Siapa yang tidak suka menghadap (mendekat) kepada Allah dengan halusnya pemberian kurnia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (bala’). Siapa yang tidak suka sadar dzikir kepada Allah ketika sehat afiat dan murah rizqi, maka akan dipaksa supaya dzikir ingat kepada Allah dengan tibanya bala’ bencana. maka dalam kedua hal itu Allah berkenan akan menuangkan nikmat kurnia yang sebesar-besarnya kepada hambaNya.
059. لاَ يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عِظَمًا يَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى، فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبَهُ.
Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah. Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertobat dan niat tidak akan mengulanginya untuk selamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosanya itu akan menyebabkan putus rahmat dari Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan yang demikian itu lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.
Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusir dengan tangannya, nabi saw. telah bersabdą : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan diampunkan bagi mereka itu.
Nabi saw. bersabda : Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin daripada ujub (merasa sombong karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya. Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah dari sisi Allah.
Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah. Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertobat dan niat tidak akan mengulanginya untuk selamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosanya itu akan menyebabkan putus rahmat dari Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan yang demikian itu lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.
Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusir dengan tangannya, nabi saw. telah bersabdą : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan diampunkan bagi mereka itu.
Nabi saw. bersabda : Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin daripada ujub (merasa sombong karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya. Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah dari sisi Allah.
076. مِنْ جَهْلِ الْمُرِيدِ أَنْ يُسِيءَ الْأَدَبَ فَتُؤَخَّرَ الْعُقُوبَةُ عَنْهُ، فَيَقُولَ: لَوْ كَانَ هٰذَا سُوءَ أَدَبٍ لَقَطَعَ الْإِمْدَادَ وَأَوْجَبَ الْإِبْعَادَ. فَقَدْ يُقْطَعُ الْمَدَدُ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلاَّ مَنْعُ الْمَزِيدِ. وَقَدْ يُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَهُوَ لاَ يَدْرِي، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلاَّ أَنْ يُخَلِّيَكَ وَمَا تُرِيدُ.
Setengah dari tanda kebodohan murid jika ia berbuat salah lalu ditangguhkan hukumannya, lalu ia berkata : Andaikata termasuk dosa tentu sudah diputuskan bantuan dan sudah dijauhkan. Ingatlah adakalanya telah diputuskan bantuan (kurnia) dengan jalan yang ia tidak merasa, meskipun hanya berupa tidak ada tambahan baru, dan adakalanya pula ia telah dijauhkan padahal ia tidak mengetahui, meskipun jauh itu hanya berupa membiarkan engkau menurutkan hawa nafsumu.
Abul-Qasim Al-Junaid ra. berkata : Ketika saya sedang menunggu janazah bersama orang-orang banyak yang akan disembahyangkan di masjid Assyuniziyah, tiba-tiba ada seorang miskin minta-minta, maka dalam perasaan hatiku : Andaikan orang itu bekerja sedikit- sedikit supaya tidak minta-minta, tentu akan lebih baik baginya. Kemudian ketika pada malam harinya, saya akan mengerjakan wirid yang biasa saya kerjakan pada tiap malam. terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa-apa, sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba-tiba mimpi orang-orang datang membawa orang miskin itu di di atas talam, dan orang-orang itu berkata kepadaku : Makanlah daging orang ini sebab engkau telah meng-ghibah padanya. Maka langsung saya sadar, dan saya tidak merasa ghibah padanya hanya
tergerak dalam hati, tetapi saya diperintahkan harus minta halal kepada orang itu, maka tiap hari saya berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepi sungai sedang mengambil daun-daunan yang rontok untuk dimakan dan ketika saya memberi salam kepadanya, langsung ia berkata : Apakah akan mengulangi lagi hai Abul Qasim ? Jawabku : Tidak. Maka ia berkata : Semoga Allah mengampunkan kami dan kamu. Tanda seorang mendapat taufiq itu ada tiga : 1. Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak niat dan bukan tujuannya. 2. Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar daripadanya. 3. Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah ta'ala. Tanda seorang yang dihinakan oleh Allah ada tiga : I. Sukar melakukan ibadat/taat, padahal ia sudah berusaha sungguh-sungguh.
2. Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha meng- hindarkannya. 3. Tertutupnya pintu berhajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.
Rasulullah saw. bersabda :
أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِيبِي
Tuhan telah mendidik saya sebaik-baik didikan dan menyuruhku melakukan akhlaq yang sebaik-baiknya. Yaitu dalam ayat :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: ١٩٩)
Ambilah hati mereka dengan suka memaafkan, dan anjurkan perbuatan-perbuatan yang baik dan mudah, dan abaikanlah orang-orang yang masih bodoh, (jangan dituntut) mereka yang masih bodoh itu. Seorang sufi kehilangan anak, hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, maka ada orang yang berkata kepadanya : Mengapa engkau tidak minta kepada Allah, supaya mengembalikan anak itu kepadamu ? Jawabnya : Tantanganku terhadap putusan Allah itu akan lebih berat bagiku daripada hilangnya anak.
