Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

003. سَوَابِقُ الْهِمَمِ لاَ تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ.

Kekerasan semangat/perjuangan itu, tidak dapat menembus tirai takdir, kekeramatan atau kejadian-kejadian yang luar biasa dari seorang wali itu, tidak dapat menembus keluar dari takdir, maka segala apa yang terjadi semata-mata dengan takdir Allah.

Firman Allah :

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: ٢٩)

“Dan tiadalah kamu berkehendak, kecuali apa yang di kehendaki Allah Tuhan yang mengatur seisi alam”.

(S. Kuwwirot 29).

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا ( الإنسان: ٣)

iDan tiada kamu menghendaki kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Sungguh Allah Maha mengetahui lagi bijaksana”.

(S. Al-Insan 30).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

243. الْعِلْمُ النَّافِعُ هُوَ الَّذِي يَنْبَسِطُ فِي الصَّدْرِ شُعَاعُهُ، وَيَنْكَشِفُ بِهِ عَنِ الْقَلْبِ قِنَاعُهُ.

Ilmu yang berguna ialah yang meluas dalam dada sinar cahayanya, dan membuka penutup hati.

Ilmu yang berguna (bermanfaat) itu ialah mengenal zat Allah dan sifat serta asma (nama) dan perbutan Allah. Juga mengerti bagaimana mengabdi diri kepada Allah serta beradab kepadaNya. Nabi Dawud as. berkata : Ilmu di dalam dada bagaikan lampu dalam rumah. Imam Malik bin Anas ra. berkata : Bukan yang bernama ilmu itu kepandaian atau banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu hanya nur yang diturunkan Allah dalam hati manusia. Dan bergunanya ilmu itu untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.

Al-Junaid berkata : Ilmu itu ialah mengenal Tuhanmu dan tidak melampaui kedudukan dirimu (yakni menyadari kehambaanmu).

Hikam Ibnu 'Atoillah

287. وَأَنَّ النَّاسَ فِي ذٰلِكَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: غَافِلٌ مُنْهَمِكٌ فِي غَفْلَتِهِ، قَوِيَتْ دَائِرَةُ حِسِّهِ وَانْطَمَسَتْ حَضْرَةُ قُدْسِهِ، فَنَظَرَ الْإِحْسَانَ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ، وَلَمْ يَشْهَدْهُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِمَّا اعْتِقَادًا فَشِرْكُهُ جَلِيٌّ، وَإِمَّا اسْتِنَادًا فَشِرْكُهُ خَفِيٌّ.

Dan manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Tuhan terbagi tiga : 1. Orang yang lalai terhadap Tuhan dan sangat memuncak kelalaiannya. Orang ini sangat kuat jiwa materialnya, sangat terpengaruh oleh panca inderanya, hingga padam sama sekali jiwa rohaninya (kesucian jiwanya), maka ia melihat bantuan/kebaikan itu hanya semata-mata dari sesama makhluk, dan sama sekali tidak melihat dari Allah Tuhan Rabbul-alamiin. Jika yang demikian ini berupa i tigad keyakinan, maka siriknya jelas, atau sekedar dianggap sebagai sebab yang andaikan tidak ada sebab itu tidak terjadi itu kurnia, maka ini sirik juga tetapisamar.

Mereka itu jika ditanya : Siapakah yang memberi kepadamu? Jawabnya : Allah, tetapi andaikan tidak ada fulan itu tentu tidak ada pemberian atau kurnia ini.

Hikam Ibnu 'Atoillah

039. اهْتَدَى الرَّاحِلُونَ إِلَيْهِ بِأَنْوَارِ التَّوَجُّهِ، وَالْوَاصِلُونَ لَهُمْ أَنْوَارُ الْمُوَاجَهَةِ، فَالْأَوَّلُونَ لِلْأَنْوَارِ وَهٰؤُلاَءِ الْأَنْوَارُ لَهُمْ، لِأَنَّهُ لِلَّهِ لاَ لِشَيْءٍ دُونَهُ، قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.

Orang-orang shalih (yang menuju kepada Allah) telah men- dapatkan hidayat dengan nur (pelita) ibadat yang merupakan amalan untuk tagarrub (mendekat) kepada Allah, sedang orang-orang yang telah sampai, mereka tertarik oleh nur yang langsung dari Tuhan bukan sebagai hasil ibadat, tetapi semata-mata kurnia rahmat Allah. Maka orang-orang shalih menuju ke alam nur, sedangkan yang telah sampai berkecimpungan di dalam nur, sebab orang yang telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain Allah. Sebagai firman Allah :

قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ (الأنعام: ٩١)

Katakanlah : Allah, kemudian biarkan yang lain-lain di dalam kesibukan mereka berkecimpung (bermain-main). Hakikat tauhid itu bila telah tidak melihat pengaruh-pengaruh sesuatu selain Allah, dan inilah yang bernama haqqul-yagin, dan melihat, merasa adanya pengaruh dari suatu selain Allah itu hanya permainan belaka, dan itu bersifat penipuan atau munafik. Katakanlah : Allah, yakni jangan menganggap/melihat ada sesuatu selain Allah yang dapat kau harap, kau takuti atau berkuasa sebab semua harapan kepada sesuatu selain Allah berarti syirik, terang atau samar, besar atau kecil dalam pengertian syirik hampir tiada berbeda.

Disalin