Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

194. مَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِهِ أَصْمَتَتْهُ الْإِسَاءَةُ، وَمَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِ اللهِ إِلَيْهِ لَمْ يَصْمُتْ إِذَا أَسَاءَ.

Siapa yang mengajar karena memandang kebaikan dirinya, maka ia akan diam jika ia berbuat salah (dosa) dan siapa yang mengajar dengan pengertian kebaikan Allah baginya (padanya) maka ia tidak akan diambila ia berbuat salah (dosa). Siapa yang memberi nasehat tentang kebaikan dengan pengertian karena ia merasa sudah baik, maka bila sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa, maka akan merasa malu untuk memberi nasehat atau mengajar orang lain, tetapi bila ia ketika mengajar itu pandangannya semata-mata kurnia rahmat dari Allah kepada makhluknya, maka tidak akan merasa malu kalau pada sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa dan kesalahan, sebab merasa berbuat kebaikan itu hanya semata-mata kurnia rahmat Allah.

Abul-Abbas Almarsi ra. berkata : Manusia terbagi tiga : Pertama ialah golongan yang selalu memperhatikan apa-apa yang dari padanya kepada Allah, kedua : Golongan yang selalu hanya ingat pemberian- pemberian kurnia Allah pada dirinya. Dan ketiga : Golongan yang hanya memandang bahwa semua dari Allah kembali kepada Allah. Golongan pertama : Scialu memikirkan kekurangan diri dalam menunaikan kewajiban, sehingga selalu berdukacita. Dan golongan kedua : Selalu melihat semua itu adalah kurnia Allah, maka ia selalu gembira. Dan golongan ketiga : Telah lupa pada dirinya sendiri, hanya teringat bahwa asal dari Allah akan kembali kepada Allah, maka terserah kepada Allah.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Pada suatu malam saya membaca surat Qul-a’udzu birabbinnas, hingga akhir surat. Tiba-tiba terasa bagiku bahwa : Syarrul was waasil khannaas, yang berbisik dalam hati itu, ialah yang menyusup antara kau dengan Allah, untuk melupakan engkau dari kurnia-kurnia Allah, yang halus-halus dan samar, dan mengingatkan engkau kepada perbuatan-perbuatanmu yang jahat/dosa.

Tujuannya untuk membelokkan engkau dari husnudhdhan kepada su’udhdhan terhadap Allah ta’ala, maka waspadalah. Abul-Hasan Assyadily ra. berkata : Seorang aarif itu ialah seorang yang telah mengetahui rahasia-ralasia kurnia Allah di dalam berbagai macam ujian bala’ yang menimpa sehari-hari. Dan juga mengetahui/mengakui kesalahan-kesalahannya di dalam lingkungan belas kasih Allah kepada- nya. Ia berkata pula : Sedikitnya amal dergan mengakui kurnia Allah, lebih baik dari banyak amal dengan merasa kekurangan diri sendiri. Yakni seolah-olah mempunyai kekuatan sendiri untuk bikin baik, hanya sekarang belum baik, sehingga selalu berduka-cita memikirkan bagaimana dapatnya lebih baik, padahal ia harus menyerah di samping minta saja kepada Allah, sebab jika Allah belum memberi maka tetap tidak ada perubahan pada dirinya berdasarkan pengertian.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (الطلاق: ٣)

Dan siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah sendiri yang akan mencukupi/melengkapi kekurangannya. Dan : Tiada daya upaya atau kekuatan kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah semata-mata.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

104. إِنَّمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ لِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيهِ.

Sesungguhnya sebab terasa pedihnya penolakan Allah dalam penolakan (tidak memberi harapanmu) itu. Tiada sempurna iman keyakinan seorang terhadap Allah sebelum ia memiliki dua sifat : 1. Percaya penuh kepada Allah, yakni menyandar dan berharap hanya kepada Allah. 2. Dan syukur (terima kasih) kepada Allah karena dihindarkan dari padanya apa yang diujikan kepada lain- lain orang yaitu yang berupa kekayaan dunia. Juga tidak sempurna iman keyakinan hamba sebelum ia mengerti bahwa pemberian Allah sesuatu yang manfaat, dan penolakan Allah itu karena madharrat bahaya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

121. لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيصُهُ كَمُلَ تَخْلِيصُهُ.

