Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

008. إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلاَ تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ، فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلاَّ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ. أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ، وَالْأَعْمَالَ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُورِدُهُ عَلَيْكَ.

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma’rifat (mengenal padaNya), maka jangan menghiraukan soal amal-mu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan bagimu, melainkan la akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma’ rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedang amal per- buatanmu hadiah daripadamu, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu. Ma’rifat (mengenal) kepada Allah, itu adalah puncak keuntungan seorang hamba, maka apabila Tuhan telah membukakan bagimu suatu jalan untuk mengenal kepadaNya, maka tidak usah kau hiraukan berapa banyak amal perbuatanmu meskipun masih sangat sedikit amal kebaikanmu. Sebab ma’rifat itu suatu karunia pemberian langsung dari Allah, maka ia sekali-kali tidak tergantung kepada banyak atau sedikitnya amal kebaikan.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw : Allah berfirman : Apabila Aku menguji hambaKu yang beriman, kemudian ia tidak mengeluh kepada pengunjung-pengunjungnya, maka Aku lepaskan ia dari ikatanKu dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari semula, dan ia boleh memperbaharui amal, sebab yang lalu telah diampuni semua.

Diriwayatkan : Allah telah menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi saw. Aku telah menurunkan bala’ (ujian) kepada seorang hamba maka ia berdoa, dan tetap Aku tunda permintaannya, akhirnya ia mengelu, maka Aku berkata kepadanya : Hambaku bagaimana aku akan melepas- kan daripadamu rahmat yang justru bala’ itu mengandung rahmatku. Karena dengan segala kelakuan kebaikanmu engkau tak dapat sampai ke tingkat yang akan Aku berikan kepadamu, maka dengan balä’ itulah engkau dapat mencapai tingkat dan kedudukan di sisi Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

094. مَتَى فَتَحَ لَكَ بَابَ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ عَادَ الْمَنْعُ عَيْنَ الْعَطَاءِ.

Apabila Allah membukakan bagimu pengertian (faham) tentang penolakanNya, maka berubahlah penolakan itu berarti (menjadi) pemberian. bijaksanaanNya dalam apa yang dijauhkannya daripadamu, maka itu berarti suatu kurnia Tuhan kepadamu, sehingga terasa olehmu keselamatanmu dunia dan akheratmu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

176. وَمَنْ أَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَيْهِ شَيْئًا.

Dan siapa yang cinta pada Allah, tidak akan mengutamakan sesuatu yang lainnya.

Demikianlah siapa yang benar-benar mengenal kepada Allah, pasti ia selalu ingat pada Allah, pada tiap sesuatu apapun yang ia lihat, ia dengar dan rasa. Sebab tidak ada sesuatu melainkan menunjukkan keindahan, kekuasaan dan buatan Allah. Karena itulah siapa yang telah fana dengan Allah, sudah sungguh-sungguh ingatnya hanya kepada Allah, maka segala sesuatu yang ada di depannya seolah-olah sepi kosong dan bayangan belaka. Sedang siapa yang betul-betul cinta kepada Allah, maka pasti ia tidak akan mengutamakan sesuatu apapun selain Allah yang telah dicintainya itu, bahkan ia akan sanggup mengurbankan segala kepentingan dan hawa nafsunya di dalam mencapai keridhaan Allah swt. Sebab hakikat dari semua panca indera, penglihatan pendengaran dan perasaan itu semua bukan semata-mata karena adanya mata, telinga dan lidah atau hidung, tetapi semua membutuhkan nur ilahi yang langsung dari Allah, sehingga terangnya mata tanpa terangnya benda yang akan dilihat, tidak memungkinkan terlihat benda itu, maka dari kedua-duanya tetap mem- butuhkan nur ilahi yang langsung untuk panca indera dalam mencapai sesuatu apapun. Maka dengan pandangan yang sedemikian orang aarif selalu melihat pada Allah pada tiap apa saja yang dipandangnya. Yang setelah melihatnya fana dengan Allah dan lupa (ghaib) dari segala sesuatu selain Allah, kemudian cinta yang tidak ada taranya kepada Allah.

Disalin