Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

045. شُعَاعُ البَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ، وَعَيْنُ البَصِيرَةِ تُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُودِهِ، وَحَقُّ البَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُودَهُ لاَ عَدَمَكَ وَلاَ وُجُودَكَ.

Sinar matahati itu dapat memperlihatkan kepadamu dekatnya Allah kepadamu. Dan matahati itu sendiri dapat memperlihatkan kepadamu ketiadaanmu karena wujud (adanya) Allah, dan hakikat matahati itulah yang menunjukkan kepadamu, hanya adanya Allah, bukan ‘adam (ketiadaanmu) dan bukan pula wujudmu. Syu’aa’ulbashiirah yaitu cahaya akal. Ainul bashirah yaitu cahaya ilmu. Dan hagqul bashirah yaitu cahaya ilahi. Maka orang-orang yang menggunakan akal mereka, masih merasa adanya dirinya dan dekatnya kepada Tuhan (yakni Allah selalu meliputi mereka dan mengurung mereka). Sedang orang-orang yang meng- gunakan nurul ilmu merasa dirinya tidak ada jika dibandingkan dengan adanya Allah. Sedang ahli hakikat hanya melihat kepada Allah dan tidak melihat apapun di sampingnya. Bukannya mereka tidak melihat adanya alam sekitarnya, tetapi karena alam sekitarnya itu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhajat kepada Allah, maka adanya alam ini tidak menarik perhatian mereka, karena itu mereka menganggap bagaikan tidak ada.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

182. عِنَايَتُهُ فِيكَ لاَ لِشَيْءٍ مِنْكَ، وَأَيْنَ كُنْتَ حِينَ وَاجَهَتْكَ عِنَايَتُهُ وَقَابَلَتْكَ رِعَايَتُهُ، لَمْ يَكُنْ فِي أَزَلِهِ إِخْلاَصُ أَعْمَالٍ وَلاَ وُجُودُ أَحْوَالٍ، بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ إِلاَّ مَحْضُ الإِفْضَالِ وَعَظِيمُ النَّوَالِ.

Perhatian Allah kepadamu bukan karena sesuatu yang timbul daripadamu, buktinya : Di manakah engkau ketika Allah menetapkan kurniaNya kepadamu di dalam azal itu, dan disaat itu doa atau amal yang ikhlas atau lain-lain hal, bahkan tidak ada apa-apa ketika itu selain semata-mata kurnia dan kebesaran pemberian Allah. Perhatikan pemeliharaan Allah kepadamu sejak engkau berupa mani yang sama sekali belum dapat berdoa atau beramal, tetapi perlengkapan yang diberikan Allah kepadamu tidak berkurang sedikitpun, dan demikianlah selanjutnya hingga engkau lahir, kecil, dewasa dan tua tetap tidak berubah kurnia Allah kepadamu tidak bersandar kepada amal atau doamu, tetapi semata-mata kekuasaan dan kehendak Allah yang mutlak dan kurnianya yang tiada tara bandingannya, dan tiada henti-hentinya. Allah melengkapi hajat kebutuhan di saat engkau sendiri belum mengerti apa saja hajat kebutuhanmu yang primer yang tidak dapat tidak harus engkau mempunyainya, yang sekiranya satu saja dikurangi berarti tidak sempurna bentuk kejadianmu itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

103. مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِي كُلِّ ذٰلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.

Apabila Allah memberi karunia kepadamu, maka la akan menunjukkan kepadamu kurnia belas kasihNya, dan apabila menolak pemberianNya atasmu, maka la akan menunjukkan kepadamu kekuasaanNya, maka la dalam semua itu memperkenalkan diri kepadamu, dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemberian pemeliharaanNya kepadamu. Keharusan tiap hamba harus mengenal Tuhan, dengan segala sifat- sifat kebesaranNya. Maka siapa yang tidak suka mengenal dengan sifat Mu'thi. Wahhab (pemberi) harus ia mengenal Allah dengan sifat : Mani' (menolak) Muntaqim (membalas) Qahhar (memaksa). Tetapi apabila semata-mata kurnia Allah kepada hambaNya. Sufyan Astsaury bertemu dengan Abu Habib Al-Badry, dan memberi salam. Abu Habib bertanya : Engkaulah Sufyan Astsaury yang terkenal itu ? Jawabnya : Benar, semoga Allah memberkahi apa yang dikatakan orang-orang itu. Lalu berkata Abu Habib : Hai Sufyan, tidak ada suatu kebaikan melainkan berasal dari Tuhan. Jawab Sufyan.: Benar. Ditanya : Mengapakah kamu tidak suka bertemu pada siapa yang tidak kebaikan kecuali dari padaNya. Hai Sufyan : Penolakan Allah kepadamu itu berarti pemberian kurniaNya kepadamu, sebab ia tidak menolak karena bakhil atau tidak ada, hanya ia menolak permintaanmu itu karena kasihnya kepada- mu dan untuk menguji kamu. Hai Sufyan, Sesungguhnya aku masih senang duduk dengan engkau tetapi bersamamu itu ada kesibukan, kemudian Abu Habib menuju ke kambingnya dan membiarkan Sufyan Astsaury.

Hikam Ibnu 'Atoillah

223. لاَ تَنْفَعُهُ طَاعَتُكَ وَلاَ تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ، وَإِنَّمَا أَمَرَكَ بِهٰذِهِ وَنَهَاكَ عَنْ هٰذِهِ لِمَا يَعُودُ عَلَيْكَ.

Tidak berguna bagi Allah taatmu dan tidak madharrat (bahaya) pada Allah maksiat (dosa)mu, dan sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat (dosa) itu untuk kepentinganmu sendiri. Allah Tuhan yang maha sempurna, kesempurnaan Allah tidak membutuhkan apa-apa, sedang semua makhluk sebagai hamba Tuhan tetap berhajat kepada Tuhan. Maka karena rahmat Allah untuk kepentingan kemaslahatan hamba, maka mengadakan perintah dan larangan, perintah dan larangan itu sedikitpun tidak berguna atau Dalam Hadits Allah berfirman : Hai hambaKu, andaikan orang yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin semua berbuat setaqwa-taqwa (sebaik-baik) hati seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak menambah kekayaanKu sedikitpun, dan sebaliknya jika semua itu berbuat sejahat-jahat perbuatan seorang di antara kamu, maka yang demikian itu tidak mengurangi kekuasaan kerajaanKu sedikitpun, kecuali sebagai kurangnya air laut jika diambil dengan jarum, hai hambaKu sesungğuhnya amal perbuatanmu Aku catat untukmu kemudian Aku. serahkan kembali kepadamu, maka siapa yang mendapat kebaikan, hendaknya mengucapkan Alhamdulillah, dan siapa yang mendapatkan kejahatan maka jangan menista kecuali dirinya sendiri.

Disalin