan dunia, atau dihina orang, Maka ada seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertobat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Allah, dan bila dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan (aniaya) lain orang. dan apabila terjadi qabdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Allah jika tenang menyerah, tidak lamå akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, ada kalanya terang bintang yaitu ilmu atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma’rifat, tetapi jika tidak tenang dimasa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dalam kebinasaan. Adapun dalam masa bashet (riang hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga : Karena bertambahnya kelakuan ibadat (taat) dan bertambahnya ilmu ma’rifat atau karena bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yang ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. Maka adab seorang hamba : Jika merasa bertambah taat ibadatnya dan ilmu ma’rifatnya harus merasa bahwa itu semata-mata kurnia Tuhan, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambah keduniaan, maka ini pula yang harus dianggap bahwa itu semata- mata kurnia Allah, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. Adapun jika berupa pujian sanjungan orang kepadamu, maka kehamba- anmu mengharuskan bersyukur kepada Allah yang telah menutupi kejelekkan- mu, sehingga orang-orang hanya mengenal kebaikanmu, semata-mata.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

129. الصَّلاَةُ طُهْرَةٌ لِلْقُلُوبِ مِنْ أَدْنَاسِ الذُّنُوبِ، وَاسْتِفْتَاحٌ لِبَابِ الْغُيُوبِ.

Sembahyang itu sebagai penyucian hati dari kotoran dosa, dan untuk pembuka pintu ghaib. ตา Abd pads thelane) 103

Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya perumpamaan sembahyang itu, bagaikan sungai mengalir di muka pintu salah seorang, maka ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah ada sisa dari kotorannya ? Jawab sahabat : Tidak ada sisa kotorannya sedikitpun. Maka sabda Nabi saw. : Demikian pula contoh dari sembahyang lima waktu, menghapuskan dosa. Juga sembahyang sebagai pembuka pintu ghaib, sebab bila hati telah bersih dan selalu berhubungan dengan Tuhannya, pasti lambat laun akan terbuka baginya tirai/pintu ghaib.

Hikam Ibnu 'Atoillah

241. إِنَّمَا جَعَلَهَا مَحَلاًّ لِلْأَغْيَارِ وَمَعْدِنًا لِلْأَكْدَارِ تَزْهِيدًا لَكَ فِيهَا.

Sesungguhnya Allah sengaja menjadikan dunia ini tempat kerusakan dan sumber kerusuhan, untuk menjemukan kau terhadap dunia.

Rasulullah saw. bersabda :

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ.

Jauhkan dirimu dari tipuan dunia, niscaya Allah suka/kasih kepadamu. Dan jauhkan dirimu dari hak-hak orang, niscaya disukai orang. Imam Ali ar. menulis surat kepada Salman Alfarisy ra. : Sesungguhnya dunia ini bagaikan ular licin pegangannya, namun membunuh bisanya (racunnya), karena itu abaikanlah (berpalinglah) daripadanya, dan dari apa yang mengagumkan engkau, karena sedikitnya yang dapat engkau bawa sebagai bekal, dan jangan risau terhadapnya karena engkau yakin akan berpisah padanya, dan letakkan kesenanganmu dalam kewaspadaanmu terhadap apa-apa yang ada di dalamnya, sebab orang di dunia apabila ia mulai senang tenang langsung dibawa kejurang bahaya dan binasa. Seseorang Hakiem berkata : Dunia ini bagaikan impian orang tidur, kesenangannya bagaikan bayangan awan, kejadian-kejadian bagaikan anak panah yang mengenai sasarannya, sedang syahwat- syahwatnya bagaikan sesuatu yang beracun dan godaannya bagaikan gelombang yang besar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

019. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيْءٍ. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الظَّاهِرُ قَبْلَ وُجُودِ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal la yang tampak pada tiap segala sesuatu. Bagaimana akan dapat dibayangkan, bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yang ada dhahir sebelum adanya sesuatu.

Disalin