Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

087. مَا الْعَارِفُ مَنْ إِذَا أَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ أَقْرَبَ إِلَيْهِ مِنْ إِشَارَتِهِ، بَلِ الْعَارِفُ مَنْ لاَ إِشَارَةَ لَهُ لِفَنَائِهِ فِي وُجُودِهِ، وَانْطِوَائِهِ فِي شُهُودِهِ.

Bukan seorang arif itu, orang yang bila ia menunjuk sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dari isyaratNya, tetapi orang arif itu ialah yang tidak mempunyai isyarat, karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh pandangan (syuhud) kepada Allah. Yakni siapa yang masih mempunyai pandangan kepada sesuatu selain Allah, maka belum sempurna sebagai seorang (yang mengenal kepada Allah). Tetapi seorang arif yang sesungguhnya ialah yang merasakan kepalsuan segala sesuatu selain Allah, sehingga pandangan- nya tiada lain melainkan kepada Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

131. عَلِمَ وُجُودَ الضَّعْفِ مِنْكَ فَقَلَّلَ أَعْدَادَهَا، وَعَلِمَ احْتِيَاجَكَ إِلَى فَضْلِهِ فَكَثَّرَ أَمْدَادَهَا.

Allah telah mengetahui kelemahanmu, maka la menyederhana- kan bilangannya (yaitu hanya lima waktu), dan Allah mengetahui pula bahwa engkau sangat berhajat, maka la memperbanyak pahalanya melipat gandakan pahalanya. Sehingga tiap hasanat kebaikan sekurang-kurangnya mendapat sepuluh kali lipat gandanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

051. لاَ تَرْحَلْ مِنْ كَوْنٍ إِلَى كَوْنٍ فَتَكُونَ كَحِمَارِ الرَّحَى، يَسِيرُ مِنَ الْمَكَانِ الَّذِي ارْتَحَلَ عَنْهُ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي ارْتَحَلَ إِلَيْهِ، وَلٰكِنِ ارْحَلْ مِنَ الْأَكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ، وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى.

Jangan berpindah dari satu alam ke alam yang lain, berarti sama dengan himar (keledai) yang berputar di sekitar penggilingan, ia berjalan menuju ke tempat tujuan, tiba-tiba itu pula tempat.yang ia mula-mula berjalan daripadanya, tetapi hendaklah engkau pergi dari semua alam menuju kepada pencipta alam; Sesunggunya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan. Jangan berpindah dari syirik yang terang ke alam syirik yang samar. Amal kebaikan yang dinodai oleh riya', sum'ah mengharap pujian orang), tidak dianggap oleh syariat/tidak diterima oleh Allah. Dan apabila telah bersih dari semua itu, kemudian beramal terdorong oleh karena menginginkan kedudukan atau kekayaan, atau kekeramatan dunia atau akherat, sebab itu masih termasuk alam hawa nafsu, tetapi belum mencapai tujuan ikhlas yang berarti bersih dari segala tujuan selain melulu kepada Allah, yakni sepi ing pamrih. Karena itu selama berpindah dari alam ke alam tidak berbeda dengan keledai yang berputar di sekitar penggilingan, tetapi seharusnya sekali berangkat dari alam langsung menuju pencipta alam. Karena itu Nabi Isa as. pernah berkata kepada sahabat hawariyyin : Semua yang ada padamu dari berbagai nikmat kesenangan itu langsung dari kurnia Allah kepadamu, maka manakah kiranya yang lebih besar harganya (nilainya) ? Apakah pemberiannya, ataukah yang memberi ? "Wa anna ila Rabbikal-muntaha" : Sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan. Sebab siapa yang telah mendapatkan Allah, berarti telah mencapai segala sesuatu, baikpun urusan dunia maupun urusan akherat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

043. أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ: الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ: عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.

Pokok dari semua maksiat dan kelalaian serta syahwat itu, karena ingin memuaskan hawa nafsu. Sedang pokok dari segala ketaatan, kesadaran dan kesopanan akhlak budi, ialah karena ada pengekangan (penahanan) terhadap hawa nafsu. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ (يوسف: ٥٣)

Dan Aku tidak mengakui kebersihan diriku, karena hawa nafsu itu selalu mengajak (menyuruh) berbuat kejahatan, kecuali bagi siapa yang mendapat rahmat (perlindungan) Tuhan, sungguh Tuhanku maha pengampun lagt penyayang.

(Yusuf 53).

Abu Hafsh berkata : Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menariknya ke jalan kebaikannya, maka ia telah tertipu. Dan siapa yang memandang padanya dengan merasa sudah baik, berarti telah membinasakannya.

Al-Junaid berkata : Jangan mempercayai hawa nafsumu, meskipun telah lama taat kepadamu, untuk berbuat ibadat kepada Tuhanmu. AI-Bushiry dalam Burdahnya berkata : Tentang selalu hawa nafsu dan syaithan dan jangan menurutkan keduanya, meskipun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.

Disalin