Abu Sulaiman Addarany ra. berkata : Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya Aku menjadikan itu syahwat hanya untuk orang-orang yang lemah dari pada hambaKu, kareną itu awaslah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, maka seringan- ringan siksa untuknya ialah aku cabut manisnya rasa cinta kepadaku dari dalam hatimu. Dalam sebagian wahyu Allah kepada Dawud as. : Hai Dawud berpeganglah pada ajaranKu, dan tahanlah nafsumu untuk kesenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu daripadanya, niscaya engkau terhijab dari cintaKu, putuskan syahwatmu karena Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hambaKu yang lemah, untuk apakah orang-orang yang kuat akan memuaskan syahwat, padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepadaKu, sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasihKu, bahkan Aku bersihkan ia dari padanya. Hai Dawud, jangan engkau mengadakan antaraKu dengan engkau suatu alam yang dapat menghijab engkau karena mabuk pada alam itu daripada cinta kepada-Ku, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hambaKu yang baru berjalan. Usahakanlah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa. Hai Dawud cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepadaKu, dan engkau akan dapat melihat yang terbuka antaraKu dengan engkau.
Ibrahim bin Adham ra. berkata : Seorang tidak akan mencapai derajat orang shalihin, sehingga melalui enam rintangan : 1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan. 2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesukaran. 3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan. 4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga. 5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan. 6. Menutup pintu harapan, membuka pintu bersiap menghadapi maut.
Ibrahim Al-Khawaash ra. berkata : Ketika saya di tengah perjalanan tiba-tiba merasa lapar, kemudian sampai di kota Array, maka berkata dalam hati : Di sini saya ada banyak sahabat, maka jika saya bertemu tentu mereka akan menjamu saya, maka ketika telah masuk ke kota, tiba-tiba saya melihat perbuatan-perbuatan mungkar, yang mana saya merasa berkewajiban harus nahi mungkar. Tiba-tiba saya ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang. Sehingga bertanya dalam hati : Mengapa saya dipukuli oleh orang padahal saya ini lapar. Tiba-tiba diingatkan dalam hatiku : Engkau mendapat hukuman itu karena kau mengharap dijamu oleh sahabat-sahabatmu.
Firman Allah dalam salah satu wahyunya
إِنَّ أَدْنَى مَا أَصْنَعُ بِالْعَالِمِ إِذَا آثَرَ شَهْوَتَهُ عَلَى مَحَبَّتِي أَنْ أَحْرِمَهُ لَذِيذَ مُنَاجَاتِي.
Sesungguhnya seringan-ringan siksaKu terhadap orang alim jika ia mengutamakan syahwatnya daripada cintaKu, akan Aku haramkan daripada merasakan kelezatan bermunajat kepadaKu.
Setengah dari tanda kebodohan murid jika ia berbuat salah lalu ditangguhkan hukumannya, lalu ia berkata : Andaikata termasuk dosa tentu sudah diputuskan bantuan dan sudah dijauhkan. Ingatlah adakalanya telah diputuskan bantuan (kurnia) dengan jalan yang ia tidak merasa, meskipun hanya berupa tidak ada tambahan baru, dan adakalanya pula ia telah dijauhkan padahal ia tidak mengetahui, meskipun jauh itu hanya berupa membiarkan engkau menurutkan hawa nafsumu.
Abul-Qasim Al-Junaid ra. berkata : Ketika saya sedang menunggu janazah bersama orang-orang banyak yang akan disembahyangkan di masjid Assyuniziyah, tiba-tiba ada seorang miskin minta-minta, maka dalam perasaan hatiku : Andaikan orang itu bekerja sedikit- sedikit supaya tidak minta-minta, tentu akan lebih baik baginya. Kemudian ketika pada malam harinya, saya akan mengerjakan wirid yang biasa saya kerjakan pada tiap malam. terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa-apa, sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba-tiba mimpi orang-orang datang membawa orang miskin itu di di atas talam, dan orang-orang itu berkata kepadaku : Makanlah daging orang ini sebab engkau telah meng-ghibah padanya. Maka langsung saya sadar, dan saya tidak merasa ghibah padanya hanya
tergerak dalam hati, tetapi saya diperintahkan harus minta halal kepada orang itu, maka tiap hari saya berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepi sungai sedang mengambil daun-daunan yang rontok untuk dimakan dan ketika saya memberi salam kepadanya, langsung ia berkata : Apakah akan mengulangi lagi hai Abul Qasim ? Jawabku : Tidak. Maka ia berkata : Semoga Allah mengampunkan kami dan kamu. Tanda seorang mendapat taufiq itu ada tiga : 1. Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak niat dan bukan tujuannya. 2. Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar daripadanya. 3. Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah ta'ala. Tanda seorang yang dihinakan oleh Allah ada tiga : I. Sukar melakukan ibadat/taat, padahal ia sudah berusaha sungguh-sungguh.
2. Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha meng- hindarkannya. 3. Tertutupnya pintu berhajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.