Bukan semua orang yang telah tampak terang kekeramatannya itu berarti telah sempurna pembersihannya (dari penyakit-penyakit hawa nafsu) atau penyaringannya (yakni dalam kalangan/golongan para wali). Kekeramatan yang diberi Allah kepara para wali, tujuannya untuk memperkenalkan dengan kenyataan bukti, bahwa kekuasaan Allah tidak tergantung (terikat) kepada sebab dan kebiasaan, bahkan sebab kebiasaan itu sering menghijab manusia dari qudrat kekuasaan Allah, sebagai awan yang menutup sinar matahari keesaan Allah. Maka yang silau oleh kekeramatan itu terhina, tetapi yang tetap menembus awan itu kepada kekuasaan Allah, sehingga tetap hubungannya tidak terputus. Seorang sahabat Sahel bin Abdullah berkata : Adakalanya jika saya wudhu' tiba-tiba air itu mengalir di tangan saya berupa lantakan emas dan perak. Jawab Sahel : Apakah engkau tidak mengerti bahwa anak kecil jika menangis dihibur dengan boneka supaya diam.

Abu Nahser Assarraj berkata : Saya bertanya kepada Al-Hasan bin Salim : Apakah arti kekeramatan, sedang mereka telah dimuliakan oleh Allah sehingga sanggup mengabaikan dunia dan meninggalkannya

dengan suka rela, tetapi bagaimana lalu diberi kemuliaan (keramat) batu berubah menjadi emas, apakah artinya itu ? Jawabnya : Bukannya Allah memberikan karena kotornya, tetapi diberi itu untuk dijadikan hujjah menekan bisikan nafsu (hawa nafsu) yang selalu goncang kuatir tidak dapat rizqi, sehingga oleh Allah diperlihatkan yang demikian, sehingga dapat berkata : Bahwa Tuhan yang dapat merubah batu menjadi emas, dapat mendatangkan rizqi dan memberi dari jalan yang tidak disangka. Ishaq bin Ahmad berkata kepada Sahel : Nafsuku ini selalu merasa kuatir tidak dapat makan. Maka berkata Sahel : Engkau ambil batu itu dan minta kepada Allah supaya dijadikan makan untuk engkau makan. Ishaq bertanya : Jika berbuat demikian, maka siapa pimpinan (tauladanku) dalam berbuat demikian ? Jawab Sahel : Bertauladanlah kepada Nabi Ibrahim ketika berkata : Hai Tuhan tunjukkan perlihatkan kepadaku bagaimana caranya Engkau meng-hidupkan sesuatu yang telah mati, supaya tenteram hatiku (nafsuku) sebenarnya aku telah percaya etapi nafsu ini tidak puas, kecuali jika telah melihat dengan mata kepala.

Hikam Ibnu 'Atoillah

097. الطَّيُّ الْحَقِيقِيُّ أَنْ تُطْوَى مَسَافَةُ الدُّنْيَا عَنْكَ حَتَّى تَرَى الْآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْكَ.

Singkatnya jalan yang sesungguhnya, ialah jika terlipat untukmu jarak-jarak dunia ini, sehingga engkau dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada dirimu sendiri. Ath-thayyu : Terlipatnya bumi, sehingga jarak yang sejauh- jauhnya dapat ditempuh dengan satu langkah sudah sampai. Ath-thayyu, juga berarti menghabiskan masa siang malam dengan sembahyang dan puasa semata-mata. Dalam lain keterangan Ibn Atha Allah berkata : Andaikan nur keyakinan itu telah terbit terang dalam hatimu, pasti engkau akan dapat melihat akherat itu lebih dekat kepadamu daripada engkau akan pergi ke sana, dan pasti dapat melihat segala keindahan dunia ini diliputi oleh suramnya kerusakan/kehancuran yang bakal menimpa kepadanya.

Disalin