Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

293. وَقَدْ أَوْحَى اللهُ إِلَى دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ: قُلْ لِلصِّدِّيقِينَ بِي فَلْيَفْرَحُوا، وَبِذِكْرِي فَلْيَتَنَعَّمُوا.

Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud katakan kepada orang-orang siddiqin : Dengan Aku mereka hendaknya bersenang gembira, dan dengan berdzikir menyebut namaKu hendaknya mereka merasakan nikmat. Allah teiah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as., supaya menyampaikan firman Allah kepada orang-orang yang benar-benar dalam iman percaya kepada Allah, supaya mereka hanya senang

kepada Allah tidak pada lain-lainnya, dan supaya mereka merasakan nikmat dalam berdzikir kepada Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

108. أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلاً بِالْإِيجَادِ، وَثَانِيًا بِتَوَالِي الْإِمْدَادِ.

Pada pertamanya Allah memberi kepadamu nikmat me- wujudkan (menjadikan), kemudian nikmat yang kedua : Melengkapi kebutuhan-kebutuhan wujudmu yang terus-menerus (yang kedua : Terus menerusnya bantuan Allah kepadamu).

Firman Allah :

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً (لقمان: ٢٠)

Allah menuangkan kepadamu nikmat lahir dan batin yang terang dan yang samar, yang terasa dan yang tidak terasa.

Firman Allah :

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (الحجرات: ٧ - ٨)

Tetapi Allah yang mencintakan kamu kepada iman, dan Allah yang menghias iman itu dalam hatimu, dan Allah yang membencikan kamu kepada kufur (kekafiran) dan pelanggaran dan maksiat dosa. Mereka- lah orang yang dapat petunjuk. Itu semua kurnia dari Allah dan nikmat, dan Allah maha mengetahui lagi bijaksana. (Alhujaraat 8). Dzin-Nun AI-Misri berkata : Siapa yang di dalam tauhid itu merasa seolah-olah sebagai hasil kecerdasannya sendiri, maka tauhid itu tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka, sehingga merasa bahwa tauhidnya itupun karunia dari Allah ta'ala.

Seorang apabila telah merasa asal kejadiannya dari Allah dan kelanjutannyapun dari Allah, merasa bahwa sifat fakirnya itu memang asli pada kejadiannya, dan ia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan yang dihajatkannya pada tiap detik dalam wujudnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

059. لاَ يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عِظَمًا يَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى، فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبَهُ.

Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah. Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertobat dan niat tidak akan mengulanginya untuk selamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosanya itu akan menyebabkan putus rahmat dari Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan yang demikian itu lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusir dengan tangannya, nabi saw. telah bersabdą : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan diampunkan bagi mereka itu.

Nabi saw. bersabda : Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin daripada ujub (merasa sombong karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya. Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah dari sisi Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

026. إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُونَاتِ النَّفْسِ.

Menunda amal perbuatan (kebaikan) karena menantikan kesempatan yang lebih baik, sesuatu tanda kebodohan yang mem- pengaruhi jiwa. Kebodohan itu disebabkan oleh :

1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Allah berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (الأعلى: ١٦ - ١٧)

Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.

2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu, atau kemungkinan ia dilanda oleh ajal (mati) yang telah menantikan masanya.

3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah.

Kata pujangga :

لَا تُؤَجِّلْ إِلَى الْغَدِ مَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ.

Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini.

الْوَقْتُ ثَمِينٌ فَلَا تُضَيِّعْهُ إِلَّا فِي نَفِيسٍ.

Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.

Disalin