Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

292. النَّاسُ فِي وُرُودِ الْمِنَنِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: فَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ لاَ مِنْ حَيْثُ مُهْدِيهَا وَمُنْشِئُهَا، وَلٰكِنْ بِوُجُودِ مُتْعَةٍ فِيهَا، فَهٰذَا مِنَ الْغَافِلِينَ يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً. وَمُفْرَحٌ بِالْمِنَنِ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ شَهِدَهَا مِنَّةً مِمَّنْ أَنْشَأَهَا وَنِعْمَةً مِمَّنْ أَوْصَلَهَا، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ. وَمُفْرَحٌ بِاللهِ مَا شَغَلَهُ مِنَ الْمِنَنِ ظَاهِرُ مُتْعَتِهَا وَلاَ بَاطِنُ مِنَّتِهَا، بَلْ شَغَلَهُ النَّظَرُ إِلَى اللهِ عَمَّا سِوَاهُ، وَالْجَمْعُ عَلَيْهِ، فَلاَ يَشْهَدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، يَصْدُقُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ تَعَالَى: قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ.

Manusia di dalam menghadapi nikmat kurnia Allah terbagi tiga : 1. Gembira dengan nikmat itu, bukan karena yang memberikannya, tetapi semata-mata karena kelezatan dan kepuasan hawa nafsu dari nikmat itu, maka ini termasuk orang lalai (ghafil), orang ini sesuai dengan firman Allah : Sehingga bila mereka telah puas gembira dengan apa yang diberikan itu, Kami tangkap mereka dengan tiba-tiba (Kami siksa mereka dengan tiba-tiba). 2. Orang yang gembira dengan nikmat karena ia merasa bahwa itu kuria yang diberikan Allah kepadanya, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, maka dengan itulah mereka harus gembira. yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. 3. Orang yang hanya gembira dengan

Allah, tidak terpengaruh oleh kelezatan lahirnya nikmat, dan tidak karena kurnia Allah, sebab ia sibuk memperhatikan Allah sehingga terhibur dari segala lainNya, maka tidak ada yang terlihat padanya kecuali Allah, ini sesuai dengan firman Allah : Katakanlah : Hanya Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka berkecimpung (main-main).

Asysyibly berkata : Syukur itu jalan melihat pada yang memberi, bukan melihat nikmat pemberiannya.

Abdul Aziz Almahdawy berkata : Siapa yang tidak melihat pemberi nikmat di dalam nikmat itu, maka nikmat itu hanya berupa istidraj (dilulu) dan berubah menjadi bala. Abu Hamid (Muhammad) Alghazzaly membuat contoh : Seorang raja memberi hadiah kuda pada rakyatnya, maka dalam menerima nikmat pemberian hadiah ada tiga macam : 1. Merasa gembira karena ia mendapat sesuatu yang berguna dan berharga, sesuai dengan maksud tujuannya, dan dapat menyampaikan hajat keinginannya. Orang yang sedemikian ini tidak memperhatikan raja sama sekali, pandangannya hanya semata-mata pada kuda, diberi raja atau mendapat di hutan tidak beda baginya. 2. Orang yang gembira bukan karena kudanya, tetapi karena merasa diberi, diingati, dikasihi oleh raja, orang ini dapat membedakan antara pemberian raja dengan jika ia mendapat di hutan. 3. Orang yang merasa gembira karena dengan pemberian itu, ia dapat menggunakan untuk lebih mendekat kepada raja, sehingga dapat lebih meningkatkan kedudukannya di sisi raja.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

014. الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الحَقِّ فِيهِ، فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ، فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُودُ الْأَنْوَارِ، وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ.

Alam itu kesemuanya berupa kegelapan, sedang yang meneranginya, hanya karena tampaknya haq (Allah) padanya, maka siapa yang melihat alam kemudian tidak melihat Allah di dalamnya, atau padanya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka benar-benar ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup baginya surya (nur) ma'rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam ini. Alam semesta yang mulanya tidak ada (Adam) memang gelap, sedang yang mendhahirkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu siapa yang melihat sesuatu benda alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang kuat, lalu ia mengira tidak ada bola yang menimbulkan cahaya itu. Maka semua seisi alam ini bagaikan sinar sedang yang hakiki (sebenarnya) terlihat itu semata-mata kekuasaan zat Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.

Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

164. نُورٌ يُكْشَفُ لَكَ بِهِ عَنْ آثَارِهِ، وَنُورٌ يُكْشَفُ لَكَ بِهِ عَنْ أَوْصَافِهِ.

Nur cahaya yang dicapai dengan panca indera menerangkan bagimu bekas-bekas buatan Allah yang berupa benda, sebaliknya nur iman keyakinan dapat menunjukkan kamu hakikat sifat-sifat Allah. Dengan nur cahaya matahari engkau melihat benda-benda alam, tetapi dengan nur iman keyakinan engkau dapat langsung melihat kepada Allah yang menjadikan benda alam.

Disalin