Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

020. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ.

Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih jelas (tampak) dari segala sesuatu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

067. لِلنُّورِ الْكَشْفُ، وَلِلْبَصِيرَةِ الْحُكْمُ، وَلِلْقَلْبِ الْإِقْبَالُ وَالْإِدْبَارُ.

Nur itulah yang menerangi (membuka) dan bashirah (matahati) itulah yang menentukan hukum, dan hati yang melaksanakan atau meninggalkan Nur itulah yang menerangi baik dan buruk, lalu dengan matahati ditetapkan hukum, dan setelah itu maka hatinya yang melaksanakan atau menggagalkannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

185. رُبَّمَا دَلَّهُمُ الْأَدَبُ عَلَى تَرْكِ الطَّلَبِ اعْتِمَادًا عَلَى قِسْمَتِهِ، وَاشْتِغَالاً بِذِكْرِهِ عَنْ مَسْأَلَتِهِ.

Adakalanya seorang aarif terdorong oleh rasa adab dan menyerah- nya kepada kebijaksanaan Tuhan, ia tidak minta apa-apa kepada Tuhan, karena berserah dan merasa puas dengan bagian pemberian Allah, dan karena sibuk berdzikir sehingga tidak sempat minta-minta.

Abu Hazim Al-A'raj ra. berkata : Jika saya tidak diberi kesempatan berdoa, niscaya lebih berat bagiku daripada tidak diterimanya doaku.

Abul-Qasim Alqusyairy berkata : Waktu itu berbeda-beda, adakalanya lebih utama berdoa dan adakalanya lebih baik diam tiak berdoa. Apabila hati condong kepada doa lebih baik berdoa, dan bila condong kepada diam tidak berdoa, maka lebih baik tidak berdoa. dan adab itu lebih banyak condong kepada rela, puas sehingga tidak berdoa dan cukup memperbanyak dzikrullah.

Disalin