Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

174. مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ شَهِدَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ.

Siapa yang benar-benar mengenal kepada Allah, maka pasti lapat melihatNya pada tiap-tiap sesuatu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

048. لاَ تَرْفَعَنَّ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةً هُوَ مُورِدُهَا عَلَيْكَ، فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرَهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعًا. مَنْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ لَهَا عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا.

Jangan mengadu/meminta sesuatu hajat kepada lain Allah, sebab la sendiri yang memberi/menurunkan hajat itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Allah. Siapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah akan dapat menyingkirkan bencana dari lainnya. Tibanya sesuatu bencana itu menyebabkan engkau berhajat kepada bantuan pertolongan, maka dalam tiap hajat jangan mengharap kepada lain Allah, sebab segala sesuatu selain Allah itu juga berhajat seperti kau. Sebab siapa yang menyandar (menggantungkan nasib) pada sesuatu selain Allah, berarti tertipu oleh sesuatu bayangan khayal, sebab tidak ada yang tetap selain Allah yang selalu tetap karunia dan nikmat rahmatNya kepadamu. Athaa* Al-Khurasani berkata : Saya bertemu dengan wahb bin Munabbih di suatu jalan, maka saya berkata : Ceritakan kepadaku suatu hadits yang dapat saya ingat, tetapi persingkatlah. Maka berkata Wahb : Allah telah mewahyukan kepada nabi Dawud as : Hai Dawud, demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang hambaKu yang minta tolong kepadaKu dengan sungguh-sungguh kepadaKu, tidak pada lainnya, dan saya ketahui yang demikian dari niatnya, kemudian orang itu akan diperdaya oleh penduduk langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, melainkan pasti Aku akan meng- hindarkannya dari semua itu, sebaliknya demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang yang berlindung kepada seorang makhlukKu, tidak kepadaKu dan Aku ketahui yang demikian dari niatnya melainkan Aku putuskan ia dari rahmat yang dari langit, dan Aku longsorkan bumi di bawahnya, dan tidak Aku hiraukan dalam lembah jurang yang mana ia binasa.

Muhammad bin Husain bin Hamdan berkata : Ketika saya di majlis Yazid bin Harun, saya bertanya kepada seorang yang duduk di sampingku : Siapakah namamu? Jawabnya : Saied. Saya bertanya : Siapakah gelarmu ? Jawabnya : Abu Usman. Lalu saya bertanya tentang keadaannya. Jawabnya : Kini telah habis belanjaku. Lalu saya tanya : Dan siapakah yang engkau harapkan untuk kepentinganmu itu ? Jawab- nya : Yazid bin Harun. Maka saya berkata kepadanya : Jika demikian , maka ia tidak menyampaikan hajatmu, dan tidak akan membantu/ meringankan kebutuhanmu. Dia bertanya : Dari mana engkau mengetahui hal itu ? Jawabku : Saya telah membaca dalam sebuah kitab : Bahwasanya Allah telah berfirman : Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dan kemurahanKu dan ketinggian kedudukanKu, di atas arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada lainKu dengan kekecewaan, dan akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata orang, dan Aku singkirkan ia dari dekatku, dan Aku putuskan dari hubunganku. Mengapa ia mengharap lain Ku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tanganku, dan Aku dapat menyingkirkannya, dan mengharapkan kepada lainKu serta mengetuk pintu lain, padahal kunci pintu-pintu itu tertutup, hanya pintuKu yang terbuka bagi siapa yang berdoa minta kepadaKu. Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesukarannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya, lalu Aku putuskan harapannya? Atau siapakah yang pernah mengetuk pintuKu, lalu tidak Aku bukakan ? Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antaraKu dengan angan-angan dan harapan semua makhlukKu, maka mengapakah kau bersandar kepada lainKu. Dan Aku telah menyediakan semua harapan hambaKu, tetapi tidak puas dengan perlindunganKu, dan Aku telah memenuhi langitKu dengan makhluk yang tidak jemu bertasbih kepadaKu dari para Malaikat dan Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antaraKu dengan para hambaKu, tetapi mereka tidak percaya kepada sabdaKu. Tidakkah mengetahui bahwa siapa yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku, maka mengapakah Aku melihat ia dengan segala angan-angan harapannya selalu berpaling dari padaKu, mengapakah ia tertipu oleh lainKu. Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahanKu apa-apa yang tidak ia minta, kemudian Aku yang mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepadaKu untuk mengembalikannya, dan minta kepada lainKu. Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, kemudian jika dimintai lalu tidak memberi an Abd pede Khalonye)

