Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

090. بَسَطَكَ كَيْ لاَ يُبْقِيَكَ مَعَ الْقَبْضِ، وَقَبَضَكَ كَيْ لاَ يَتْرُكَكَ مَعَ الْبَسْطِ، وَأَخْرَجَكَ عَنْهُمَا كَيْ لاَ تَكُونَ لِشَيْءٍ دُونَهُ.

Allah melapangkan bagimu, supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan bagimu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah. Allah merubah-rubah keadaanmu dari sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gelap, supaya mengerti bahwa engkau tidak bebas dari hukuman ketentuanNya, supaya selalu engkau berdiri di atas landasan LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH. (Tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah ta’ala).

Firman Allah :

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ (الحديد: ٢٣)

Supaya kamu tidak sedih (menyesal) terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak gembira atas apa yang diberikan kepadamu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

160. إِذَا أَرَدْتَ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الرَّجَاءِ فَانْظُرْ مَا مِنْهُ إِلَيْكَ، وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ يَفْتَحَ لَكَ بَابَ الْخَوْفِ فَانْظُرْ مَا مِنْكَ إِلَيْهِ.

Apabila engkau ingin dibukakan oleh Allah pintu harapan, maka perhatikan kebesaran nikmat-nikmat dan rahmat Allah yang berlimpah- limpah kepadamu. Dan bila engkau ingin dibukakan bagimu pintu takut, maka perhatikan amal perbuatanmu terhadap Allah. Jika engkau selalu memperhatikan kebesaran dan padatnya nikmat rahmat Allah kepadamu, pasti engkau akan selalu optimis dan berharap baik atau bersangka baik, sebaliknya jika engkau selalu memperhatikan kecurangan dan kekuranganmu terhadap Allah, maka pasti timbul daripadamu rasa takut kepada Allah, memang sifat-sifat yang harus ada pada tiap mukmin :

Hikam Ibnu 'Atoillah

077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.

Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

245. الْعِلْمُ إِنْ قَارَنَتْهُ الْخَشْيَةُ فَلَكَ، وَإِلاَّ فَعَلَيْكَ.

Ilmu itu jika disertai rasa takut kepada Allah, maka itu yang menguntungkan bagimu, jika tidak maka itu bahaya bagimu. ulullah saw. bersabda: Tiap hari di mana aku tidak bertambah ilmu yang mendekatkan aku kepada Allah, maka berarti tidak berkat bagiku terbit matahari pada hari itu.

Rasulullah saw. bersabda : Akan keluar pada akhir zaman orang yang mencari (mencuri) dunia dengan kedok agama, memperlihatkan (memakai) di muka orang bulu domba karena lunak, lidahnya lebih manis dari madu, tetapi hatinya hati srigala. Allah akan berkata kepada mereka : Apakah kamu akan menentang kepadaKu, atau mempermainkan Aku, maka demi kebesaran-Ku Aku akan menurunkan terhadap mereka ujian fitnah, sehingga orang yang sabar tenang menjadi kebingungan.

Rasulullah saw. bersabda : Akan tiba suatu masa pada ummat manusia, tiada tinggal dari Qur'an kecuali tulisannya saja dan Islam hanya namanya belaka. Hati orang-orangnya kosong dari petunjuk hidayat, dan masjid hanya penuh jasad manusia yang tak berhati taqwa, sejahat manusia waktu itu ialah para ulama, sebab dari mereka sumber fitnah dan kepada mereka pula kembalinya.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang belajar ilmu agama, tidak untuk mencapai keridhaan Allah, tidak mempelajarinya kecuali untuk mencapai suatu kepentingan dunia, maka ia tidak akan mendapat (merasai) bau surga pada hari kiamat. Al-hasan ra. berkata : Siksa bagi seorang alim itu matinya hati. Ketika ditanya : bagaimana matinya hati itu ? Mencari dunia dengan menjual amal akherat.

Dan lebih jahat lagi jika ia menjilat-jilat kepada raja (pemerintah) untuk mencari keuntungan dari uang haram atau syubhat, maka yang demikian terang-terangan menentang murka Allah.

Abud-Dardaa' ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah telah menurunkan wahyu pada salah seorang nabi : Katakanlah kepada orang-orang yang belajar figih agama, tidak untuk kepentingan agama, dan belajar tidak untuk diamalkan, mereka mencari dunia dengan amal akherat, memakai bulu kambing, tetapi hati mereka hati srigala, lidahnya lebih manis dari madu, dan hatinya lebih pahit dari jadam, apakah mereka akan mempermainkan Aku, atau mengejek kepadaKu, pasti akan Aku turunkan kepada mereka fitnah ujian, sehingga orang yang tenang sabar menjadi bingung.

Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya Allah akan memperkuat/ menyebarluaskan agama ini dengan lidah seorang yang lacur/lancung Fargad Assindy bertanya pada Abul-Hasan Al-Bashry suatu masalah, dan setelah dijawab, ia berkata : Para fuqahaa' (ahli-ahli ilmu figih) berbeda dengan keteranganmu itu. Berkata Abul-Hasan : Pernahkah engkau melihat dengan mata kepalamu orang fagih (yang alim figih) itu. Seorang faqih ialah yang zuhud (tidak rakus) terhadap dunia, yang gemar akherat, yang waspada dalam agama, yang tetap pada taat ibadahnya, yang wara', tidak melukai kehormatan sesama muslim, yang menjauhi harta mereka, yang rajin beribadat, yang mengikuti sunnaturrasul, yang tidak membenci orang yang di atasnya, dan tidak menghina orang yang di bawahnya, yang tidak mencari dunia dengan ilmu yang diajarkannya oleh Allah. Berkata pengarang kitab Azzubad : Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan disiksa sebelum menyembah berhala. Dan siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah baik budi akhlaknya dan takutnya kepada Allah, maka tiada bertambah dekaı kepada Allah, bahkan bertambah jauh dari Allah ta'ala.

Disalin