Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

098. الْعَطَاءُ مِنَ الْخَلْقِ حِرْمَانٌ، وَالْمَنْعُ مِنَ اللهِ إِحْسَانٌ.

Pemberian dari makhluk itu suatu kerugian, dan penolakan dari Allah itu suatu pemberian dan karunia.

Ali bin Abi Thalib ra, berkata : Jangan merasa adanya yang memberi nikmat kepadamu selain Allah. Dan anggaplah segala nikmat yang engkau terima dari lain Allah itu sebagai kerugian. (yakni di antara engkau dengan Allah tidak ada badan perantara, maka semua nikmat yang engkau terima semata-mata dari Allah, dan bila terjadi engkau merasa menerima nikmat dari sesama manusia, maka itu sebagai kerugian bagimu). Seorang Hakim berkata : Menanggung budi kebaikan manusia itu lebih berat daripada sabar karena kekurangan (ketiadaan). Pemberian dari makhluk, pada umumnya menyebabkan terhijab dari Allah, sehingga tidak ingat pada Allah, dan merasa berhutang budi kepada sesama manusia, dan inilah letak kerugian moril. Sebaliknya penolakan yang menyebabkan ingat kepada Allah itu, berarti suatu karunia nikmat besar dari Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

027. لاَ تَطْلُبْ مِنْهُ أَنْ يُخْرِجَكَ مِنْ حَالَةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فِيمَا سِوَاهَا، فَلَوْ أَرَادَكَ لاَسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْرَاجٍ.

Jangan anda meminta kepada Allah supaya dipindah dari suatu hal kepada yang lain, sebab sekiranya Allah menghendakinya tentu telah memindahmu, tanpa merubah keadaanmu yang lama. Dalam hikayat : Ada seorang shalih biasa bekerja dan beribadat, lalu ia berkata : Andaikan aku bisa mendapatkan untuk tiap hari, dua potong roti, niscaya aku tidak susah bekerja dan melulu beribadat. Tiba- tiba ia tertuduh dan karenanya ia harus masuk penjara, dan dia tiap hari ia menerima dua potong roti, kemudian setelah beberapa lama ia menderita dalam penjara, ia berpikir : Bagaimana sampai terjadi demikian ini ? Tiba-tiba teringat dalam perasaannya : Engkau minta dua potong roti, dan tidak minta selamat maka Kami (Allah) memberi permintaanmu. Setelah itu ia minta ampun dan membaca istighfar, maka ketika itu pula pintu penjara terbuka dan dilepas dari penjara. Sebab Allah menjadikan manusia dengan segala hajat kebutuhan- nya, sehingga tidak usah manusia kuatir atau ragu atau jemu terhadap sesuatu pemberian Allah, meskipun berbentuk penderitaan bala' pada lahirnya, sebab hakikatnya nikmat besar bagi siapa yang mengetahui hakikatnya, sebab tidak ada sesuatu yang tidak terbit dari rahmat Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

258. إِنَّمَا وَسِعَكَ الْكَوْنُ مِنْ حَيْثُ جُسْمَانِيَّتُكَ، وَلَمْ يَسَعْكَ مِنْ حَيْثُ رُوحَانِيَّتُكَ.

Sesungguhnya alam dapat mencukupi engkau hanya dari sudut jasmanimu semata-mata, tetapi tidak memuaskan engkau dalam hal kerohanianmu. Karena badan jasmani sejenis dengan benda-benda alam, maka di situlah letak hajat kebutuhan badan jasmanimu, sebaliknya rohanimu sama sekali tidak sejenis dengan benda-benda alam ini, bahkan jauh berbeda, maka karenanya tidak usah engkau harus menggantungkan. soal dengan kebendaan dan seharusnya hanya berhubungan kepada Tuhan Allah ta'ala. Ahmad bin Khadharawaih ketika ditanya : Amal perbuatan apakah yang utama? Jawabnya : Menjaga hati jangan sampai condong, menoleh/ menghadap pada sesuatu selain Allah ta'ala.

Abu Abdullah Al-Jallaab berkata : Siapakah yang hasrat semangat tujuannya lebıh tinggi dari alam benda, maka ia pasti sampai kepada Allah yang mencipta alam, tetapi siapa yang tujuannya hanya pada sesama makhluk maka tidak mendapat Tuhan, sebab Allah maha mulia untuk dapat menerima persekutuan/dipersekutukan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

055. مَا قَلَّ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ زَاهِدٍ، وَلاَ كَثُرَ عَمَلٌ بَرَزَ مِنْ قَلْبٍ رَاغِبٍ.

Tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas (sepi ing pamrih) dan tidak dapat dianggap banyak amal yang dilakukan oleh seorang yang tidak ikhlas.

Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Tumpahkan semua hasrat keinginanmu itu kepada usaha untuk diterimanya amal perbuatanmu, sebab tidak dapat dianggap kecil/sedikit amal perbuatan yang diterima oleh Allah :

Firman Allah :

اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ المُتَّقِيْنَ.

Sesungguhnya Allah hanya menerima amal perbuatan dari orang yang bertakwa (ikhlas baginya, dan tepat menurut ajarannya).

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Dua rakaat yang dilakukan oleh orang alim yang mengerti dan ikhlas (tidak rakus kepada dunia), lebih baik dari ibadat orang-orang ahli ibadat sepanjang masa. Abu Sulaiman Addarany bertanya kepada Ma'ruf Al-Karkhi : Mengapakah orang-orang itu kuat taat sampai sedemikian rupa banyaknya? Jawabnya : Karena mereka telah membersihkan hati mereka daripada cinta kepada dunia, andaikata masih ada sedikit cinta dunia, tidak akan diterima dari mereka amal perbuatan itu. Seorang shalih mengeluh kepada Abu Abdilah Alqurasyi; bahwa ia telah berbuat berbagai amal kebaikan, tetapi belum bisa merasakan kelezatan amal kebaikan itu dalam hatinya. Jawab Abu Abdullah Alqurasyi : Karena engkau masih memelihara puteri iblis yaitu kesenangan dunia, dan lazimnya ayah itu selalu berziarah kepada puterinya.

Disalin