Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

069. قَطَعَ السَّائِرِينَ إِلَيْهِ وَالْوَاصِلِينَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُودِ أَحْوَالِهِمْ، أَمَّا السَّائِرُونَ فَلِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيهَا، وَأَمَّا الْوَاصِلُونَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهَا.

Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka. Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan. Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri. Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata. Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga

dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurnia Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurnia rahmat Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

284. فَإِذَا نَزَلُوا إِلَى سَمَاءِ الْحُقُوقِ أَوْ أَرْضِ الْحُظُوظِ فَبِالْإِذْنِ وَالتَّمْكِينِ وَالرُّسُوخِ فِي الْيَقِينِ، فَلَمْ يَنْزِلُوا إِلَى الْحُقُوقِ بِسُوءِ الْأَدَبِ وَالْغَفْلَةِ، وَلاَ إِلَى الْحُظُوظِ بِالشَّهْوَةِ وَالْمُتْعَةِ، بَلْ دَخَلُوا فِي ذٰلِكَ بِاللهِ وَلِلَّهِ وَمِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ.

Maka apabila mereka tiba di langit (yakni menunaikan) hak kewajiban, atau turun ke bumi (yang berarti) menurutkan hawa nafsu, maka keduanya itu dengan izin dan keyakinan yang mendalam. Karena itu tidak menunaikan kewajiban dengan menyalahi adab atau kelalaian, demikian pula bila menurutkan hawa nafsu, bukan semata-mata dorongan syahwat yang meluap atau kesenangan duniawi, tetapi mereka masuk dalam kedua-dua bagian itu dengan bantuan pertolongan Allah, dan untuk keridhaan Allah, menurut tuntunan Allah, serta berharap kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

225. وُصُولُكَ إِلَى اللهِ وُصُولُكَ إِلَى الْعِلْمِ بِهِ، وَإِلاَّ فَجَلَّ رَبُّنَا أَنْ يَتَّصِلَ بِهِ شَيْءٌ أَوْ يَتَّصِلَ هُوَ بِشَيْءٍ.

Sampaimu kepada Allah itu ialah sampaimu kepada ilmu yakin, atau ma'rifatmu yang sempurna terhadap Allah, (sehingga bagaikan melihat : Ka annakatarahu : Seolah-olah engkau melihat

kepada Allah). Kalau tidak demikian, maka maha suci (maha agung) Allah untuk disambung oleh sesuatu atau bersambung dengan sesuatu. Karena soal sampai kepada Allah itu berbeda antara semua orang yang sampai, sebab iman itu suatu kurnia Allah yang tidak dapat dicapai oleh apapun juga, dan itu pertama jalan untuk sampai kepada yakin yang bernama ilmul yagin, 'ainul-yaqin dan haqqul-yaqin. Maka apabila seorang telah beriman dan tiada ragu, dan makin hari makın bertambah kuat/tebal inannya hingga berupa keyakinan, maka di saat itulah manusia berarti telah sampai kepada Tuhan Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

113. الْعَارِفُ لاَ يَزُولُ اضْطِرَارُهُ، وَلاَ يَكُونُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ.

Seorang aarif tidak kunjung hilang rasa hajat kebutuhannya, dan tidak pernah merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah ta'ala. Seorang aarif (wali) yaitu yang tetap merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar-benar terhadap kekuasaan Allah di samping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.

Disalin