Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

255. لَيْسَ الْمُحِبُّ الَّذِي يَرْجُو مِنْ مَحْبُوبِهِ عِوَضًا أَوْ يَطْلُبُ مِنْهُ غَرَضًا، فَإِنَّ الْمُحِبَّ مَنْ يَبْذُلُ لَكَ، لَيْسَ الْمُحِبُّ مَنْ تَبْذُلُ لَهُ.

Bukan seorang yang mencintai itu yang meminta apa-apa dari yang dicintai, tetapi sesungguhnya seorang yang cinta kasih itu, ialah yang berkorban untukmu, bukan yang engkau memberi apa-apa padanya.

Abu Abdullah Alqurasyi berkata : Hakikat kasih/cinta itu, bila engkau telah dapat memberikan keseluruhanmu kepada yang engkau cinta, sehingga tidak ada sisa apa-apa bagimu. Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Isa as. : Apabila Aku melihat hati hambaKu, tidak ada padanya cinta dunia dan akhirat, niscaya Aku penuhi hati itu dengan cinta kepadaKu.

Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud, sungguh Aku telah mengharamkan cintaKu untuk masuk ke dalam hati di mana dalam hati itu ada cinta kepada lainKu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

082. مَنْ وَجَدَ ثَمَرَةَ عَمَلِهِ عَاجِلاً فَهُوَ دَلِيلٌ عَلَى وُجُودِ الْقَبُولِ آجِلاً.

Siapa yang dapat merasakan buah dari amal ibadatnya di dunia ini, maka itu dapat dijadikan tanda diterimanya amal itu oleh Allah kelak. Buah dari amal ibadat di dunia ini ialah merasakan lezat manisnya amal itu, sehingga terasa sebagai nikmat yang tidak ada bandingnya.

Atabah Al-Ghulam berkata : Saya melatih diri sembahyang malam dua puluh tahun, setelah itu baru saya merasakan nikmat bangun malam,

Tsabit Al-Bunany ra. berkata : Saya melatih membaca Qur'an dua puluh tahun setelah itu baru saya merasakan nikmat membaca Qur'an.

Abu Turaab berkata : Jika seorang bersungguh-sungguh dalam niat amalnya, dapat merasakan nikmat amal itu sebelum mengerjakan- nya, dan apabila ikhlas dalam melakukannya merasakan manisnya amal ketika melakukannya, dan amal yang sedemikian sifatnya, itulah amal yang diterima dengan kurnia Allah. Al-Hasan berkata : Carilah manisnya amal itu pada tiga, maka bila kamu telah mendapatkannya bergembiralah dan teruskan mencapai tujuanmu, apabila belum kamu dapatnya ketahuilah bahwa pintu masih tertutup yaitu ketika membaca Qur'an, dan berzikir, dan ketika sujud. Adapula yang menerangkan : dan ketika bersedekah dan ketika bangun malam. Sejak kapankah kau merasa telah mengenal Allah ? yaitu ketika saya tiap akan berbuat pelanggaran terhadap ajaranNya merasa malu daripadaNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

125. إِنَّمَا يَسْتَوْحِشُ الْعُبَّادُ وَالزُّهَّادُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ لِغَيْبَتِهِمْ عَنِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، فَلَوْ شَهِدُوهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ لَمْ يَسْتَوْحِشُوا مِنْ شَيْءٍ.

Sesungguhnya yang menyebabkan kerisauan hatı (perasaan) orang-orang ahli ibadat dan zahid dari segala sesuatu itu, disebabkan karena mereka masih terhijab/tidak melihat Allah dalam apa yang mereka lihat itu, tetapi andaikan mereka telah melihat Allah dalam

tiap sesuatu, pasti tidak akan risau dari (terhadap) segala sesuatu. Ahli ibadat ialah mereka yang bertagarrub (mendekat) kepada Allah dengan berbagai amal ibadat. Sedang orang zahid ialah orang yang ber- tagarrub kepada Allah dengan jalan tawakkal (menyerah). Kedua-dua golongan ini selalu ingin menjauh dari sesama makhluk, disebabkan mereka merasa bahwa makhluk itu hanya sebagai perintang dan merepot- kan mereka, sehingga tidak dapat khusu' tetap tagarrun kepada Allah. Tetapi sekiranya mereka lebih mendalam ma'rifat terhadap Allah, tentu mereka tiak dapat terhalang oleh sesuatu apapun, sebab Allah berada pada segala sesuatu, maka tidak ada sesuatu yang melupakan dari Allah, bahkan sebaliknya mengingatkan kebesaran kekuasaan Allah ta'ala.

Hikam Ibnu 'Atoillah

240. إِنْ رَغَّبَتْكَ الْبِدَايَاتُ زَهَّدَتْكَ النِّهَايَاتُ، إِنْ دَعَاكَ إِلَيْهَا ظَاهِرٌ نَهَاكَ عَنْهَا بَاطِنٌ.

Jika engkau tertarik oleh permulaannya, pandangan luarnya (lahir), maka akan menjemukan engkau pada akhirnya jika engkau terpengaruh oleh pandangan lahir, maka akan dilarang oleh hakekat batinnya (akan dicegah oleh hakikat batinnya). Memang kedudukan itu pada lahirnya menarik tetapi pada hakikatnya amanat yang berat jarang orang yang selamat dari bahaya firnahnya.

Firman Allah :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (الحديد: ٢٠)

Ketahuilah bahwa penghidupan dunia, hanya main-main, dan hiburan dan perhiasan, dan bangga-banggaan di antara kamu dan berlomba memperbanyak harta dan anak buah. Bagaikan air hujan yang mengagumkan petani hasil tanamannya, kemudian berubah menjadi kering, maka terlihat menguning warnanya, kemudian menjadi sampah (bahan bakar), sedang di akherat tersedia siksa yang berat, disamping ada pula peng- ampunan Allah dan keridhaanNya. Dan tiadalah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu. (Alhadid 20).

Rasulullah saw. bersabda :

حُبُّ الدُّنْيَا رَأْسُ كُلِّ خَطِيئَةٍ.

Cinta pada dunia itu pokok dari segala dosa.

Disalin