Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

179. لاَ يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَبُّبًا إِلَى الْعَطَاءِ مِنْهُ، فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ، وَلْيَكُنْ طَلَبُكَ لِإِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ وَقِيَامًا بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Jangan sampai doa permintaanmu kej da Allah itu engkau jadikan sebagai alat (sebab) untuk mencapai pemberian Allah, niscaya akan kurang pengertianmu (ma’rifatmu) kepada Allah, tetapi hendak- nya doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kerendahan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan kebesaran dan kekayaan Tuhanmu.

Abu Nasher Assarraj berkata : Saya telah bertanya kepada guru- guru tentang apakah kepentingan doa bagi orang yang telah menyerah bulat kepada Allah ? Jawabnya : Berdoa itu ada dua tujuan : Pertama : Untuk menghias lahir kita dengan doa, sebab doa itu salah satu bagian daripada khidmat kepada Allah, maka ia ingin berbuat demikian.

Kedua : Berdoa semata-mata karena menurut perintah Allah. Sebab faidahnya doa itu untuk menunjukkan/memperlihatkan adanya hajat kebutuhan dan kemiskinan diri di hadapan Allah.

Abul-Hasan berkata : Janganlah yang menjadi tujuan dari doamu itu tercapainya hajat kebutuhanmu, maka jika demikian berarti terhijab engkau dari Allah, tetapi harus tujuan doa untuk bermunajat berbisik-bisik kepada (dengan) Allah yang memeliharamu, mencipta- kan dirimu. Dan balak bencana yang memaksakan engkau berdoa kepada Allah itu, lebih baik daripada menerima nikmat, kesenangan yang melupakan kepada Allah dan menjauhkan daripadanya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

226. قُرْبُكَ مِنْهُ أَنْ تَكُونَ مُشَاهِدًا لِقُرْبِهِ، وَإِلاَّ فَمِنْ أَيْنَ أَنْتَ وَوُجُودُ قُرْبِهِ.

Dekatmu kepada Allah itu sekira kau selalu seolah-olah melihat dan memperhatikan dekatnya Allah kepadamu, kalau tidak demikian, maka darimanakah engkau itu dengan dekatnya Allah.

Firman Allah :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ (البقرة: ١٨٦)

Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguh- nya : Aku dekat.

Firman Allah :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا تُبْصِرُونَ (الواقعة: ٨٥)

Dan Kami (Allah) lebih dekat kepada orang yang akan mati itu daripada kamu, tetapi kamu tidak dapat melihat.

Firman Allah :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (ق: ١٦)

Dan Kami (Allah) lebih dekat kepada manusia dari urat nadinya (urat lehernya). Maka hakikat dekatmu kepada Allah jika engkau selalu ingat seolah- olah melihat dekatnya Allah kepadamu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

033. مَا تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ، وَلاَ تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ.

Tidak akan terhenti (macet) suatu permintaan yang semata-mata engkau minta (engkau sandarkan) kepada kurnia (kekuasaan) Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan (pengharapan) yang engkau sandar- kan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

173. غَيِّبْ نَظَرَ الْخَلْقِ إِلَيْكَ بِنَظَرِ اللهِ إِلَيْكَ، وَغِبْ عَنْ إِقْبَالِهِمْ عَلَيْكَ بِشُهُودِ إِقْبَالِهِ عَلَيْكَ.

Hilangkan pandangan makhluk kepadamu karena puas dengan penglihatan Allah kepadamu, dan lupakan perhatian (menghadapnya) makhluk kepadamu, karena melihat bahwa Allah menghadap kepadamu.

Sahl bin Abdullah Attustary berkata kepada kawan-kawannya : seorang tidak dapat mencapai hakikat kewalian sehingga menghilangkan pandangan orang dari fikirannya, sehigga tidak melihat apa-apa di dunia, hanya ia dengan Tuhan yang menjadikannya, sebab tidak ada seorangpun yang dapat menguntungkan atau merugikan. Atau menghilangkan perasaan diri (hawa nafsunya) sehingga tidak menghiraukan orang, dan tidak segan atau takut kepada mereka, apa saja yang akan terjadi. Mengharap kepuasan dari semua manusia itu suatu tujuan yang tidak mungkin tercapai, dan sebodoh-bodoh manusia siapa yang berusaha untuk mendapatkan apa yang tidak mungkin tercapai. Lukman Alhakiem ketika memberi nasehat kepada putranya, diajak masuk ke pasar dengan berkendaraan himar ia yang berkendaraan dan

anaknya yang menuntun. Orang mencela : Orang tua kejam, dia berkendaraan dan anaknya disuruh berjalan. Kemudian ia suruh anaknya naik tiba-tiba orang mencela : Dua orang naik satu himar. Lalu turun Lukman, dan anaknya tetap di atas, tiba-tiba ada orang mencela : Anak kurang ajar, bapak dijadikan buruh menuntun. Kemudian turun keduanya menuntun himar, tiba-tiba orang mencela. Bodoh benar himar tidak dinaiki hanya dituntun semata-mata. Tujuan Lukman ontuk menunjukkan kepada putranya bahwa orang yang beramal atau mengambil-ambil hati orang tidak selamat dari celaan mereka. Karena itu seorang yang sempurna akal fikiran di dalam beramal hanya menuju kepada hak, benar dan diridhai Allah, hanya itu saja yang dikerjakan.

Muhammad bin Aslam ra. berkata : Ada kepentingan apakah saya pada manusia padahal sejak saya dalam punggung Ayah seorang diri, lalu di dalam perut ibu juga seorang diri dan keluar di dunia juga seorang diri, (yakni tidak melalui bantuan manusia) hingga mati dan masuk ke kubur juga seorang diri, dan menghadapi persoalan alam kubur sampai kemudian menghadap kepada Allah, dan masuk surga atau neraka juga seorang diri, maka apakah kebutuhan saya dengan manusia ? Al-Harits Almuhasiby ra. ketika ditanya tentang tanda orang yang sungguh-sungguh ikhlas yaitu yang tidak hirau (menghiraukan) dinilai apa saja oleh sesama manusia, asalkan ia sudah benar hubungannya dengan Allah dan tidak ada orang yang mengetahui walau sekecil debu dari amal kebaikannya, dan tidak takut jika ada orang mengetahui amal perbuatannya yang tidak baik. Sebab jika ia merasa enggan untuk diketahui orang kebusukannya, berarti ia ingin dipuji atau besar dalam pandangan orang, dan itu tidak termasuk kelakuan atau akhlak orang yang benar-benar ikhlas.

Disalin