kepada peminta ? Apakah aku bakhil (kikir), sehingga dianggap bakhil oleh hambaKu. Tidakkah dunia dan akherat itu semua milikKu ? Tidakkah semua rahmat dan kurnia itu di tanganKu ? Tidakkah derma- wan dan kemurahan itu sifatKu ? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan ? Maka siapakah yang dapat memutuskannya daripadaKu. Dan apapula yang diharapkan oleh orang-orang yang mengharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi : Mintalah kepadaKu, kemudian Aku memberi kepada masing-masing orang fikiran apa yang terfikir pada semuanya, lalu Aku beri semua itu tidak akan mengurangi kekayaanKu meskipun sekecil debu ? Maka bagaimana akan berkurang kekayaan yang lengkap, sedang Aku yang mengawasinya ? Alangkah sial (celaka) orang yang putus dari rahmatKu, alangkah kecewa orang maksiat kepadaKu dan tidak memperhatikan Aku, dan tetap melakukan yang haram dan tiada malu kepadaKu. Maka orang itu berkata : Ulangilah keteranganmu itu, lalu menulisnya. Kemudian ia berkata : Demi Allah setelah ini saya tidak usah menulis suatu keterangan yang lain.

Hikam Ibnu 'Atoillah

091. الْعَارِفُونَ إِذَا بُسِطُوا أَخْوَفُ مِنْهُمْ إِذَا قُبِضُوا، وَلاَ يَقِفُ عَلَى حُدُودِ الْأَدَبِ فِي الْبَسْطِ إِلاَّ قَلِيلٌ.

Orang aarif jika merasa lapang lebih kuatir (takut), dari pada jika berada dalam kesempitan, dan tidak dapat tegak di batas-batas adab dalam keadaan lapang itu kecuali sedikit sekali.

Abu Bakar Assiddiq ra. berkata : Kami diuji dengan kesukaran, maka kami tahan sabar, tetapi ketika diuji dengan kesenangan (kelapangan), hampir tidak sabar (tahan). Yusuf bin Husain Arrazy menulis surat kepada Al-Junaid : Semoga Allah tidak memberi kepadamu rasa kelezatan hawa nafsumu, sebab jika engkau merasakan kelezatannya, maka tidak akan merasakan kebaikan untuk selamanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

148. مَا حَجَبَكَ عَنِ اللهِ وُجُودُ مَوْجُودٍ مَعَهُ، وَلٰكِنْ حَجَبَكَ عَنْهُ تَوَهُّمُ مَوْجُودٍ مَعَهُ.

Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang menghijab engkau persangkaanmu adanya sesuatu di samping Allah : Sebab segala sesuatu selain dari Allah itu pada hakikatnya tidak maujud (tidak ada) sebab yang wajib ada hanya Allah, sedang yang lainnya terserah pada belas kasih Allah, untuk diadakan atau ditiadakan. Seorang Aarif berkata : Adanya makhluk semua ini bagaikan adanya bayangan pohon di dalam air, maka ia tidak akan menghalangi jalannya kapal (perahu) maka hakikat yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun yang ada maujud di samping Allah untuk menghijab engkau dari Allah hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai sesuatu yang maujud. Lain contoh : Seorang yang bermalam di suatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia akan buang air terdengar suara angin yang menderu masuk ke lobang sehingga persis sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar, tiba-tiba pada pagi hari ia tidak melihat bekas-bekas harimau maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin yang masuk ke lobang, maka ia tiada tertahan karena harimau, hanya karena perkiraan adanya harimau.

Disalin