Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

022. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia (Allah) lebih dekat kepadamu dari segala sesuatu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

058. مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُودِ الزَّلاَّتِ.

Sebagian daripada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih (susah) karena tertinggalnya suatu amal perbuatan kebaikan, (kewajiban), juga tidak menyesal jika terjadi berbuat suatu pelanggaran dosa.

Dalam suatu hadits Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ.

Siapa yang merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin (beriman). * Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Ketika kami dalam majlis Rasulullah saw. tiba-tiba datang seorang turun dari kendaraannya dan mendekat kepada Nabi saw. dan berkata : Ya Rasulullah, saya telah melelahkan kendaraanku selama sembilan hari, maka saya jalankan terus menerus selama enam hari, tidak tidur diwaktu malam dan puasa pada siang hari, hingga lelah benar kendaraanku ini, keperluannya hanya untuk menanyakan kepadamu dua masalah yang telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur. Lalu ditanya oleh Nabi saw. : Siapakah engkau ? Jawabnya : Zaidul-Khoir. Berkata Nabi : Engkau Zaidul-Khoir, tanyakanlah kemungkinan sesuatu yang sukar itu aku sudah pernah ditanyainya. Berkata Zaid : Saya akan bertanya kepadamu tandanya orang yang disukai oleh Allah dan yang tidak disukai (yang dimurkai)? Jawab Nabi saw : Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu kini hai Zaid Jawab Zaid : Saya kini suka kepada amal kebaikan dan orang-orang yang melakukan amal kebaikan, bahkan suka akan tersebarnya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu pada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin akan pahalanya. Jawab Nabi saw. : Ya itu, yaitulah dia, andaikan Allah tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yang lain dari itu, dan tidak perduli di jurang yang mana engkau akan binasa. Berkata Zaid : Cukup-cukup, lalu ia berangkat kembali di atas kendaraannya itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

286. إِنْ كَانَتْ عَيْنُ الْقَلْبِ تَنْظُرُ أَنَّ اللهَ وَاحِدٌ فِي مِنَّتِهِ، فَالشَّرِيعَةُ تَقْتَضِي أَنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ شُكْرِ خَلِيقَتِهِ.

Jika matahati memandang bahwa Allah itu tunggal dalam segala pemberian kurniaNya, maka syariat menyuruh harus berterima kasih (syukur) pula kepada sesama makhluk.

Firman Allah :

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ (لقمان: ١٤)

Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu. (Luqman 14). Annu'man bin Basyir ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ لَا يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَا يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَا يَشْكُرِ النَّاسَ لَا يَشْكُرِ اللَّهَ.

Siapa yang tidak mensyukuri pemberian yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri yang banyak. Demikian pula siapa yang tidak syukur (terima kasih) kepada sesama manusia, maka berarti tidak bersyukur kepada Allah. Hakikat yang sebenarnya bahwa segala nikmat itu hanya kurnia Allah semata-mata, sedang syariat mengharuskan manusia syukur terima kasih kepada sesama manusia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

062. إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

Sesunggunya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah), hanya semata-mata supaya kau mendekat dan masuk ke hadirat Allah.

Disalin