Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

066. النُّورُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ، فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ أَمَدَّهُ بِجُنُودِ الْأَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلَمِ وَالْأَغْيَارِ.

Nur (cahaya terang) itu sebagai tentara yang membantu hati, sebagaimana gelap itu tentara yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah akan menolong seorang hambaNya, dibantu dengan

tentara nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan. Nur (cahaya terang) yang berupa tauhid, iman dan keyakinan itu sebagai tentara pembela pembantu hati, sebaliknya kegelapan syirik dan ragu itu sebagai tentara pembantu hawa nafsu, sedang perang yang terjadi antara keduanya tidak kunjung berhenti, dan selalu menang kalah. Dan di sinilah terlihat jelas pengertian :

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ

Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.

وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya.

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

Siapa yang diberi petunjuk (hidayat) oleh Allah maka ialah yang mendapat petunjuk hidayat, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

234. تَطَلُّعُكَ إِلَى بَقَاءِ غَيْرِهِ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ وِجْدَانِكَ لَهُ، وَاسْتِيحَاشُكَ لِفِقْدَانِ مَا سِوَاهُ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ وُصْلَتِكَ بِهِ.

Keinginanmu untuk tetapnya sesuatu selain Allah itu sebagai bukti bahwa kau belum bertemu pada Allah, dan kerisauanmu karena kehilangan sesuatu selain Allah itu sebagai bukti tidak adanya hubungan- mu dengan Allah atau sebagai tanda belum sampaimu kepada Allah. Bertemunya manusia kepada Tuhan dan sampainya kepadaNya, inilah puncak harapan, dan dengan itulah ia mencapai kebahagiaan dan kerajaan yang besar, bahkan dengan itu ia akan lupa dan terhibur dari segala sesuatu selain Allah. Abu Sulaiman Addarany ketika ditanya : Apakah yang terdekat dari segala sesuatu yang orang bertagarrub (mendekat) kepada Allah ? Jawabnya : Supaya Allah mengetahui bahwa di dalam hatimu tidak ada sesuatu yang diinginkan kecuali Allah, baik di dunia maupun di akherat. Dan itulah bukti bahwa ia telah mencapai tingkat yang besar, tetapi selama ia masih menginginkan tetapnya sesuatu atau risau karena tidak adanya sesuatu, maka itu suatu bukti bahwa ia belum mencapai hakikat tingkat yang besar itu dan harus segera memperbaiki dirinya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

191. تَحَقَّقْ بِأَوْصَافِكَ يُمِدَّكَ بِأَوْصَافِهِ، تَحَقَّقْ بِذُلِّكَ يُمِدَّكَ بِعِزِّهِ، تَحَقَّقْ بِعَجْزِكَ يُمِدَّكَ بِقُدْرَتِهِ، تَحَقَّقْ بِضَعْفِكَ يُمِدَّكَ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ.

Buktikan dan sungguh-sungguh sifat-sifat kekuranganmu, niscaya Allah membantu engkau dengan sifat-sifatNya (kesempurnaan- Nya). Akuilah kehinaanmu niscaya Allah menolong padamu dengan kemuliaanNya, akuilah kekuranganmu niscaya Allah menolong kepadamu dengan kekuasaanNya, akuilah kelemahanmu niscaya Allah menolong padamu dengan kekuatanNya. Sifat-sifat yang asli pada seorang hamba itu ialah : Fakir, kurang, lemah dan hina. Maka apabila benar-benar engkau mengakui semua sifat-sifatmu sebagai hamba itu, niscaya mudah selalu mendapat kurnia rahmat dan bantuan Allah. Abu Ishaq (Ibrahim) Al-harawy berkata : Orang-orang shalihin telah memilih tujuh sifat dan menjauhi tujuh sifat lawannya : yaitu memilih fakir (kekurangan) kemiskinan daripada kemuliaan, memilih kerendahan (tawadhu') dari pada kesombongan, memilih kesusahan daripada kesenangan, memilih maut daripada hidup. Sebab-sebab dari sifat-sifat kaya, kenyang, kedudukan (pangkat), mulia, senang (gembira) itu semua akan merubah seorang, lupa akan sifat kehambaannya, sehingga terjerumus dalam kesombongan, kebanggaan, ujub dan lain-lain sifat yang semuanya akan membawa kepada murka Allah atau bersaingan dengan Allah. Sehingga apabila engkau telah sungguh-

sunggüh mengakui sifat-sifat kehambaanmu kemudian diberi kaya, mulia, kuasa dan kuat, merasa bahwa itu semua dari Allah bukan dari diri sendiri, dan bukan dari lain-lainnya Allah, di sinilah kemurnian tauhid tidak ada Tuhan dan tidak ada daya kekuatan, melainkan dengan bantuan pertolongan Allah semata-mata tanpa ada perantara dari luar atau dari dalam diri sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

002. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.

Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.

مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)

Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A'raf 20).

Dalam surat Thoha ayat 120 :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)

Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).

(S. Thoha 120).

Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).

Disalin