Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

190. إِنْ أَرَدْتَ وُرُودَ الْمَوَاهِبِ عَلَيْكَ فَصَحِّحِ الْفَقْرَ وَالْفَاقَةَ لَدَيْكَ، إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ.

Jika engkau ingin datangnya pemberian-pemberian kurnia besar dari Allah kepadamu, maka bersungguh-sungguhlah dalam mengakui (membuktikan) kehambaanmu yaitu kemiskinan kebutuhan, kerendahanmu dihadapanNya.

Firman Allah : Sesungguhnya yang berhak menerima pemberian- pemberian (sedekah) itu, hanyalah mereka yang betul-betul fakir miskin.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

184. إِلَى الْمَشِيئَةِ يَسْتَنِدُ كُلُّ شَيْءٍ، وَلاَ تَسْتَنِدُ هِيَ إِلَى شَيْءٍ.

Langsung kepada kehendak Allah harus bersandar segala sesuatu, (yaktni tidak boleh terjadi sesuatu apapun tanpa kehendak Allah). Sedang kehendak Allah tidak bersandar kepada sesuatu apapun.

Firman Allah :

وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ (النور: ٤٠)

iDan siapa yang tidak diberi nur oleh Allah, maka ia tidak mempunyai nur".

Firman Allah :

يُضِلُّ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَشَآءُ.

iAllah menyesatkan siapa yang dikehendaki, dan memberi hidayat/petunjuk siapa yang dikehendaki'. Allah memilih sendiri dengan ilmu dan kebijaksanannya. manusia tidak berhak bertanya mengapakah atau bagaimanakah ? terhadap kebijaksanaan Allah :

لَاَ يُسْئَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْتَلُوْنَ.

Allah tidak dapat ditanya tentang apa yang dijadikan (dibuat) dan semua makhluk akan ditanya tentang amal perbuatan mereka.

Hikam Ibnu 'Atoillah

032. لاَ تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هٰذِهِ الدَّارِ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلاَّ مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا.

Jangan heran atas terjadinya kesukaran-kesukaran selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak atau asli menjadi sifatnya.

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Dunia adalah kerisauan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya berarti laba dan keuntungannya. Ja'far Asshaddiq ra. : Siapa yang meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh Allah, berarti melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya : Apakah itu ? Jawabnya : Kesenangan di dunia.

Junaid Al-Bagh-dady ra. berkata : Aku tidak merasa keji terhadap apa yang menimpa pada diriku, sebab saya telah berpendirian bahwa dunia ini tempat kerisauan dan ujian, dan alam ini diliputi-oleh bencana, maka sudah selayaknya ia menyambut saya dengan segala kesukaran, kerisauan, maka apabila ia menyambut aku dengan kesenangan maka itu berarti suatu kurnia dan kelebihan.

Rasulullah saw. berkata kepada Abdullah bin Abbas : Jika engkau dapat beramal karena Allah dengan rela dan keyakinan, maka laksana- kanlah, dan jika tidak dapat, maka bersabarlah. Maka sesungguhnya sabar menghadapi kesukaran itu suatu keuntungan yang besar.

Umar bin Khoththob ra. berkata kepada seorang yang dinasehati- nya : Jika engkau sabar, maka hukum Allah tetap berjalan dan engkau mendapat pahala, dan apabila engkau tidak sabar tetap berlaku ketentuan Allah sedang engkau berdosa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

230. كَيْفَ يَحْتَجِبُ الْحَقُّ بِشَيْءٍ، وَالَّذِي يَحْتَجِبُ بِهِ هُوَ فِيهِ ظَاهِرٌ وَمَوْجُودٌ حَاضِرٌ.

Bagaimanakah Allah akan dapat terhijab dengan sesuatu, padahal yang digunakan hijab itu, juga Allah jelas ada padanya, dan tetap hadir. Bagaimanakah Allah akan terhijab dengan sesuatu, padahal sesuatu yang terlihat itu semata-mata nur Ilahi, dan pada segala tempat Allah berada dan hadir, tidak pernah ghaib. Karena itu disebut dalam hadits qudsy : Hijab Allah ialah nur yang apabila dibuka niscaya dapat membakar apa saja yang diperlihatkannya, jangankan manusia akan dapat bertahan sedang bukit hancur, dan Nabi Musa aya Nabi mka pingsan sebelum melihat langsung. Demikianlah rahmat Allah menjaga hamba-hamba-Nya.

Disalin