Allah telah mengetahui bahwa engkau tidak dapat menerima nasehat yang hanya berupa teori (kata-kata), karena itu Allah merasakan kepadamu rasa pahitnya, untuk memudahkan bagimu cara meninggalkannya. Sebab manusia bila menderita ujian-ujian Allah yang berupa bala’, maka ia tidak senang dunia, lalu ingin mati, ingin berpisah dari dunia yang fana ini. Bala’ yang biasa diujikan Allah ialah kemiskinan, penyakit, kelaparan, ketakutan, kehilangan harta, kematian dan lain-lainnya yang menimbulkan kecemasan manusia dan tiada ketenangan hidup.
077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.
Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.
Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta'ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.
158. مَتَى كُنْتَ إِذَا أُعْطِيتَ بَسَطَكَ الْعَطَاءُ، وَإِذَا مُنِعْتَ قَبَضَكَ الْمَنْعُ، فَاسْتَدِلَّ بِذٰلِكَ عَلَى ثُبُوتِ طُفُولِيَّتِكَ، وَعَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُودِيَّتِكَ.
Apabila engkau ketika diberi merasa gembira karena pemberian, dan jika ditolak merasa sedih karena penolakan, maka ketahuilah yang demikian itu sebagai tanda masih adanya sifat-sifat kekanak-kanakan padamu, dan belum bersungguh-sungguh dalam sifat kehambaanmu kepada Allah. Selama engkau masih selalu berubah-ubah suasana hatimu ketika menerima nikmat atau ujian bala', maka nyata bahwa masih dipengaruhi oleh hawa nafsu, dan belum sungguh-sungguh dalam rahmat Allah terhadap sekalian makhluknya.
Apabila engkau ketika diberi merasa gembira karena pemberian, dan jika ditolak merasa sedih karena penolakan, maka ketahuilah yang demikian itu sebagai tanda masih adanya sifat-sifat kekanak-kanakan padamu, dan belum bersungguh-sungguh dalam sifat kehambaanmu kepada Allah. Selama engkau masih selalu berubah-ubah suasana hatimu ketika menerima nikmat atau ujian bala', maka nyata bahwa masih dipengaruhi oleh hawa nafsu, dan belum sungguh-sungguh dalam rahmat Allah terhadap sekalian makhluknya.
189. الْفَاقَاتُ بُسُطُ الْمَوَاهِبِ.
Berbagai macam ujian bala' (serta kekurangan) itu, bagaikan hamparan untuk hidangan pemberian-pemberian kurnia Allah. • Apabila Allah akan memberi kurnia besar kepada seorang hamba- Nya, tetapi ternyata dari amal ibadah lahirnya, tidak mencukupi untuk menerima pemberian itu, maka Allah menguji padanya dengan bala', dan di situlah tertebusnya berbagai dosa, kemudian dinaikkan ke tingkat yang telah disediakanNya itu.
Berbagai macam ujian bala' (serta kekurangan) itu, bagaikan hamparan untuk hidangan pemberian-pemberian kurnia Allah. • Apabila Allah akan memberi kurnia besar kepada seorang hamba- Nya, tetapi ternyata dari amal ibadah lahirnya, tidak mencukupi untuk menerima pemberian itu, maka Allah menguji padanya dengan bala', dan di situlah tertebusnya berbagai dosa, kemudian dinaikkan ke tingkat yang telah disediakanNya itu.