Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

068. لاَ تُفْرِحْكَ الطَّاعَةُ لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ، وَافْرَحْ بِهَا لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ. قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.

Jangan merasa gembira atas perbuatan taat (bakti) karena engkau merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu, karena ia sebagai kurnia taufiq, hidayat dari Allah kepadamu. Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, mereka harus gembira. Itulah yang lebih baik daripada yang dapat mereka kumpulkan.

(Yunus 58)

Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat kehormatan kurnia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat, maka itu baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub/sombong dan bangga yang akan membinasakan amal taat itu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

242. عَلِمَ أَنَّكَ لاَ تَقْبَلُ النُّصْحَ الْمُجَرَّدَ، فَذَوَّقَكَ مِنْ ذَوَاقِهَا مَا يُسَهِّلُ عَلَيْكَ وُجُودَ فِرَاقِهَا.

Allah telah mengetahui bahwa engkau tidak dapat menerima nasehat yang hanya berupa teori (kata-kata), karena itu Allah merasakan kepadamu rasa pahitnya, untuk memudahkan bagimu cara meninggalkannya. Sebab manusia bila menderita ujian-ujian Allah yang berupa bala', maka ia tidak senang dunia, lalu ingin mati, ingin berpisah dari dunia yang fana ini. Bala' yang biasa diujikan Allah ialah kemiskinan, penyakit, kelaparan, ketakutan, kehilangan harta, kematian dan lain-lainnya yang menimbulkan kecemasan manusia dan tiada ketenangan hidup.

Hikam Ibnu 'Atoillah

006. لاَ يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لاَ فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لاَ فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ.

Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan patah harapan, sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang la kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu dan pada waktu yang ditentukanNya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.

Firman Allah

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ (القصص: ٦٨)

Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendakiNya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka untuk memilih. Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui lagi bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan Yang Maha belas kasih lagi mengetahui dan bijaksana itu, walaupun pada lahirnya pahit dan pedih rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga tercapai keinginannya, janganlah keburu patah harapan;

Firman Allah :

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang baik bagimu, dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu, dan Allah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Abu-Hasan Asy-Syadzily ra. ketika mengartikan ayat :

قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ( يونس : ٨٩)

Sungguh telah diterima doamu berdua (Musa dan Harun as.) yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya maka hendaknya kamu berdua tetap istigamah (sabar dalam melanjutkan perjuangan dan

terus herdoa). dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti, (kekuasaan dan kebijaksanaan Allah)

(S. Yunus 89).

Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterima doa itu, sesudah 40 tahun.

Rasullullah saw. bersabda :

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.

Pasti diterima doamu itu selama tidak keburu, yaitu berkata : Aku telah berdoa dan tidak diterima.

Anas ra. berkata :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ دَاعٍ يَدْعُو إِلَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ دَعْوَتَهُ أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِثْلَهَا سُوءًا أَوْ حَطَّ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدَرِهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.

Tiada seorang berdoa, melainkan pasti diterima Allah doanya, atau dihindarkan daripadanya bahaya, atau diampunkan sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa, atau untuk memutuskan hubungan famili. Abul Abbas Almarsi ketika sakit, datang seorang sambang kepadanya lalu berkata : Semoga Allah menyembuhkan kau (Afakallahu). Abul Abbas tinggal diam tidak menyambut kata-kata itu Kemudian orang itu berkata pula : Allah yu'aafika. Maka dijawab oleh Abul Abbas : Apakah kau kira saya tidak minta 'afiyah kepada Allah, sungguh saya telah minta 'afiyah, dan penderitaanku ini termasuk 'afiyah, ketahuilah Rasulullah minta 'afiyah dan ia berkata :

مَا زَالَتْ أَكْلَةُ خَيْبَرَ تُعَاوِدُنِي، وَالْآنَ قَدْ قَطَعَتْ أَبْهَرِي

Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku. Abubakar Assiddiq minta 'afiyah dan mati terkena racun. Umar bin Khattab minta 'afiyah dan mati terbunuh. Usman bin Affan, juga minta 'afiyah dan juga mati tertikam. Ali bin Abi Thalib minta 'afiyah juga mati terbunuh. Maka bila kau minta 'afiyah kepada Allah, mintalah menurut apa yang ditentukan oleh Allah untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerah menurut kehendak Tuhannya, dan mempercayai bahwa yang diberi Tuhan itulah yang terbaik baginya meskipun tidak cocok dengan kemauan hawa nafsunya. Dan syarat utama untuk diterimanya suatu doa, ialah keadaan terpaksa.

Firman Allah :

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ (النمل: ٦٢)

Apakah yang selalu menerima doa orang terpaksa, apabila berdoa (minta) kepadaNya. Keadaan terpaksa itu, bila merasa tidak ada sesuatu yang diharapkan selain semata-mata karunia Allah, tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan perantara baik dari luar yang berupa benda, atau dari dalam dirinya sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

204. رُبَّمَا اسْتَحْيَا الْعَارِفُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَتَهُ إِلَى مَوْلاَهُ اكْتِفَاءً بِمَشِيئَتِهِ، فَكَيْفَ لاَ يَسْتَحِي أَنْ يَرْفَعَهَا إِلَى خَلِيقَتِهِ.

Adakalanya seorang aarif itu malu meminta hajatnya kepada Tuhannya karena merasa rela (puas) dengan kehendakNya, maka bagaimana tidak akan malu minta hajatnya kepada makhluknya. Sahel bin Abdullah berkata : "Tiada sesuatu nafas atau hati melainkan diperhatikan oleh Allah pada tiap detik, baik siang atau malam, maka apabila Allah melihat dalam hati itu ada hajat kepada sesuatu selain Allah, niscaya Allah mendatangkan iblis untuk hati itu.

Abu Ali Addaqgaq berkata : Sesuatu tanda dari ma'rifat, tidak minta hajat kebutuhan kecuali kepada Allah, baik besar maupun kecil. Contohnya : Nabi Musa rindu ingin melihat Allah ia berkata : Robbi arini andhur ilaika. Dan ketika berhajat roti berdoa :

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (القصص: ٢٤)

Ya Tuhan sungguh aku terhadap apa yang Engkau berikan kepadaku dari makanan itu sangat berhajat. Nabi Ibrahim as. ketika akan dilempar ke dalam api ia didatangi oleh Jibril dan ditanya : Apakah ada hajat ? Jawabnya : Kepadamu tidak. Dan kepada Allah ? Ya. Jika demikian mintalah kepada Allah. Jawab Ibrahim : Hasbi min su-ali ilmuhu bilahi : Cukup bagiku, ia mengetahui halku sehingga tidak usah saya minta padaNya.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا (الطور: ٤٨)

Sabarlah terhadap hukum Tuhanmu karena engkau selalu dibawah pengawasan Kami.

jabinika, fain dha'ufat yaçinuka fas'alil maula yu'inuka. Makanlah dari hasil usaha dan peluh dahimu, maka apabila lemah keyakinanmu mintalah kepada Tuhan niscaya ia membantu kepadamu. Abul-Hasan Assyadzily ketika ditanya tentang ilmu kimia jawabnya : Keluarkan semua makhluk dari dalam hatimu, dan putuskan harapanmu untuk mendapat sesuatu selain yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk engkau.

Disalin