Rasulullah saw. bersabda :
أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِيبِي
Tuhan telah mendidik saya sebaik-baik didikan dan menyuruhku melakukan akhlaq yang sebaik-baiknya. Yaitu dalam ayat :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: ١٩٩)
Ambilah hati mereka dengan suka memaafkan, dan anjurkan perbuatan-perbuatan yang baik dan mudah, dan abaikanlah orang-orang yang masih bodoh, (jangan dituntut) mereka yang masih bodoh itu. Seorang sufi kehilangan anak, hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, maka ada orang yang berkata kepadanya : Mengapa engkau tidak minta kepada Allah, supaya mengembalikan anak itu kepadamu ? Jawabnya : Tantanganku terhadap putusan Allah itu akan lebih berat bagiku daripada hilangnya anak.
Abu Sulaiman Addarany ra. berkata : Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya Aku menjadikan itu syahwat hanya untuk orang-orang yang lemah dari pada hambaKu, kareną itu awaslah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, maka seringan- ringan siksa untuknya ialah aku cabut manisnya rasa cinta kepadaku dari dalam hatimu. Dalam sebagian wahyu Allah kepada Dawud as. : Hai Dawud berpeganglah pada ajaranKu, dan tahanlah nafsumu untuk kesenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu daripadanya, niscaya engkau terhijab dari cintaKu, putuskan syahwatmu karena Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hambaKu yang lemah, untuk apakah orang-orang yang kuat akan memuaskan syahwat, padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepadaKu, sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasihKu, bahkan Aku bersihkan ia dari padanya. Hai Dawud, jangan engkau mengadakan antaraKu dengan engkau suatu alam yang dapat menghijab engkau karena mabuk pada alam itu daripada cinta kepada-Ku, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hambaKu yang baru berjalan. Usahakanlah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa. Hai Dawud cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepadaKu, dan engkau akan dapat melihat yang terbuka antaraKu dengan engkau.
Ibrahim bin Adham ra. berkata : Seorang tidak akan mencapai derajat orang shalihin, sehingga melalui enam rintangan : 1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan. 2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesukaran. 3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan. 4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga. 5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan. 6. Menutup pintu harapan, membuka pintu bersiap menghadapi maut.
Ibrahim Al-Khawaash ra. berkata : Ketika saya di tengah perjalanan tiba-tiba merasa lapar, kemudian sampai di kota Array, maka berkata dalam hati : Di sini saya ada banyak sahabat, maka jika saya bertemu tentu mereka akan menjamu saya, maka ketika telah masuk ke kota, tiba-tiba saya melihat perbuatan-perbuatan mungkar, yang mana saya merasa berkewajiban harus nahi mungkar. Tiba-tiba saya ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang. Sehingga bertanya dalam hati : Mengapa saya dipukuli oleh orang padahal saya ini lapar. Tiba-tiba diingatkan dalam hatiku : Engkau mendapat hukuman itu karena kau mengharap dijamu oleh sahabat-sahabatmu.
Firman Allah dalam salah satu wahyunya
إِنَّ أَدْنَى مَا أَصْنَعُ بِالْعَالِمِ إِذَا آثَرَ شَهْوَتَهُ عَلَى مَحَبَّتِي أَنْ أَحْرِمَهُ لَذِيذَ مُنَاجَاتِي.
Sesungguhnya seringan-ringan siksaKu terhadap orang alim jika ia mengutamakan syahwatnya daripada cintaKu, akan Aku haramkan daripada merasakan kelezatan bermunajat kepadaKu.
053. لاَ تَصْحَبْ مَنْ لاَ يُنْهِضُكَ حَالُهُ، وَلاَ يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ.
Jangan berkawankan seorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal kelakuannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah kata-katanya.
Dalam hadits :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
Seorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, karena itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).
Sufyan Astsaury berkata : Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka binasa seperti mereka pula.
Sahl bin Abdullah berkata : Berhati-hatilah (jangan) berkawan dengan tiga macam manusia :
1. Pejabat pemerintah yang kejam.
2. Ahli quraa' yang bermuka-muka.
3. Orang tasawuf gadungan (yang bodoh tentang hakikat tasawuf).
Ali bin Abi Thalib ra. berkata: Sejahat-jahat teman yang memaksa engkau bermuka-muka dan memaksa engkau minta maaf atau selalu mencari alasan.
Jangan berkawankan seorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal kelakuannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah kata-katanya.
Dalam hadits :
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
Seorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, karena itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).
Sufyan Astsaury berkata : Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka binasa seperti mereka pula.
Sahl bin Abdullah berkata : Berhati-hatilah (jangan) berkawan dengan tiga macam manusia :
1. Pejabat pemerintah yang kejam.
2. Ahli quraa' yang bermuka-muka.
3. Orang tasawuf gadungan (yang bodoh tentang hakikat tasawuf).
Ali bin Abi Thalib ra. berkata: Sejahat-jahat teman yang memaksa engkau bermuka-muka dan memaksa engkau minta maaf atau selalu mencari alasan.